Kisah Pendekar Maung Kulon

Kisah Pendekar Maung Kulon
Kesepakatan


__ADS_3

Belum sempat Ling Zhi menjawab, tiba-tiba saja dari dalam gubuk keluar Eyang Rembang Mangkurat Mangku Jagat.


Cakra Buana dan Ling Zhi pun sedikit terkejut, mereka kembali seperti orang asing ketika Eyang Rembang sudah duduk bersama. Dalam hati, orang tua itu tersenyum. Tadi waktu berdua berani bicara, sekarang malah sama-sama diam. Dasar anak muda.


"Cakra, sekarang aku sudah tahu siapa kamu dan bagaimana keadaan gurumu,"


"Maksud Eyang?"


"Iya, aku sudah mengetahui semuanya. Karena aku sudah bertemu dengan gurumu menggunakan Ajian Ngaraga Sukma (Meraga Sukma). Dia menceritakan secara gamblang kepadaku, sehingga aku tahu di balik semua ini,"


"Lalu, apa saja yang guru katakan? Apakah dia baik-baik saja Eyang?"


"Dia baik-baik saja, kau jangan khawatir dengannya. Justru sebaliknya, dia khawatir kepadamu. Kami berdua sudah membuat sebuah keputusan,"


"Keputusan? Keputusan apa Eyang?" tanya Cakra Buana kebingungan. Dia belum mengerti sepenuhnya apa yang di katakan oleh orang tua itu.


"Kakang Wayang menyuruhku untuk menurunkan ilmu kepadamu. Karena tugas yang kau hadapi ini sangat berat, lagi pula banyak pendekar hebat bermunculan. Dengan mempelajari jurusnya dan jurusku, maka kau akan menjadi pendekar yang lebih hebat lagi. Jurus ini hanya aku turunkan kepadamu, sebab muridku wanita. Sedangkan jurus ini untuk pria saja. Dan satu lagi, kami juga memutuskan supaya kalian mengembara bersama," kata Eyang Rembang menjelaskan.


"Apa …?" kata Cakra Buana dan Ling Zhi secara bersamaan. Kemudian keduanya saling pandang beberapa saat, lalu memandangi orang tua itu lagi.


Eyang Rembang hanya tersenyum melihat dua muda-mudi itu. Orang tua itu bisa menilai bahwa mereka berdua memiliki kecocokan, bahkan mungkin akan menjadi pasangan yang cocok.

__ADS_1


"Kenapa? Kalian tidak suka dengan keputusan kami?"


"Tidak, selaku murid kami akan menuruti semua perintah guru," kembali keduanya bicara secara bersamaan. Entah suatu kebetulan atau apa, karena mereka sendiri keheranan.


"Bagus, kalian berdua memang memiliki kecocokan. Untuk berberapa waktu, kau menetaplah di sini Cakra. Aku akan mengajarkan ilmu-ilmuku kepadamu. Setelah selesai, kalian pergilah mengembara. Menuju Kerajaan Tunggilis, lalu selesaikan tugas. Terutama tugasmu Cakra," kata Eyang Rembang.


"Maaf Eyang, apakah aku juga diberikan tugas?" tanya Ling Zhi secara polos.


"Tentu, kau pun sama. Tugasmu adalah mencari pengalaman, membasmi kejahatan, serta menemani Cakra Buana,"


"Ba-baik guru," jawab Ling Zhi malu-malu.


Setelah berbicara serius, ketiganya kembali membuka obrolan ringan. Terutama tentang dunia persilatan dan situasi kerajaan. Dimana keduanya semakin keruh, dunia persilatan sedang geger karena berbagai tokoh sesat kembali menampakkan diri untuk memenuhi ambisi mereka. Baik itu ingin berkuasa di rimba hijau, maupun ikut memperebutkan Pedang Pusaka Dewa yang kini ada di genggaman Cakra Buana.


Para tokoh tua seperti Ki Wayang Rupa Sukma Saketi dan Eyang Rembang Mangkurat Mangku Jagat bukannya tak mau turun tangan ataupun tak merasa kasihan. Mereka merasakan apa yang di rasakan rakyat, hanya saja untuk turun tangan langsung, belum saatnya. Lagi pula mereka sudah mengundurkan diri dari dunia persilatan.


Para tokoh yang lanjut usia kebanyakan sudah tidak berminat untuk mengurusi urusan duniawi, kecuali dalam keadaan tertentu. Tokoh tua aliran putih lebih baik mencetak murid hingga sakti lalu di suruh untuk meneruskan tugasnya.


Tapi jika tokoh tua aliran sesat, beda lagi. Mereka akan mencetak murid hingga hebat, lalu turun bersama untuk ambisi menguasi dunia persilatan.


Dari pertama awal mula kehidupan, hingga nanti sampai akhir kehidupan, manusia akan tetap menjadi makhluk yang paling berambisi. Berambisi memang di bolehkan, bahkan di wajibkan. Sebab manusia adalah makhluk yang paling sempurna. Tapi jika ambisi itu melewati batas, maka lain lagi ceritanya.

__ADS_1


Di beri emas satu gunung, akan minta lagi dua gunung. Di beri tiga, minta empat. Begitulah sikap manusia. Jika menuruti hawa nafsu dalam diri, sampai kapan pun takkan merasa puas. Selalu ingin bertambah dan tambah lagi.


Maka oleh sebab itu, wajiblah selaku manusia untuk bisa mengendalikan nafsunya sendiri. Manusia di beri akal, di beri perasaan. Bohong jika tidak bisa mengendalikan nafsu. Yang ada bukan tidak bisa, tetapi tidak mau berusaha.


###


Tak terasa waktu begitu cepat berlalu. Sudah hampir satu bulan Cakra Buana menimba ilmu di bawah bimbingan Eyang Rembang Mangkurat Mangku Jagat. Sekarang, Cakra Buana sudah mengalami kemajuan pesat baik dari segi ilmu maupun tenaga dalam.


Ternyata ilmu Ki Wayang Rupa Sukma Saketi dan ilmu Eyang Rembang Mangkurat Mangku Jagat itu bisa disatukan. Dengan syarat Cakra Buana bisa mengatur tenaga dalamnya dengan baik. Ilmu dari Ki Wayang bersifat panas, sedangkan dari Eyang Rembang bersifat dingin.


Jika Cakra Buana bisa menggabungkan kedua ilmu itu sekaligus, maka bisa di jamin orang yang dapat mengalahkannya hanya bisa dihitung jari sebelah tangan. Jika kedua ilmu itu sudah dikuasai secara sempurna, bukan mustahil jika Pendekar Maung Kulon itu akan menjadi pendekar nomor satu di Pasundan.


Hanya saja, teori tak bisa disamakan dengan praktek. Bicara mudah, tapi melakukan susah. Eyang Rembang pun tak bisa menjamin apakah Cakra Buana bisa menggabungkannya atau tidak. Tapi meskipun begitu, dia memberikan harapan bahwa Cakra Buana pasti bisa. Aslakan mau berusaha.


Saat ini hari masih pagi, setelah berpamitan, Cakra Buana dan Ling Zhi langsung berangkat untuk mengembara. Ada rasa berat untuk meninggalkan tempat nyaman itu, tapi tugas Cakra Buana lebih berat lagi. Eyang Rembang tak banyak bicara ketika dia akan pergi, orang tua itu hanya memberi pesan singkat.


"Jangan pernah sombong dengan apa yang bisa di capai saat ini. Sebab di luar sana, mungkin masih banyak yang lebih tinggi dari apa yang kita capai. Selalu merendah, itu lebih baik. Jaga selalu Ling Zhi, jangan sampai kau berani menyakitinya," kata Eyang Rembang kepada Cakra Buana sebelum pergi.


Kini Cakra Buana sedang berjalan di hutan, mereka akan mencari perkampungan supaya bisa sarapan pagi


Cakra Buana memakai pakaian serba putih, Pedang Pusaka Dewa pun di bungkus dengan kain putih. Ling Zhi memilih untuk menggunakan pakaian serba merah, menandakan keberanian seperti wataknya. Muda mudi itu nampak serasi sekali, tampan dan cantik.

__ADS_1


Sepanjang perjalanan, keduanya lebih banyak diam. Meskipun sudah sebulan bersama, tapi tetap ada rasa canggung tersendiri. Terlebih lagi Ling Zhi, baru kali ini dia pergi bersama pria lain. Sebelumnya dia ke mana-mana hanya bersama gurunya saja.


"Nona, sebentar lagi kita akan sampai di perkampungan, mari percepat jalan," kata Cakra Buana.


__ADS_2