
"Apa kau sudah siap kembali?" tanya Prabu Ajiraga kepada Cakra Buana.
"Sudah, terimakasih karena telah memberikan waktu kepadaku," ucap Cakra Buana penuh tanda terimakasih.
Kali ini Pendekar Maung Kulon terlihat lebih tenang dan kalem daripada sebelumnya. Wajahnya juga jauh lebih berseri daripada tadi.
"Tidak perlu sungkan. Anggap saja ini balas budiku saat kau dulu membantu Kerajaan Kawasenan dalam perang melawan Kerajaan Sindang Haji," jawab Prabu Ajiraga
"Terserah kau mengatakan apa. Sekarang, kita tuntaskan dendam ini," kata Cakra Buana.
"Baik, silahkan,"
Cakra Buana bersiap kembali. Pedang Pusaka Dewa masih tersoren dipunggungnya. Dia tidak berniat untuk menggunakan pedang, pemuda serba putih itu ingin mencoba dengan jurus tangan kosong.
"Kau yakin tidak mau menggunakan senjata?" tanya Prabu Ajiraga sedikir heran karena melihat Cakra Buana tidak mengeluarkan pedang pusakanya.
"Belum saatnya,"
"Baik kalau begitu. Aku juga tidak akan menggunakan Tongkat Dewa Batara supaya pertarungan ini lebih adil,"
Cakra Buana tidak menjawab. Sebaliknya, dia telah mengumpulkan tenaga dalamnya lalu disalurkan ke kedua tangannya. Wajahnya kembali berubah serius.
"Lihat serangan …" bentak Cakra Buana yang sudah maju menyerang memberikan pukulan keras.
Kedua tangannya sudah di aliri tenaga dalam dengan jumlah besar, bisa dibayangkan bagaimana hebatnya serangan pertama tersebut.
Sebelum pukulannya sampai, anginnya telah datang lebih dulu menerjang Prabu Ajiraga. Dengan gerakan sederhana, raja itu bisa menghindari sambaran angin.
Detik berikutnya, serangan yang asli datang. Pukulan Cakra Buana mengincar dua titik. Satu ke leher, satu lagi ke dada. Pukulan itu datangnya sangat cepat sehingga kepala tangannya tidak terlihat.
Tahu-tahu, Prabu Ajiraga merasakan adanya sebuah kekuatan sebesar gunung yang menghantam tubuhnya. Dia tidak tinggal diam, dengan kaki satu ke belakang, kedua tangannya di angkat ke atas untuk menangkis pukulan Cakra Buana.
"Bukk …"
Kedua pasang tangan itu berbenturan. Cakra Buana merasakan tangannya sedikir ngilu, sedangkan Prabu Ajiraga merasa kedua tangannya mati rasa unruk beberapa saat.
Detik berikutnya, kedua pendekar tersebut sudah bertarung sengit kembali. Adu pukulan dan tendangan dimulai. Tubuh Cakra Buana melesat bagaikan kilat menerjang seluruh titik penting di tubuh Prabu Ajiraga.
Untungnya raja itu memiliki kemampuan yang sangat tinggi, sehingga dia bisa menghalau semua serangan Cakra Buana walaupun harus membayar dengan rasa sakit.
__ADS_1
Pertarungan tingkat tinggi kembali mendominasi perang ini. Jurus demi jurus mulai Cakra Buana keluarkan. Serangkaian jurus dari Kitab Maung Mega Mendung pun sudah keluar. Tetapi walaupun begitu, tetap saja dirinya tidak mampu mendesak Prabu Ajiraga lebih jauh lagi.
Raja itu tidak mau kalah, dia pun turut memainkan jurus tangan kosong yang membawa kematian. Kedua tangan itu berubah menjadi gumpalan tenaga dahsyat. Suara angin yang menderu serta membawa hawa mengerikan mulai Cakra Buana rasakan.
Kedua pendekar terbungkus sinar serangan masing-masing. Bebatuan dan tanah beterbangan mengelilingi keduanya. Pertarungan ini semakin hebat saat Prabu Ajiraga mengeluarkan jurus pamungkasnya.
Kaki dan tangannya sudah beberapa kali berhasil menembus pertahanan Cakra Buana. Tetapi Pendekar Maung Kulon masih tetap memaksakan dirinya.
Dia melompat mundur ke belakang lalu mencelat ke atas. Tubuhnya berputar dua kali sambil melancarkan serangan dahsyat.
"Ajian Curuk Dewa …"
"Wuttt …"
Sinar putih transparan keluar melesat secepat angin menerjang Prabu Ajiraga. Tapi raja itu memang mempunyai kekuatan luar biasa, dengan kecepatannya yang hebat, dia berhasil menghindari serangan maut tersebut.
Cakra Buana tidak mau menyerah, Ajian Curuk Dewa terus dia lancarkan sehingga membuat situasi menjadi semakin menegangkan.
Setiap kali telunjuknya dia lancarkan, selalu menimbulkan suara bergemuruh yang menggema memenuhi jagat raya. Tak berhenti sampai di situ, andai Ajian Curuk Dewa mengenai tempat kosong, maka tempat itu akan mengalami sesuatu yang mengerikan.
Tanah sudah banyak yang menjadi cekungan besar di sana-sini, Cakra Buana mulai berada di atas angin untuk saat ini.
Di saat genting seperti itu, tiba-tiba saja Prabu Ajiraga membentak nyaring. Tubuhnya terbang melesat ke arah Cakra Buana.
"Wutt …"
Hujan pukulan mulai dia lancarkan kepada Cakra Buana. Pukulannya mampu meretakkan gunung menyapu padang pasir. Kecepatannya secepat kilat, Cakra Buana mulai kembali kewalahan. Tapi dia masih berusaha menenangkan diri.
Pertarungan semakin seru. Kedua belah pihak beradu pukulan dan tendangan tanpa henti, hingga pada satu waktu, Cakra Buana berhasil memberikan pukulannya dengan telak ke dada Prabu Ajiraga.
"Bukk …"
Namum bertepatan dengan kejadian itu, Prabu Ajiraga pun berhasil mengirimkan satu pukulan dahsyat.
"Bukk …"
Kedua pendekar terpental sejauh sepuluh tombak. Keduanya langsung muntah darah. Tak mau membuang waktu, Cakra Buana seketika mencabut Pedang Pusaka Dewa lalu ia kembali menyerang.
Prabu Ajiraga pun mengambil Tongkat Dewa Batara tepat ada waktunya.
__ADS_1
"Wutt …"
"Trangg … trangg …"
Dua senjata pusaka berbenturan menghempaskan apa saja yang ada di dekat mereka.
"Murka Sang Dewa …"
"Tongkat Penghancur Jagat Raya …"
"Glegarr …"
Dua jurus pamungkas dari dua pendekar keluar. Benturan yang sangat keras itu membelah tanah di sekitar karena guncangan yang sangat keras. Debu mengepul menutupi tempat sekitar.
Detik berikutnya, keadaan mulai kembali normal. Dan ketekerkejutan pun terlihat di wajah semua orang yang menyaksikan pertarungan dahsyat ini.
Terlihat di sana bahwa Pedang Pusaka Dewa telah menembus leher Prabu Ajiraga. Sedangkan Tongkat Dewa Batara berada di dada Cakra Buana.
Keduanya terdiam menahan rasa sakit.
"Ka-kau menang. Aku ka-kalah. Se-selamat …"
"Prangg …"
Tongkat Dewa Batara jatuh ke tanah berbatu bersamaan dengan ambruknya Prabu Ajiraga saat Pedang Pusaka Dewa dicabut oleh Cakra Buana. Darah seketika menyembur ke segala arah.
Cakra Buana langsung jatuh terduduk. Tenaganya sudah habis. Tak terasa dia langsung menangis meraung-raung.
"Ayah, ibu, guru … aku telah membalaskan dendam kalian. Beristirahatlah dengan tenang …" teriak Cakra Buana sambil menengadahkan kepalanya ke atas dengan tangan terbuka lebar.
Tugas pertama Cakra Buana selesai. Peperangan kedua belah pihak segera terhenti. Pihak asli Kerajaan Kawasenan langsung tidak memberikan perlawanan sama sekali. Lebih dari sebagian pertarungan memilih untuk berhenti.
Hanya sebagian pendekar saja yang masih bertarung hidup dan mati. Sebab mereka memiliki dendam satu sama lainnya.
Prabu Katapangan Kresna berniat untuk mendekati Cakra Buana. Tapi sebelum tubuhnya sampai, dia merasakan adanya kekuatan dahsyat yang melesat ke arahnya.
Seketika raja itu membalikan badan. Ada dua buah sinar hijau tua dan merah meluncur ke arahnya. Prabu Katapangan menyadari bahwa serangan ini sangat berbahaya. Maka dia pun tidak berdiam diri, kedua tangannya di hentakkan ke depan menangkis dua serangan itu.
"Blarrr …"
__ADS_1
Ledakan menggema. Dia tersentak setengah langkah ke belakang. Dari balik kepulan debu di depan sana, berjalan dua sosok orang tua dengan penuh wibawa.
"Kera Gila, Raja Sembilan Nyawa. Hemm, dua datuk dunia persilatan sudah datang ternyata," gumam Prabu Katapangan.