
Selesai berkata seperti itu, Prabu Katapangan lalu melemparkan Tongkat Dewa Batara tinggi ke atas. Tongkat tersebut meluncur dengan deras menembus cakrawala.
Tak lama, dia lalu mencabut Panah Raden Arjuna. Tali busurnya dia tarik sekuat tenaga sehingga menimbulkan kekuatan dahsyat.
"Panah Asmara Raja …"
"Wushh …"
Tali busur dilepaskan. Sinar merah mencolok keluar memenuhi langit. Hujan anak panah itu segera menyatu menjadi pusaran angin topan lalu melesat menyambut serangan dahsyat Kera Gila.
Dua jurus tingkat atas bertemu menimbulkan suara bergemuruh yang menggelegar di telinga semua pendekar. Kedua manusia sakti itu terpundur masing-masing enam langkah ke belakang.
Darah segar segera keluar banyak dari mulut Kera Gila. Ternyata jurus Panah Asmara Raja milik Prabu Katapangan berhasil menembus dada kirinya. Dia langsung jatuh terduduk sambil mencabut anak panah.
Sedangkan Prabu Katapangan terkena hantaman angin dahsyat dari tongkat milik Kera Gila. Baju bagian lengan kanannya hangus terbakar. Sedangkan tangan itu sendiri seketika terasa lumpuh.
Mereka terdiam di posisi untuk beberapa saat. Detik berikutnya, dua pendekar itu sudah kembali menerjang satu sama lain. Dengan luka yang sudah terlukis di tubuh masing-masing, keduanya justru semakin ganas.
Prabu Katapangan terlihat seperti singa jantan dengan keganasannya. Sedangkan Kera Gila tentu mirip seekor kera yang mempertahankan wilayahnya. Keduanya bertarung kembali dengan jurus-jurus tangan kosong.
Benturan tangan dan kaki terus terdengar. Kadang kala keduanya bertarung di udara. Lewat dua puluh jurus, mereka tampak kelelahan satu sama lain.
"Tidak sia-sia kau mendapatkan gelar datuk rimba hijau. Aku akui bahwa kekuatanmu memang dahsyat," kata Prabu Katapangan memuji Kera Gila.
"Hahaha, terimakasih atas pujian prabu. Kau juga sangat cocok dengan kedudukanmu. Sebab kekuatanmu memang jauh di atas rata-rata," kata Kera Gila mebalas pujian Prabu Katapangan.
"Kalau begitu, kita selesaikan pertarungan ini sekatang,"
"Baik. Kita lihat siapa yang akan bertahan," ucap Kera Gila.
Keduanya mulai mengumpulkan tenaga dalam kembali. Tubuh Kera Gila mengapa merah membara seperti api neraka yang berkobar. Prabu Katapangan mulai mengeluarkan jurus mautnya. Dua tangan itu mengeluarkan sinar hijau tua, walaupun satu tangannya terluka, nyatanya itu bukan suatu masalah besar.
"Ajian Kera Bulu Merah …"
__ADS_1
"Dua Naga Menggempur Gunung …"
"Wutt …"
Keduanya mencelat terbang ke arah lawan. Mereka bertemu di tengah-tengah lalu masing-masing memberikan pukulan terakhirnya.
"Glegarr …"
Gelombang kejut menerpa seluruh arena sekitar. Kedua pendekar itu terpental bergulingan hingga menabrak beberapa prajurit. Kera Gila memuntahkan darah segar cukup banyak. Bajunya hangus terbakar. Tak lama, dia tewas mengenaskan.
Sedangkan Prabu Katapangan sendiri menerima luka yang parah. Tulangnya terasa remuk sehingga dia sulit untuk bangkit berdiri.
Di sisi lain pertarungan Raja Sembilan Nyawa melawan Gagak Bodas dan Jalak Putih sudah berlangsung selama lima puluh jurus lebih. Sekujur tubuh dua saudara seperguruan itu mendapatkan luka yang tidak ringan.
Namun bukan hanya keduanya saja, sebab Raja Sembilan Nyawa pun mengalami hal yang sama. Sabetan pedang dan kipas milik lawan memenuhi seluruh tubuhnya. Noda darah sudah mengering bercampur dengan pakaian merahnya.
Saat ini keduanya masih bertarung sengit dengan jurus-jurus mereka. Gagak Bodas dan Jalak Putih menyerang dari arah berlawanan. Samping kanan dan samping kiri.
Walaupun keduanya sudah terluka dan gerakan serangannya melambat sedikit, tapi nyatanya dua tokoh tua itu masih mampu untuk membuat lawan berada dalam posisi genting.
Desiran angin dingin terus mengancamnya tanpa henti. Tubuhnya di condongkan ke belakang saat pedang milik Gagak Bodas berniat menyambar lehernya. Tetapi saat serangan itu belum selesai, lawan telah mengubah kembali arah serangannya.
Pedang tersebut justru mengincar jantungnya dengan tusukan-tusukan maut. Ujung pedang terlihat bergetar dan terus mengejarnya.
Tetapi Raja Sembilan Nyawa adalah salah satu datuk rimba hijau, tentu dia tidak akan mudah mati begitu saja. Dengan gerakan cepat, dia memutar tubuhnya sehingga sudah ada tepat di belakang tubuh Gagak Bodas.
Kedua tangannya di angkat dan di aliri tenaga dalam yang tersisa.
"Bukk …"
Satu buah serangan tapak dengan telak menghantam punggung Gagak Bodas. Tanpa bisa dihindari lagi, dia langsung tersungkur jatuh lalu dari mulutnya menyemburkan darah segar.
Melihat saudaranya tersungkur, kemarahan Jalak Putih kembali menggelora. Bagaikan sebuah burung rajawali, dia menghentakkan kakinya ke tanah sambil membentangkan kedua tangannya.
__ADS_1
Kipas yang menjadi senjata pusakanya telah terbuka lebar di tangan kanan. Begitu dekat, dia mengayunkan kipas tersebut. Dari ayunan itu menghasilkan serangkum angin yang dashyat membentuk sebuah pusaran.
Terlambat sedikit untuk menghindari, dipastikan Raja Sembilan Nyawa pasti akan tewas seketika. Tetapi siapa sangka, dalam keadaan genting itu, dia berkelit ke sebelah kanan lalu mengayunkan tangannya dari bawah ke atas mengincar jantung.
Jalak Putih terkejut bukan kepalang. Untuk menghindari pun sudah sangat terlambat. Serangan balasan lawan setengah jengkal lagi mengenai jantungnya.
Tetapi Jalak Putih tidak gentar sedikitpun. Dia sudah menerima resiko yang akan diterimanya, kakek tua itu memejamkan matanya dan berusaha menenangkan diri.
"Srett …"
"Keukkhh …"
Suara tercekat tiba-tiba terdengar. Semua orang yang menyaksikan kejadian ini terbelalak kaget. Jalak Putih pun merasa heran karena serangan lawan tidak juga datang. Dia membuka mata dan ternyata, Raja Sembilan Nyawa telah tewas tergorok lehernya.
Secepat kilat dia menyeimbangkan tubuhnya sehingga bisa mendarat dengan mulus.
Ternyata, saat Raja Sembilan Nyawa mencurahkan seluruh pikiran dan tenaganya untuk membunuh Jalak Putih, tidak diduga dari arah kanan terlihat sekelebat bayangan merah muda yang langsung menghunus pedangnya kemudian menggorok leher datuk rimba hijau itu.
Ling Zhi!
Tak lain dan tak bukan, yang telah membunuh Raja Sembilan Nyawa dengan gerakan tak terduga memang gadis itu pelakunya. Darah segar masih mengucur dari ujung pedangnya.
Semua kejadian itu terjadi sangat cepat. Sehingga semua orang merasakan ketegangan yang sama.
"Terimakasih Ling Zhi. Kau sudah menyelamatkan nyawa orang tua ini," kata Jalak Putih dengan nafas tersengal-sengal.
"Sudah seharusnya seperti itu kakek Jalak Putih. Maaf aku sedikit terlambat," katanya.
Jalak Putih hanya tersenyum, dia kemudian bersemedi untuk memulihkan tenaga dalam. Tak berselang lama, Raden Kalacakra Mangkubumi, Pendekar Tangan Seribu, serta Sepasang Kakek dan Nenek Sakti tiba di sana.
Semua pakaian pendekar itu tidak ada yang bersih. Semuanya terpenuhi oleh noda darah yang mulai mengering. Nafas mereka pun sama-sama tersengal.
Di saat keadaan seperti demikian, Cakra Buana baru saja selesai dari semedinya. Dia langsung menghampiri para pendekar tersebut.
__ADS_1
Peperangan sebentar lagi akan berkahir. Pertarungan para pendekar lebih dari sebagian sudah rampung. Kemenangan bagi Kerajaan Tunggilis sudah di depan mata.
Sepeminum teh kemudian, mereka sudah selesai bersemedi. Kini semuanya telah bersemangat dan siap melanjutkan perjuangan kembali yang akan mencapai puncak. Siapa sangka, di saat seperti itulah sesuatu yang belum pernah dibayangkan terjadi.