
Langlang Cakra Buana sudah pergi dari kedai makan tadi. Saat ini dia sedang berada disebuah pedesaan. Desa Ciherang, sebuah desa yang tadi diceritakan oleh orang-orang ketika dia makan di sebuah kedai.
Menurut kabarnya, seorang pendekar aliran hitam sudah membuat kekacauan disana. Karena alasan itulah dia menuju ke sini dan memastikan tentang kebenaran kabar itu.
Pemuda bernama Langlang Cakra Buana itu tentu tidak akan langsung percaya tentang berita orang. Dia akan percaya ketika melihat kejadiannya secara langsung.
Karena terkadang, mulut manusia sangat berlainan dengan hatinya sendiri. Bisa jadi mereka menyebarkan kabar bohong demi sebuah tujuan bukan? Karena itulah, jangan langsung percaya tentang suatu 'berita' yang orang lain katakan jika tanpa disertai bukti yang jelas.
Saat ini hari sudah sore hari. Langlang Cakra Buana diam disebuah batu besar dibawah air terjun yang memberikan kehidupan bagi warga desa Ciherang.
Ciherang, sebuah desa yang masih asri dan indah. Pemandangan alamnya masih sangat alami. Pohon-pohon kelapa menjulang tinggi, pohon ketapang dan pohon karet banyak tumbuh disetiap kebun.
Air mengalir dengan deras dari sebuah sungai yang teramat jernih. Ikan-ikan berenang kesana-kemari dengan lincah. Suara gemericik air terjun terdengar menenangkan jiwa.
Sungai itu mengalir sampai jauh dan memberikan kehidupan bagi semua orang yang tinggal disekitarnya. Sawah dan kolam ikan dialiri air dari sungai ini. Sungai ini sangat bersih, karena itulah desa ini diberi nama desa Ciherang (Air Bening).
Langlang Cakra Buana duduk cukup lama diatas sebuah batu besar dibawah air terjun itu. Dia memperhatikan keindahan yang begitu menawan. Langit sore cerah berwarna jingga.
Sang surya sebentar lagi akan hilang, tapi sinarnya masih menyinari bumi. Burung-burung sudah kembali ke sarangnya masing-masing. Angin sepoi-sepoi menyapa tubuh pemuda itu dengan mesra.
Tak terasa malam sudah tiba, gemerlap bintang bertebaran dilangit mulai terlihat. Rembulan muncul baru separuhnya, tapi bisa menjadi penerang gelapnya malam.
Langlang Cakra Buana mulai bergerak, dia bangkit dari duduknya lalu pergi dari sana. Sekali melompat, tubuhnya sudah berada jauh dari tempatnya tadi.
Dia mulai memasuki desa Ciherang yang menjadi tujuannya. Desa itu tidak besar dan tidak kecil, sedang saja. Rumah-rumah penduduk berjejer rapi dengan dua buah obor didepan rumahnya.
Rumah-rumah itu hanyalah terbuat dari bilik bambu saja. Tapi ini sudah terbilang cukup, karena pada zaman dahulu, hanya mereka yang banyak harta saja yang mampu mempunyai rumah dari tembok.
Sepi. Sunyi. Hanya itu yang ada disana. Langlang Cakra Buana terus berjalan menyusuri desa itu. Dia melihat kesana-kemari, mempertajam semua inderanya.
Belum lama dia menyusuri desa, pemuda serba putih itu mendengar suara dari kejauhan. Walaupun kecil, tapi dia bisa mendengar suara itu. Karena Langlang Cakra Buana selalu menggunakan Ajian Saptapanguru. Sehingga dia bisa mendengar suara hingga sangat jauh.
__ADS_1
Di sebuah tempat didepan rumah besar, sebuah keributan sedang terjadi disana. Beberapa penjaga sedang bertarung melawan seorang bertubuh tinggi besar serta berwajah garang.
Kumisnya baplang dengan jambang yang tebal. Orang itu bertarung melawan penjaga rumah menggunakan sebuah golok yang tajam.
Para penjaga yang berjumlah lima orang itu satu-persatu mulai meregang nyawa oleh jurus-jurus golok si orang tinggi besar. Setelah para penjaga tewas, orang itu pun lalu masuk ke dalam rumah.
Tak berapa lama, dia sudah kembali keluar sambil membawa gadis muda yang digendong di pundaknya. Sepertinya gadis itu dalam keadaan pingsan.
Langlang Cakra Buana yang mendengar kejadian ini dengan Ajian Saptapanguru'nya tak mau tinggal diam. Secepat kilat dia berkelebat menuju rumah besar itu.
Hanya beberapa tarikan nafas, dia sudah berdiri membelakangi orang yang tinggi besar itu.
"Siapa kisanak?" tanya orang itu.
"Cakra Buana,"
"Mau apa datang kemari?"
"Keparat!!! Cepat pergi atau nasibmu aka sama seperti penjaga itu," bentaknya.
"Aku akan pergi jika kau meninggalkan gadis itu dan berhenti melakukan perbuatan keji ini," kata Langlang Cakra Buana.
"Setan alas. Kau mencari ****** …" kata orang betubuh tinggi besar itu.
Dia menaruh kembali gadis yang ada dipundaknya. Lalu dengan segera menyerang Langlang Cakra Buana dengan jurus-jurus tangan kosong.
Dua buah pukulan hebat datang secara bersamaan dan mengincar titik berbeda. Pemuda serba putih itu berkelit dengan menggeser kakinya sedikit ke kanan. Kepalanya sedikit ditarik ke belakang sehingga dua buah pukulan pun luput.
Tak behenti sampai disitu, orang bertubuh besar itu terus menyerangnya dengan hujan pukukan dan tendangan. Serangan tangan dan kakinya bergerak secara bersama.
Langlang Cakra Buana mulai menangkis dan membalas serangan lawannya itu. Lalu dia memberikan sebuah pukulan yang telak menghantam dada lawan.
__ADS_1
"Trangg …"
Betapa kagetnya pemuda itu ketika merasakan kepalan tangannya remuk. Dada yang dia pukul bahkan terasa lebih keras daripada baja. Jika orang biasa yang terkena pukulannya barusan, setidaknya dia akan terhuyung.
Tapi tidak dengan si tubuh tinggi besar ini. Bahkan dia hanya diam tak bergerak sedikitpun. Merasakan sakit pun tidak.
Pertarungan keduanya kembali berlanjut dengan sengit. Tapi walaupun sudah puluhan pukulan dan jurus yang dilancarkan oleh Langlang Cakra Buana, tetap saja lawannya tidak tumbang juga. Paling hanya beberapa kali meringis menahan sedikit rasa sakit.
Melihat ini awalnya dia bingung, tapi seketika itu juga dia tersadar siapa gerangan yang sedang bertarung dengannya.
"Kau … Setan Baja Ireng?" tanya Langlang sedikit kaget.
"Hahaha … bagus, bagus. Ternyata matamu awas juga sehingga dalam sesaat bisa mengenali diriku," kata si tinggi besar yang ternyata Setan Baja Irang.
"Bagus, aku tidak perlu susah payah lagi mencarimu," kata Langlang Cakra Buana.
Kembali pendekar muda itu maju menyerang Setan Baja Ireng. Kali ini dia menyerang menggunakan jurus dari Kitab Maung Mega Mendung .
'Harimau Mengejar Mangsa'
Gerakannya menjadi lebih cepat dan tidak memberikan celah kepada lawan untuk menghindar. Kemanapun lawannya bergerak, maka dia sudah mengejarnya.
"Bukkk …"
"Uitsss …"
Pelipis Setan Baja Ireng menjadi sasaran keganasan jurusnya. Terlihat pelipis itu langsung sedikit robek, ada darah keluar sedikit dari sana.
Pemuda serba putih itu berhasil memberikan sebuah luka. Walaupun hanya sedikit. Tapi bukan hanya Setan Baja Ireng yang terluka, bahkan tangan kanannya yang dipakai menyerang pun membiru akibat kerasnya tubuh lawan.
Setan Baja Ireng marah sekali karena pelipisnua berhasil dilukai lawan. Dia berniat untuk melanjutkan pertarungan lagi, tapi sebuah suara ghaib memberikan perintah kepadanya.
__ADS_1
"Pulanglah. Biarkan dia berkunjung ke tempat kita," bisik suara ghaib itu.