
Saat ini hari menunjukkan sudah sore hari. Pohon-pohon berubah warna saat tertimpa cahaya matahari yang kemarahan. Suara burung-burung terdengar bising di sana-sini. Suasana di dekat Perguruan Rajawali Putih masih ramai seperti biasanya.
Di mana para murid akan berlatih untuk yang terkahir di hari itu. Kakek Rajawali memang menerapkan peraturan bahwa semua murid perguruannya harus latihan tiga kali dalam sehari. Saat ini semua murid sedang dilatih oleh murid inti dari Kakek Rajawali.
Sedangkan kakek tua itu duduk di belakang seperti biasanya sambil menikmati keindahan alam Gunung Kapol. Sebenarnya Kakek Rajawali masih memikirkan perkataan Cakra Buana kemarin di saat pemuda serba putih itu berkata bahwa dalam perguruan mereka ada penyusup.
"Apakah yang pemuda itu katakan benar? Hemm, aku sendiri masih ragu untuk menjawabnya. Tapi kalau dilihat dari penampilan, keduanya seperti berasal dari golongan putih, mereka tidak mungkin berbohong. Lagi pula aku pernah mendengar nama-nama keduanya dalam dunia persilatan. Hanya saja, aku benar-benar tidak tahu siapa yang mereka maksudkan itu. Dan lagi, apakah penyerangan yang mereka maksudkan itu benar akan terjadi? Hahh … kenapa aku jadi memikirkan sesuatu yang belum jelas," gumam Kakek Rajawali lalu meminum kopi pahit kesukaannya.
Menjelang malam, semua murid berkumpul di ruang tempat makan yang agak lebar. Termasuk Kakek Rajawali sendiri. Perguruan Rajawali Sakti ini mempunyai sebuah kebiasaan, di mana mereka akan melakukan makan bersama-sama setiap harinya. Pagi, siang, malam, semuanya dilakukan secara bersama.
Satu makan ayam, semua harus makam ayam. Satu makan ikan, semuanya juga harus makan ikan. Kakek Rajawali memang menerapkan arti solidaritas bersama rekan sendiri. Bahkan bersama orang lain pun harus begitu jika memang bisa. Sebab menurutnya, mewujudkan nilai keadilan itu harus di mulai dalam hal-hal kecil.
Sebagian murid ada yang bertugas untuk menyiapkan makanan. Biasanya murid yang bertugas di dapur merupakan seorang wanita. Murid pria hanya di suruh mencari kayu bakar atau mengambil air saja.
Saat semua murid berkumpul, Sanca dsn Dadung Amuk menuju ke dapur di mana terdapat para murid wanita yang sedang melakukan persiapan.
"Lastri, biar aku dan Dadung Amuk saja yang menyiapkan makanan ini," kata Sanca kepada rekannya yang bernama Lastri.
"Tapi kakang, ini tugas wanita. Pria tidak boleh," kata Lastri menolak.
"Sudahlah, tidak papa. Kau pasti lelah bukan? Makanya biar aku membantumu. Aku yang bawa minum, kau bawa makan," kata Sanca.
"Baiklah kalau begitu. Maaf merepotkanmu,"
"Tidak masalah. Kita ini keluarga, jadi harus saling membantu," kata Dadung Amuk.
Tak lama Lastri lalu keluar mengantarkan makanan berupa ayam dan lalapan. Setelah semuanya selesai, dia duduk bersama murid yang lain untuk menunggu minum yang akan di bawakan oleh Sanca dan Dadung Amuk tadi.
Di dalam dapur, Sanca dan Dadung Amuk tidak segera mengantarkan minuman itu. Keduanya justru berdiam dan berbicara terlebih dahulu.
"Dadung, apakah kita akan memulainya sekarang?" tanya Sanca.
__ADS_1
"Benar, kita harus segera memulai sebelum terlambat,"
"Baiklah,"
Dadung Amuk dan Sanca lalu mengeluarkan wadah kecil yang berisi serbuk berwarna putih. Serbuk itu tidaklah beraroma, bahkan akan hancur kalau di masukkan ke dalam air. Setelah semua teko sudah di isi dengan serbuk tersebut, keduanya lalu keluar sambil membawa teko-teko tersebut.
Makanan dan minuman telah siap. Perut pun sudah minta di isi dari tadi. Maka begitu minuman datang, semua orang-orang Perguruan Rajawali Putih langsung mulai melakukan makan bersama.
Saat makan sudah selesai, semua murid langsung minum. Kakek Rajawali pun berniat untuk meminumnya, tapi tiba-tiba ia seperti merasakan ada hal lain dalam air tersebut.
Kemudian dia menahan murid yang berada di dekatnya yaitu Bayu dan Shinta. Tangan kanan dan kiri Kakek Rajawali menahan tangan kanan dua muridnya tersebut dan memberikan kode supaya tidak meminum airnya.
Bayu dan Shinta ingin bertanya alasan gurunya menahan untuk minum. Namun sebelum pertanyaan itu keluar, lagi-lagi mereka tertahan karena isyarat dari sang guru supaya tidak boleh bertanya.
Kakek Rajawali lalu mengajak empat muridnya ke ruangan belakang. Dia merasa curiga dengan sikap aneh Sanca dan Dadung Amuk. Di mana meraka tidak langsung minum setelah selesai makan. Bahkan saat ini keduanya menghilang entah ke mana.
Kakek Rajawali dan muridnya sedang duduk di tempat biasa. Bayu segera mengajukan pertanyaan yang tadi sempat tertunda.
"Guru, kenapa tadi menahan kami untuk minum?" tanya Bayu penasaran.
Kesemua murid diam, mereka baru sadar setelah barusan gurunya mengucap hal demikian. Di ruangan itu hening untuk beberapa saat.
Tak berselang lama, tiba-tiba saja mulut Kakek Rajawali seperti mengucap dengan sendirinya.
"Ratih, coba kau perlihatkan silat 'Rajawali Putih' kepadaku," kata Kakek Sakti secara tiba-tiba.
"Baik guru," jawab murid yang bernama ratih tersebut.
Ratih lalu menuju ke halaman yang ada di sana untuk memperlihatkan gerak silat Rajawali Putih yang terkenal dengan serangan dan kecepatannya. Ratih, wanita berusia tiga puluh tahun itu mulai menggerakan kaki dan tangannya.
Tiga jari dari kedua tangannya ia ubah menjadi bentuk cakar. Kakinya di rendahkan sedikit dan badannya agak condong. Ratih mulai memperlihatkan gerakan silat tersebut. Namun baru saja berjalan tiga jurus, semua orang yang ada di sana termasuk dia sendiri merasa kaget sebab tenaga dalamnya tidak keluar.
__ADS_1
"Ratih, kenapa tidak kau gunakan tenaga dalam?" tanya Kakek Rajawali.
"Guru, aku sudah menggunakannya. Tapi aku juga bingung, kenapa tenaga dalamku tidak keluar?" dia kebingungan sendiri sambil memandangi kedua telapak tangannya.
"Shinta, coba kau keluarkan tenaga dalammu," perintah kakek itu.
"Baik guru,"
Shinta mulai menyalurkan tenaga dalamnya ke telapak tangan. Kemudian ia hentakkan telapak tangan itu mengarah ke sebatang pohon berukuran cukup besar.
"Wushh …"
"Blarrr …"
Pohon itu langsung hancur berkeping-keping setelah dihantam oleh tenaga dalam Shinta yang berwarna kuning emas. Ratih kebingungan, mengapa tenaga dalamnya tidak keluar? Wanita itu lalu menghampiri guru dan saudaranya.
"Guru, tenagaku sungguh tidak bisa dikeluarkan. Bahkan aku merasa mulai lemas," ucap Ratih.
"Pasti ada yang tidak beres," kata Kakek Rajawali.
Semua murid diam. Tak ada yang menjawab di antara mereka. Keempatnya hanya saling pandang satu sama lain menggambarkan kebingungan.
"Guru, aku juga merasa mulai lemas," kata seorang wanita yang berumur sekitar tiga puluh tiga tahun, dia merupakan murid Kakek Rajawali juga. Wanita itu bernama Sari.
"Sari, kau kenapa?" tanya Bayu penasaran.
"Tidak tahu kakang. Tiba-tiba aku mulai lemas dan kepalaku pusing," katanya sambil memegangi kepala.
"Apakah ini Racun Pemusnah Tenaga Dalam?" tanya Bayu kepada Kakek Rajawali.
"Ratih, sari, apakah kalian saat ini merasa lemas, pusing dan merasa mual?"
__ADS_1
"Benar guru," jawab Ratih dan Sari berbarengan.
"Gawat," kata Kakek Sakti yang tiba-tiba mengepal tangannya.