
Dewi Bulan saat ini sudah bisa berdiri kembali. Meskipun tubuhnya masih sakit dan luka dalamnya belum pulih, akan tetapi saat ini kondisinya sudah bisa dibilang mendingan.
"Aku harus pergi ke tempat kakang Bagus Segara." gumam Dewi Bulan.
Setelah berkata demikian, nenek tua itupun segeta melesat pergi dari hutan tempatnya bertarung tadi. Dengan ilmu meringankan tubuh yang sudah sempurna, maka dalam beberapa saat saja dia sudah tiba di tempat tujuannya.
Tempat itu adanya di pinggir pantai. Pantai Batu Karang namanya, letaknya berdekatan dengan laut Segara. Nenek tua itu tiba disana ketika sudah sore hari, sehingga pemandangan laut menjadi lebih indah jika disaksikan dari pinggir pantai.
Matahari yang terbenam menampakkan sinar jingganya menyorot ke samudera biru. Menjadikan perpaduan warna yang indah.
Burung-burung pemakan ikan terbang kesana kemari dengan gesitnya. Nenek tua itu terus berjalan menelusuri pantai hingga berhenti ketika dia menemukan sebuah goa.
Dia pun segera masuk ke dalam goa itu. Butuh perjuangan untuk bisa masuk kesana karena harus melewati tebing-tebing yang curam dan tentunya sangat licin.
Goa itulah tujuannya. Sebuah tempat yang menjadi kediaman seorang tokoh dalam dunia persilatan yang bernama Bagus Segara.
Bagus segara adalah kakak angkat dari Dewi Bulan, umur Bagus Segara hanya terpaut sekitar lima tahun saja darinya.
"Kakang Bagus Segara, apakah kau ada didalam?" Dewi Bulan membuka suara ketika sampai di mulut goa.
"Aku ada didalam. Masuklah rai (adik)," terdengar suara serak parau yang menjawab dari dalam goa.
Dewi Bulan pun segera masuk kesana.
Ternyata didalam ada seorang tua yang sedang bersemedi. Mataya dipejamkan dengan kedua tangan seperti menyembah. Wajahnya sudah keriput, kulitnya sawo matang dengan kumis tebal. Alisnya tebal dan memiliki dua warna, putih bercampur hitam.
"Ada apa rai?" tanya orang yang sedang bersemedi itu. Meskipun belum membuka matanya, tapi dia bisa mengetahui siapa orang yang datang itu.
"Aku perlu bantuanmu kang. Aku habis bertarung melawan anak muda yang masih asing, aku menderita luka dalam," kata Dewi Bulan.
Segera saja Bagus Segara membuka matanya dan menyudahi semedinya.
__ADS_1
"Katakan, siapa pemuda yang menjadi lawanmu? Apakah dia sehebat itu hingga kau terluka? Cepat ceritakan semuanya!" kata Bagus Segara menyuruh Dewi Bulan untuk menceritakan semua kejadiannya.
Nenek tua itu pun segera menceritakan semuanya yang baru saja dia alami. Mulai dari pertama bertemu, menguji kemampuan Cakra Buana, hingga akhirnya dia bertempur serius dan mengalami luka dalam yang cukup parah.
Selama Dewi Bulan bercerita, Bagus Segara tidak memotongnya. Dia mendengarkan semua cerita itu dengan baik. Ekspresi wajahnya beberapa kali berubah-ubah selama mendengarkan cerita itu.
"Hemmm … selama ini, aku belum pernah mendengar ada pendekar muda yang bernama Cakra Buana. Apakah dia benar-benar masih hijau dalam dunia persilatan?" tanya Bagus Segara yang masih penasaran.
"Masih kakang. Menurutku dia memang baru menginjakkan kaki. Jika tidak, sudah pasti dia mengenal siapa aku. Tapi sungguh, kepandaiannya bahkan begitu tinggi," ucap Dewi Bulan.
"Sudahlah. Sekarang bersiaplah rai, aku akan mengobati luka dalammu. Sepertinya luka dalam itu memang lumayan parah. Setelah kau sembuh, baru kita akan mencari pemuda bernama Cakra Buana itu," kata Bagus Segara.
Dewi Bulan tidak membantah. Dia kemudian mengambil posisi bersila memunggungi Bagus Segara. Kedua tangannya ditaruh diatas paha, matanya terpejam.
Bagus Segara segera menempelkan kedua telapak tangannya ke punggung Dewi Bulan. Kemudian dia mulai menyalurkan tenaga dalam. Ada rasa hangat yang mulai menjalar memasuko tubuh nenek tua itu.
Setelah beberapa saat, proses penyembuhan pun selesai. Kini Dewi Bulan mulai merasakan badannya lebih segar daripada sebelumnya.
"Baik kakang." jawab Dewi Bulan.
Malam telah tiba.
Rembulan bersinar separuhnya. Awan kelabu bersama beberapa bintang menghiasi langit malam. Hawa dingin begitu menusuk tulang karena dipinggir laut.
Di sebuah goa, dua orang pendekar yang sudah tua sedang bersiap-siap untuk pergi ke dunia luar. Mereka adalah Bagus Segara dan Dewi Bulan. Kedua saudara angkat itu akan mencari pemuda bernama Cakra Buana seperti yang diceritakan sebelumnya.
"Rai, ayo kita pergi sekarang," ajak Bagus Segara.
"Baik kakang."
Keduanya pun lalu pergi dari sana dengan segera.
__ADS_1
Sementara itu ditempat lain, Langlang Cakra Buana saat ini sedang berada disebuah kedai makan. Setelah pertarungannya melawan Dewi Bulan, tidak ada masalah berarti baginya.
Bahkan perjalanannya pun berjalan lancar tanpa halangan.
Saat ini Langlang Cakra Buana berada disebuah kadipaten. Namanya Kadipaten Priangan, tempatnya begitu luas dan ramai, sehingga dia tidak kesulitan untuk mencari sebuah kedai makan.
Di kedai makan itupun sedang banyak pengunjung dari berbagai kalangan. Mulai dari para pendekar, hingga para pedagang.
Pemuda itu terus saja makan tanpa memperdulikan keadaan yang ramai itu. Setelah selesai makan, dia segera membayarnya dan berniat untuk sekedar berkeliling Kadipaten Priangan itu.
Meskipun malam hari, keadaan Kadipaten Priangan tetap saja ramai. Namun ada suatu hal yang ganjil, dimana para rakyatnya banyak yang berasal dari kalangan bawah.
Penduduk di pelosok kadipaten ini hampir semuanya kurus kering. Bahkan pakaian mereka pun lusuh layaknya pengemis ataupun pemulung.
"Sepertinya ada yang tidak beres." gumam Cakra Buana sambil terus berjalan.
Semakin dia berjalan ke pelosok, maka semakin pedih hatinya melihat kesengsaraan rakyat. Rumah-rumah yang kecil berjejer itu sudah bobrok. Bahkan sepertinya tidak pantas jika disebut rumah, kasarnya, hanya ditendang pun akan roboh.
Akan tetapi meskipun keadaan merela yang sangat memprihatinkan, ternyata penduduk itu tidak ada yang memilih untuk menjadi pemulung ataupun pengemis.
"Sampurasun, maaf paman aku ingin bertanya. Apakah hampir semua penduduk disini dalam kondisi kekurangan?" tanya Cakra Buana kepada salah seorang pria tua yang merupakan penduduk asli situ.
"Rampes, ah tidak den. Ini hanya kami saja yang bodoh sehingga bisa dalam kondisi seperti ini," jawab pria tua itu.
Akan tetapi dari raut wajahnya, jelas menggambarkan adanya sesuatu yany disembunyikan.
"Paman, ceritakanlah dengan jelas. Aku bukan siapa-siapa, bahan bukan asli sini. Aku hanyalah pengembara. Karena itu aku mohon ceritakanlah yang sesungguhnya," kata Cakra Buana agak mendesak.
Akan tetapi sebelum pria tua itu menjawab, tiba-tiba saja Cakra Buana dikejutkan dengan kehadiran dua sosok tua yang tiba-tiba saja ada di pinggirnya.
Pria tua itu menjadi ketakutan, bahkan dia dengan buru-buru masuk ke dalam rumah butut miliknya. Menyadari siapa yang datang, Cakra Buana segera mengambil sikap waspada.
__ADS_1
"Mau apa lagi menemuiku? Dan bagaimana kau bisa tahu bahwa aku ada disini?" tanya Langlang Cakra Buana sambil menatap tajam.