Kisah Pendekar Maung Kulon

Kisah Pendekar Maung Kulon
Gagal Menjalankan Misi


__ADS_3

"*******. Dari dulu mulutmu memang tidak bisa berubah. Pantas saja banyak yang ingin merobeknya," kata salah seorang di antara mereka.


"Kalau berubah, maka bukan Cakra Buana namanya. Hemm, benarkah? Tapi nyatanya sampai sekarang belum ada yang mampu merobek mulutku. Kau lihat bukan, mulutku masih utuh?" Cakra Buana sengaja memberikan ejekan untuk ketiganya.


Tiga orang itu, bukanlah pendekar sembarangan. Pasti mereka bertiga ilmunya jauh di atas pendekar yang beberapa waktu lalu sempat bentrok dengan Cakra Buana dan Pendekar Tangan Seribu. Setidaknya berbeda satu atau dua tingkat.


Akan tetapi walaupun begitu, Pendekar Maung Kulon tidak merasa gentar sama sekali. Justru dia merasa senang karena bisa mengasah terus kemampuannya. Begitu pun dengan Ling Zhi. Ia sudah tidak sabar ingin mencoba hasil latihannya selama Cakra Buana pergi.


Tapi untuk bertindak mendahului, Ling Zhi tentu tidak berani.


"Banyak mulut kau setan …"


"Wushh …"


Sebuah sinar hitam sebesar tangan melesat mengarah ke Cakra Buana. Dengan mudah dia menghindari serangan tersebut. Begitu serangan pertama gagal, ketiganya langsung merangsek maju ke depan.


Pertarungan tidak dapat dihindari lagi. Bagi tiga pendekar Kerajaan Kawasenan itu, lebih baik mati daripada gagal dalam menjalankan tugas kali ini. Karena kalau gagal dan ia kembali ke kerajaan dengan tangan hampa, hasilnya akan sama saja. Mati.


Tiga orang pendekar itu berubah menjadi sebuah bayangan hitam yang bergerak dengan cepat. Tanpa basa-basi lagi, Cakra Buana dan Ling Zhi segera menyambut ketiganya.


Cakra Buana mendapatkan dua lawan. Sedangkan Ling Zhi satu lawan.


Mereka bertiga berani mencari masalah karena hutan yang sekarang jadi ajang pertarungan ini jaraknya cukup jauh dari Kerajaan Tunggilis. Sebelumnya sudah di ceritakan bahwa Cakra Buana berniat untuk mengajari Ling Zhi sebuah ilmu.


"Wuttt …"


"Wuttt …"


Dua buah serangan pukulan meluncur cepat mengincar dada dan perut Cakra Buana. Pukulan itu bukan sembarangan pukulan, sebab dialiri tenaga dalam dengan jumlah besar.


Bahkan sebelum tangan lawan sampai, anginnya sudah menyambar lebih dulu. Andi kata lawannya mempunyai kepandaian rendah, sekali pukul mereka bisa tewas.


Tapi lawannya kali ini adalah Cakra Buana. Seorang pendekar muda pilih tanding. Mungkin suatu saat nanti bisa jadi tanpa tanding.


"Plakk …"


"Plakk …"


Cakra Buana menggerakan tangan kanan ke arah dada dan tangan kiri ke arah perut. Dua buah pukulan berhasil ia gagalkan dengan mulus. Ia memapak kedua serangan sekaligus dengan sempurna.


Serangan gagal lagi.


Namun kedua lawan kembali menggempur Cakra Buana. Kali ini tangan dan kaki mereka ikut bergerak. Hawa kematian semakin mencekam. Dedaunan kering yang tadi berserakan, beterbangan terhempas tenaga dalam ketiga pendekar tersebut.

__ADS_1


Sementara itu, pertarungan Ling Zhi berjalan lebih hebat lagi. Seperti biasa, gadis yang diberi julukan Bidadari Penebar Maut akibat pembantaian yang ia lakukan saat bertarung dengan murid-murid Perguruan Gunung Waluh itu, langsung bertarung dengan jurus-jurusnya yang terkenal cepat dan berbahaya.


Tanpa sungkan, Bidadari Penebar Maut langsung mengeluarkan seluruh kemampuannya. Awalnya pertarungan mereka memang seimbang, tapi saat Ling Zhi berlaku lebih serius, pertarungan jadi berat sebelah.


Sekilas bisa di lihat bahwa Ling Zhi setidaknya berada satu tingkat di atas lawan. Meskipun hanya berbeda satu tingkat, tapi tujuh puluh persen ia bisa keluar sebagai pemenang. Asalkan dia tidak melalukan kesalahan, meskipun sedikit.


"Wuttt …"


"Wuttt …"


Serangan demi serangan di keluarkan. Masing-masing dari mereka menggunakan kelebihan yang di miliki. Tangan Ling Zhi bergerak dengan lincah. Sementara lawan terlihat gerakannya sedikit kaku.


Keras melawan lembut, siapa yang akan menang? Tentu bisa di perkirakan yang lembutlah yang akan menang. Sebab batu yang keras, bisa berlubang oleh air hujan yang lembut.


Ling Zhi terus bergerak. Ia bagaikan seorang dewi khayangan yang menari dengan indah di balik badai serangan lawan. Gerakannya lemah gemulai. Siapa pun yang melihat, pasti akan berpikir bahwa Ling Zhi tidak memiliki tenaga. Padahal sebenarnya, di balik kelembutan itulah ada tenaga dalam yang dahsyat.


"Merpati Memutari Bukit …"


"Wuttt …"


Ling Zhi mengeluarkan jurusnya. Gerakannya semakin cepat seperti seekor burung merpati. Lawan di buat kelimpungan karena Ling Zhi terus memutari dirinya.


"Plakk …"


"Plakk …"


Tapi sayang, serangan yang lebih dahsyat segera datang lagi tanpa diduga sebelumnya.


"Haaa …"


Ling Zhi menghentakkan kedua tangannya ke depan. Sebuah gelombang energi berwarna merah cerah keluar dari telapak tangannya. Cahaya itu melesat secepat angin kencang.


Lawan tak dapat menghindar. Ia terlambat dua langkah. Tahu-tahu, tubuhnya terjengkang ke belakang menabrak sebuah batu sebesar kerbau. Tak ayal lagi, batu itu hancur dan dia sendiri remuk. Lawan menggelepar beberapa saat sebelum diam tidak bergerak lagi. Mati.


Kedua lawan Cakra Buana sudah mengeluarkan senjata mereka yang berupa sebuah golok. Golok itu berkilauan di bawah sinar matahari menyilaukan mata. Sinar-sinar babatan golok menyambar ke segala arah.


Cakra Buana di serang dari dua sisi berbeda. Tapi ia tidak panik. Justru seulas senyuman, ia lemparkan.


Pendekar Maung Kulon melompat mundur lalu kalinya menjejak ke sebuah batang pohon.


"Wushh …"


Ia melesat cepat mengandalkan tenaga dorongan dari pijakan tadi. Tubuhnya meluncur bagaikan jarum keluar dari sumpit. Kedua tangannya ia kembangkan agak lebar dengan posisi kaki kanan di tarik sebatas lutut.

__ADS_1


Di sisi lain lawan sudah siaga. Golok mereka sudah di acungkan. Kapan pun itu, mereka siap membabat Cakra Buana.


Begitu dekat, sambaran golok kembali berkelebat menyambar. Kesiur anginnya terasa tajam. Bahkan mungkin sanggup merobek baju.


Cakra Buana tidak takut. Ia mengeraskan kedua jari-jari tangannya hingga sekeras baja.


Jari Harimau.


Cakra Buana mengeluarkan jurus cakarnya.


"Patah …"


"Clangg …"


Dua buah batang golok itu seketika patah jadi dua bagian. Keduanya di buat kaget. Mata mereka melotot seperti hendak keluar. Keduanya melompat mundur lalu saling pandang.


Golok yang jadi senjata pusaka dan sudah menemani mereka mengarungi dunia persilatan bertahun-tahun, pada akhirnya bisa di patahkan oleh seorang pendekar muda.


Mereka tidak mempercayai kejadian ini. Tapi mau bagaimana? Ini memang nyata.


Mereka semakin geram. Patahan goloknya di lemparkan ke arah Cakra Buana dengan bantuan tenaga dalam.


"Wuttt …",


Patahan golok itu meluncur cepat berputar-putar. Menurut mereka, mustahil Cakra Buana bisa menghindarinya.


Tak di nyana, Pendekar Maung Kulon justru melakukan hal mengejutkan. Ia menggerakan kedua tangannya seperti sedang memutar air di sungai.


Dua patahan golok berhenti telat di depannya. Setelah itu, Cakra Buana mengembalikannya kepada lawan. Bahkan lebih cepat daripada sebelumnya.


"Wuttt …"


"Slebbb …"


"Crasss …"


"Ahhh …" mati.


Dua lawannya tewas oleh senjata pusaka mereka yang sudah patah tadi. Satu orang tertusuk di perutnya sampai golok tersisa tinggal gagang saja. Satu lagi terbelah kepalanya dan golok menancap.


Mereka berteriak kesakitan sebelum akhirnya roboh bersimbah darah.


Tiga pendekar yang ditugaskan oleh Prabu Ajiraga, akhirnya gagal menjalankan misinya.

__ADS_1


__ADS_2