Kisah Pendekar Maung Kulon

Kisah Pendekar Maung Kulon
Perang Besar


__ADS_3

Saat ini hari sudah sore. Seperti biasa, burung-burung bernyanyi dengan indah sebelum mereka kembali ke rumahnya masing-masing. Matahari yang begitu indah dengan sinar jingganya membakar bumi, menggambarkan betapa kuasanya Tuhan penguasa alam semesta.


Hari yang sudah ditentukan sudah tiba. Persiapan perang besar sudah sepenuhnya selesai. Kedua kerajaan Pasundan yang sudah berdamai, yaitu Kerajaan Kawasenan dan Kerajaan Galunggung Sukma sudah berada dalan satu komando.


Dalam perang kali ini, kedua kerajaan akan dipimpin dibawah komando Eyang Resi Patok Pati. Dibawahnya ada adipati-adipati dan para petinggi lain yang turut serta dalam penyerangan ini.


Tak lupa juga para raja dan putera mereka pun turut andil dalam perang ini. Dengan semangat yang menggebu-gebu dan tekad yang kokoh seperti batu karang, orang-orang itu sudah siap mengorbankan nyawa demi persatuan dan keadilan.


Seperti yant dijelaskan sebelumnya, jumlah orang yang akan melakukan penyerangan ke Kerajaan Sindang Haji tak kurang dan tak lebih berjumlah lima ribu orang banyaknya.


Tinggal menunggu beberapa saat lagi ketika rembulan telah muncul, pasukan gabungan dari dua kerajaan akan berangkat ke medan perang. Untuk saat ini para petinggi sedang melakukan rapat disebuah ruangan dan membicarakan rencana lebih.


###


Waktu yang ditentukan sudah tiba. Semua petinggi pun sudah keluar dari ruangan rapat. Kini mereka telah memasuki posisinya masing-masing.


Rembulan yang bersinar secara sempurna, angin sepoi-sepoi menerpa tubuh. Bau harum bunga mewangi yang menusuk hidung, menjadikan suasana ini begitu menenangkan jiwa.


Tapi sayang, suasana yang harusnya dilewati dengan jiwa yang tenang ini, sebentar lagi justru akan menjadi malam berdarah dan akan menciptakan sejarah yang baru.


"Semuanya, siap …" kata Prabu Ajiraga Wijaya Kusuma dengan lantang.

__ADS_1


"Siap …" jawab lima ribu prajurit sehingga suaranya begitu menggema di bawah terangnya bulan purnama.


"Mari kita berangkat dan berjuang demi kebaikan tanah Pasundan!!!"


Tanpa menunggu waktu lebih lama, lima ribu pasukan langsung bergerak untuk menuju ke medan perang. Sebagian dari mereka ada yang memakai kuda sebagian lagi ada yang dibawa oleh kereta-kereta, dan ada lagi yang memilih untuk berjalan kaki.


Saat lima ribu pasukan itu bergerak melewati desa-desa, membuat semua warga panik bukan main. Tapi mereka segara faham setelah melihat rajanya turun tangan sendiri, perang besar. Hanya itu yang ada dipikiran para warga.


Langkah kaki kuda dan kaki pasukan terus menggema tiada henti. Binatang malam yang biasanya terdengar riuh mendadak sunyi sepi. Seolah mereka menyadari bahwa kejadian yang akan menggetarkan dunia persilatan di tanah Pasundan akan segera terjadi.


Sementara itu di Kerajaan Sindang Haji …


Paling jumlah pasukan yang mampu disiapkan oleh Kerajaan Sindang Haji tak lebih dari tiga ribu orang saja. Dan itu sudah dihitung termasuk pendekar yang berkepandaian tinggi.


Seluruh pihak Kerajaan Sindang Haji pun saat ini sudah menunggu musuh mereka disebuah lapangan yang sangat luas. Mirip padang pasir.


Yang memimpin perang ini adalah Prabu Jati Sena Purwadadi sendiri dengan didampingi oleh para adipati yang berkepandaian tinggi diantaranya Angga Reksapati, Saka Lintang, Bambang Jaya Anom, Agung Jayadrana dan masih ada beberapa orang lagi.


Mereka sudah bersiap untuk mengorbankan seluruh jiwa raganya untuk membela kerajaan mereka. Dengan tekad yang begitu menggebu dan semangat yang berapi-api, mereka siap bertaruh nyawa demi sebuah kehormatan.


Dimalam ini, saat bulan purnama dengan bintang indah yang berkelipan, sebuah catatan sejarah baru akan dimulai. Pertarungan besar yang terbilang melawan saudara setanah air akan terjadi.

__ADS_1


Masing-masing kubu sudah siap bertaruh nyawa. Korban pastinya akan jatuh dengan jumlah tidak sedikit. Malapetaka besar akan terjadi. Tragedi mengerikan akan tercipta. Tinggal menunggu datangnya musuh, maka perang yang menggetarkan seluruh daratan tanah Pasundan akan terjadi.


Benar saja, setelah beberapa waktu pihak Kerajaan Sindang Haji menunggu, kini dua kerajaan yang akan menyerang mereka pun sudah terlihat sejauh mata memandang.


Suara riuh pasukan gabungan dari dua kerajaan mulai terdengar menggema seluruh langit dan bumi. Pasukan Kerajaan Sindang Haji merasa gentar juga, tapi demi sebuah kehormatan mereka segera menghilangkan rasa itu.


Terompet tanda perang sudah dibunyikan oleh pihak Kerajaan Sindang Haji. Sehingga semua pasukan sudah bersiap dengan senjata dan bersiap dalam posisi masing-masing.


Yang menggunakan busur sudah siap meluncurkan anak panah. Yang menggunakan tombak sudah siap menancapkan tombaknya. Dan yang mengggunakan pedang pun sudah siap menyabetkan pedang mereka ke musuh.


Melihat banyaknya jumlah pasukan yang dibawa dua kerajaan untuk menyerang kerajaannya, Prabu Jati Sena Purwdadi tiba-tiba merasakan hatinya sakit.


Entah apa yang dirasakan hatinya. Yang jelas dia sendiri mendadak tidak siap untuk melihat banyaknya korban yang akan berjatuhan. Baik dari pihak dia maupun pihak musuh.


Tapi semua sudah terlambat, untuk menyesal pun tidak ada gunanya. Waktu yang berlalu tidak bisa diputar kembali. Mau tidak mau, siap tidak siap, Prabu Jati Sena Purwadadi harus dipaksa untuk kuat menghadapi situasi ini.


Harapan menang tidak ada. Mundur tidak bisa. Tak terasa air matanya mengalir sedikit. Rasa sakit dihati semakin menjadi. Akhirnya raja dari Kerajaan Sindang Haji itu menghela nafas panjang. Perang besar dengan saudara setanah air tak dapat dielakkan lagi.


###


Sebelumnya mohon maaf karena sudah beberapa hari belum up, author lagi fokus ke novel satu lagi karena akan mengapai klimaks🙏

__ADS_1


__ADS_2