
Keadaan Burung Pemangsa semakin tidak menguntungkan. Terlebih karena dirinya sudah tidak mampu memberikan serangan balasan yang berarti. Yang dia mampu lakukan selain menghindar, paling menyerang sebisa dan sedapat mungkin.
Pertarungan mereka sudah berjalan lima belas jurus. Tapi Cakra Buana sudah berada di atas angin. Terlebih lagi sekarang dia sedang mendesak si Burung Pemangsa.
Sementara itu, Pendekar Pedang Kesetanan seperti tidak bernafsu bertarung melawan Cakra Buana. Bukan karena dia takut.
Entah kenapa, dia seperti tidak tega bertarung melawan anak muda yang gagah perkasa itu. Namun di sisi lain, jiwa sebagai pendekar pedangnya semakin berkobar karena melihat permainan Cakra Buana yang semakin dahsyat.
Bukan hanya permainan jurus pedangnya saja, bahkan pedang yang di genggam anak muda itu, membuatnya menjadi penasaran juga.
Dia sendiri paham bahwa senjata apapun, tergantung si pemakai. Walaupun itu senjata pusaka legenda, tapi kalau yang memegangnya bukan ahli, maka percuma saja. Sebaliknya, walaupun senjata biasa, tapi jika dipegang oleh seorang 'empu' maka tentu hasilnya menjadi luar biasa.
Namun tidak tahu kenapa, pedang yang di genggam oleh Cakra Buana ini seperti membawa kekuatan tersendiri baginya.
Seolah Pedang Naga dan Harimau milik Cakra Buana, menantang Pedang Haus Darah miliknya.
Pendekar Pedang Kesetanan masih belum bertindak keras. Dia ikut dalam pertarungan, tetapi masih setengah-setengah karena sedang bergelut dengan alam pikirnya.
Sedangkan si Burung Pemangsa, justru sedang bergelut dengan malaikat pencabut nyawa. Seolah dia sedang meminta perpanjangan waktu baginya.
Karena alasan dan tekad yang kuat itulah, semangat bertempur Burung Pemangsa yang sempat redup, kini berkobar kembali.
"Burung Garuda Membwa Kabar Kematian …"
"Wushh …"
Tiba-tiba saja, entah bagaimana caranya, si Burung Pemangsa sudah lenyap dari hadapan Cakra Buana. Bahkan pendekar muda itu sendiri tidak tahu pasti bagaimana lawan bisa lepas dari jeratannya.
Begitu melihat ke atas, ternyata si Burung Pemangsa sedang turun menukik sambil berputar dan memberikan serangan dahsyat.
Kedua tangan yang dilengkapi oleh cakar dari baja itu membentang gagah bagaikan sayap burung garuda. Dia terlihat perkasa sekaligus menyeramkan.
Begitu tiba di bawah, gempuran hebat langsung keluar. Kepalan sayapnya menebarkan ancaman mengerikan. Rasanya, kematian sudah terbayang di depan mata karena serangan yang diberikan bukan main hebatnya.
Namun, Cakra Buana juga bukan pendekar kelas bawah. Dan jurus Kilat Menyambar Bumi bukan jurus kacangan.
Jurus pedang itu ciptaan seorang pendekar digdaya dan kesaktiannya tidak diragukan lagi. Menghadapi gempuran seperti ini, tentu saja dia masih sanggup menghalaunya.
__ADS_1
Pedang Naga dan Harimau kembali menunjukkan kemampuannya. Pedang itu sudah dipercaya penuh oleh Cakra Buana. Apalagi wujud perubahannya merupakan sahabat dia sendiri ketika berada di lembah.
Karena alasan itulah dia percaya. Dan dia juga yakin bahwa pedangnya tidak akan mengecewakan.
Terbukti sekarang, gerakan serangan si Burung Pemangsa mulai dapat diimbangi oleh Cakra Buana. Dia hanya mampu sedikit mendesak dalam beberapa saat saja, karena selanjutnya, pertukaran jurus tingkat tinggi kembali terlihat.
Di sisi lain, Pendekar Pedang Kesetanan sudah mengambil sebuah keputusan dalam hatinya. Dan dia ingin tahu apakah keputusannya salah atau tidak.
"Membelah Bulan Menghancurkan Langit …"
"Wushh …"
Hawa panas seketika menyebar. Pendekar Pedang Kesetanan bergerak.
Salah satu jurus pamungkasnya sudah keluar. Entah sudah berapa banyak lawan yang tewas karena tidak sanggup menahan jurus Membelah Bulan Menghancurkan Langit ini.
Jurus pedang ini merupakan kombinasi antara kecepatan dan keganasan. Keras dan lembut. Kadang bergerak seperti membelah, kadang mencecar seperti tidak beraturan.
Itulah keistimewaan jurusnya yang satu ini.
Menyadari bahwa lawan sudah berlaku semakin serius, Cakra Buana tidak bisa kalau hanya bertahan saja.
"Kilat Mengejar Mangsa …"
"Wushh …"
"Gelegarr …"
Jurus kedua keluar. Kali ini lebih hebat lagi.
Sebab begitu jurusnya keluar, kilat mengiringi kehadirannya. Cakra Buana mulai bertempur dengan jurus barunya. Pertama kali dia mengeluarkan jurus ini.
Awalnya Pendekar Tanpa Nama ini tidak ingin mengeluarkan rangkaian 3 Jurus Pedang Kilat. Tadinya dia ingin memainkan jurus dari Kitab Dewa Bermain Pedang. Tetapi setelah di pikir ulang, rasanya jurus itu saja tidak cukup untuk menghadapi lawan seperti mereka ini.
Karena itulah Cakra Buana mengeluarkan jurus baru yang dahsyat. Terlebih lagi, dia ingin tahu sampai di mana kehebatan 3 Jurus Pedang Kilat.
Di saat Pendekar Tanpa Nama mengeluarkan jurus baru yang lebih hebat lagi. Burung Pemangsa semakin berada di posisi terdesak hebat. Beberapa saat lagi, sudah pasti dia akan tewas.
__ADS_1
Sedangkan Pendekar Pedang Kesetanan, dia justru tersenyum saat melihat jurus yang lebih dahsyat sudah dikeluarkan oleh si pemuda.
Walaupun dua orang menyerang Cakra Buana sekaligus, tapi ternyata dia mampu mengatasi mereka secara bersamaan. Bahkan tidak terlihat tanda bahwa dia terdesak.
Justru sebaliknya, Cakra Buana semakin ganas dalam memberikan serangan. Pedangnya bagaikan kilat yang mengejar orang dalam derasnya hujan. Ke mana lawan bergerak, ke situ pula Pedang Naga dan Harimau mengejar memberikan tusukan dahsyat.
Dan di saat gempuran Cakra Buana hampir menelan si Burung Pemangsa, dua tokoh berat lainnya sudah menerjang turun ke arena pertempuran.
Singa Ekor Lima dan Pendekar Sembilan Jari sudah turun tangan.
Singa Ekor Lima mengeluarkan Cambuk Singa yang terkenal sangat sakti. Di tambah lagi ujung cambuk memiliki lima ujung cabang dengan warna berbeda. Serta mengandung racun yang berbeda pula.
Siapapun di Tanah Jawa ini, sudah pasti mereka mengenal keganasan cambuk tersebut. Sekali cambuk si Singa Ekor Lima keluar, sudah pasti akan menelan korban.
Apakah sekarang juga begitu? Entahlah.
Sedangkan si Pendekar Sembilan Jari, bertarung dengan tangan kosong. Dia tidak ahli dalam menggunakan senjata apapun. Jangankan pedang, memainkan pisau dapur saja dia tidak bisa.
Karena keahliannya bukan terletak pada pedang ataupun pisau dapur.
Tapi terletak di sembilan jarinya. Semua pendekar dunia persilatan, sudah tahu bagaimana hebatnya jari itu. Walaupun hanya sekedar jari, tapi tentu bukan jari biasa.
Bahkan baja pun bisa dia tembus dengan mudah. Batu hitam sekalipun bisa dia lubangi semudah melubangi daun.
Bisa dibayangkan betapa hebatnya jurus Pendekar Sembilan Jari. Apalagi kalau ditambah tubuhnya yang terkenal kebal. Lengkap sudah.
Tetapi apakah semua itu akan sanggup dan mampu untuk menghadapi Cakra Buana? Kita lihat saja.
Di saat dua pendekar melesat ke arena dan memberikan serangan hebat. Di saat seperti itu pula kejadian diluar dugaan terjadi.
Ketika cambuk Singa Ekor Lima hampir mengenai kepala Cakra Buana. Mendadak sebuah sarung pedang berwarna merah menahan dan mementalkan cambuk sakti tersebut.
Kejadian ini sungguh mengejutkan kelima pendekar, akibatnya, pertarungan berhenti sebentar.
Semua sudah tahu, sarung pedang berwarna merah sudah pasti milik Pendekar Pedang Kesetanan. Memangnya kalau bukan miliknya, milik siapa lagi?
###
__ADS_1
Jangan lupa baca novel baru saya ya. Silahkan klik profil😀☕