Kisah Pendekar Maung Kulon

Kisah Pendekar Maung Kulon
Kerajaan Tunggilis


__ADS_3

Tak terasa, Cakra Buana dan Ling Zhi kini sudah berada di wilayah kotaraja. Keduanya tiba di sana saat pagi-pagi buta. Meskipun kondisi masih pagi-pagi seperti sekarang ini, tapi situasi di sana sudah ramai sekali.


Kehidupan di wilayah kotaraja memang sangat jauh berbeda dengan kehidupan di desa atau kota lain. Di kotaraja ini, kehidupannya jauh lebih baik. Para warga banyak yang berdagang. Mulai dari pakaian, pusaka, beras, penginapan, restoran, dan lain sebagainya.


Selain itu, kehidupan di kotaraja pun sudah jauh lebih maju. Di sini orang akan melihat banyaknya kereta-kereta kuda atau kereta kencana yang berlalu lalang. Biasanya mereka yang memakai kereta kencana adalah orang-orang penting seperti orang kerajaan, ataupun para hartawan.


Di kanan kiri jalan, orang berteriak saling menyahut menawarkan barang dagangannya masing-masing. Gerbang masuk ke kotaraja ini ada tiga. Satu di utara, satu dibagian selatan, dan satu lagi dibagian timur. Sedangkan Cakra Buana dan Ling Zhi, masuk di bagian selatan.


Di dalam kotaraja, banyak berdiri gedung-gedung dan rumah-rumah mewah. Penginapan dan restoran di sini jauh lebih bagus daripada di tempat lain. Di dalam kotaraja ada juga banyak prajurit istana kerajaan yang berjaga. Mereka bertugas untuk menjaga keamanan dan kenyamanan para warga yang mencari kehidupan di sini. Baik itu yang berasal dari dalam, maupun luar daerah.


Kedua pasangan muda itu terus berjalan menyusuri keramaian kotaraja. Keduanya beristirahat sebentar di sebuah kedai makan sambil menunggu munculnya sang fajar. Setelah makan selesai dan fajar menampakkan diri, keduanya lalu melanjutkan perjalanan kembali untuk menuju ke istana kerajaan.


Tapi saat Cakra Buana dan Ling Zhi asyik berjalan, tiba-tiba telinganya mendengar ada derap kaki kuda yang bergerak cepat ke ararhnya. Cakra Buana menghentikan langkah lalu menoleh ke belakang.


Di depannya saat ini, ada dua orang berpakaian serba hitam. Di lihat dari penampilan, keduanya tentulah merupakan orang-orang dari rimba persilatan. Cakra Buana mengenali satu orang orang diantaranya.


Satu orang itu tak lain adalah anak buah Tiga Iblis Gunung Waluh yang kemarin sempat dia hajar.


"Mau apa kau menemuiku lagi? Mau balas dendam? Kau sudah bosan hidup?" tanya Cakra Buana dengan tatapan tajam.


"Ti-tidak. Ma-maaf tuan pendekar. Aku hanya menjalankan tugas dari guruku. Tidak ada maksud lain, sungguh. Ini, guru menitipkan surat untukmu," kata orang itu memberikan sepucuk surat kepada Cakra Buana sambil sedikit ketakutan.


Cakra Buana menerima surat tersebut. Dia tidak bicara apapun kecuali langsung membaca suratnya.


Pendekar Maung Kulon itu lalu membuka dan membaca suratnya. Untuk beberapa saat Cakra Buana terdiam, surat itu ditulis dengan aksara sunda kuno.


"Hei anak muda, siapa pun dirimu, karena kau sudah berani mengganggu bahkan membunuh murid kesayanganku, maka kau harus menerima tantanganku ini. Tiga nyawa murid utamaku wajib di ganti dengan nyawamu. Jika memang kau pendekar, datanglah pada bulan purnama ke Perguruan Gunung Waluh. Aku menantangmu bertarung sampai ada yang mati di antara kita. Jika kau tidak datang, maka jangan sebut dirimu sebagai pendekar".

__ADS_1


"Penguasa Gunung Waluh".


Cakra Buana lalu menggulung kembali surat yang ditulis di atas kulit binatang itu. Dia tidak memperlihatkan ekspresi ketakutan, bahkan bibirnya sempat tersebut tipis.


"Surat tantangan. Hemmm … bulan purnama masih satu sekitar tujuh hari lagi, aku akan datang memenuhi tantanganmu itu," ucap Cakra Buana dalam hatinya.


"Aku akan datang. Sekarang kalian pergilah, jangan membuat kekacauan di sini jika memang masih ingin melihat dunia," kata Cakra Buana sambil memberikan kembali surat tersebut.


"Ba-baik tuan. Kami akan segera pergi. Kami undur diri," ucap anak buah Tiga Iblis Gunung Waluh lalu menarik tali kudanya untuk kembali pulang.


Cakra Buana dan Ling Zhi lalu melanjutkan perjalanan kembali. Keduanya berjalan berdampingan layaknya pasangan suami istri. Ditengah perjalanan, Ling Zhi tiba-tiba bicara menanyakan tentang surat barusan itu.


"Kakang, surat apakah tadi itu? Aku penasaran," tanya Ling Zhi sambil memandangi wajah Cakra Buana dari pinggir sebelah kiri.


"Tadi itu surat tantangan. Guru dari Tiga Iblis Gunung Waluh atau lebih tepatnya guru dari Perguruan Gunung Waluh, menantangku untuk bertarung sampai ada yang mati. Aku disuruh datang ke perguruannya saat bulan purnama nanti," ucap Cakra Buana menjelaskan.


"Tentu saja. Kalau tidak, aku akan di hina olehnya. Bahkan mungkin dia akan menyebarkan berita ke seluruh dunia persilatan bahwa aku adalah orang pengecut,"


Ling Zhi hanya menganggukkan kepalanya, dia mengerti akan hal ini. Dunia persilatan memang kejam. Harga diri di dunia ini sangat dijunjung tinggi. Selain itu, yang berlaku juga hukum rimba. Siapa yang kuat, maka dia yang menang. Dan siapa yang lemah, maka dia akan tewas. Yang kuat selalu berkuasa, dan yang lemah selalu tertindas.


Tak terasa, Cakra Buana dan Ling Zhi sudah tiba di pintu gerbang istana. Gerbang itu di jaga oleh enam orang pendekar dengan kepandaian yang lumayan tinggi. Cakra Buana bisa melihat sampai di mana ilmu mereka dengan caranya sendiri.


Dalam hal apapun, orang yang lebih tinggi memang bisa menilai orang di bawahnya.


"Maaf tuan dan nona, bisa dijelaskan siapa kalian berdua dan ada urusan apa kemari?" tanya seorang penjaga gerbang dengan sopan.


"Perkenalkan, aku Cakra Buana, dan ini Ling Zhi. Kami ke sini ingin menemui Gusti Prabu Katapangan Kresna," kata Cakra Buana sambil memberi hormat.

__ADS_1


"Maaf, apakah ada undangan khusus dari gusti prabu?"


"Tidak ada,"


"Jika tidak ada, kalian berdua tidak boleh masuk," ucap penjaga gerbang.


"Tapi aku memiliki ini," kata Cakra Buana sambil memperlihatkan lencana perak dengan gambar pedang bersilang pemberian Sepasang Kakek dan Nenek Sakti beberapa hari lalu.


"Ahhh …" enam penjaga gerbang itu terkejut melihat lencana yang ditunjukkan oleh Cakra Buana.


"Mari den, nona. Silahkan masuk, silahkan. Nanti rekanku akan mengantarkan kalian berdua," ucap penjaga itu dengan sangat hormat.


Sikapnya menjadi berubah setelah melihat lencana barusan. Bahkan ke semua penjaga gerbang itu, langsung segan kepada Cakra Buana dan Ling Zhi.


"Terimakasih atas kebaikan tuan," kata Cakra Buana memberikan hormat sekali lagi sebelum masuk ke dalam.


Kini keduanya sedang berjalan menuju ke dalam kerajaan didampingi satu orang penjaga gerbang tadi. Sepanjang jalan, Cakra Buana melihat keindahan dan kemegahan Kerajaan Tunggilis.


Di kanan kiri, banyak para punggawa yang sedang menjalankan tugasnya masing-masing. Beberapa taman bunga dan kolam buatan berisi ikan hias, terlihat sangat indah. Di sana, dia juga melihat beberapa bangunan besar yang mengelilingi kerajaan. Bangunan itu di peruntukkan bagi orang-orang penting kerajaan.


Semisal para menteri, jenderal, patih, para pendekar peliharaan kerajaan atau pun lainnya. Kemegahan Kerajaan Tunggilis memang masih di bawah Kerajaan Kawasenan, tapi kenyamanannya bisa di setarakan.


Setelah berjalan beberapa saat, Cakra Buana dan Ling Zhi pun tiba di pintu masuk. Pintu masuk utama itu dijaga oleh dua orang pendekar yang berkepandaian tinggi. Bahkan mungkin hampir setara dengan Ling Zhi.


Mereka memberi hormat kepada Cakra Buana. Perlakuan orang-orang di sini, sangat ramah dan sopan. Sehingga para tamu pun pasti akan merasa diperlakukan dengan sangat baik.


"Mari saya antar den," kata penjaga itu sambil memberikan isyarat dengan tangannya.

__ADS_1


__ADS_2