Kisah Pendekar Maung Kulon

Kisah Pendekar Maung Kulon
Malam Ini Aku Milikmu


__ADS_3

Ling Zhi masih memejamkan kedua matanya. Tubuh gadis itu masih terasa lemas sekali. Bahkan wajahnya masih pucat pasi. Tapi tak dapat dipungkiri, walau bagaimanapun juga, Ling Zhi tetap cantik.


Cakra Buana tersadarkan ketika perutnya berbunyi. Dia menghentikan "aktivitas matanya" lalu bersiap untuk mencari makan.


"Ling Zhi, kau tunggu di sini sebentar. Aku akan pergi mencari makan. Aku yakin kau juga sudah lapar," kata Cakra Buana kepada Ling Zhi.


Meskipun gadis itu tidak menjawab, tapi Cakra Buana tahu bahwa Ling Zhi tidak tidur. Dia hanya kelelahan sehingga diam tak menjawab.


Cakra Buana segera keluar dari goa. Dia menuju kembali ke sungai untuk mencari ikan. Pemuda serba putih itu memilih tempat di bawah air terjun. Selain lebih dalam, menurutnya di sana juga pasti terdapat ikan yang lebih banyak.


Setelah hampir satu jam mencari ikan, Cakra Buana segera naik ke daratan. Hasil tangkapannya lumayan banyak. Ikan yang didapat pun lumayan besar-besar.


Dia segera kembali ke goa, khawatir karena terlalu lama meninggal Ling Zhi. Cakra Buana bergegas mencari kayu bakar, mengumpulkan semua bahan yang diperlukan untuk memanggang ikan.


Bau harum segera tercium memenuhi goa tempatnya tinggal sementara. Ling Zhi pun mencium bau harum itu, dia mencoba untuk bangun. Menyenderkan kepalanya ke dinding giai. Gadis tersebut melihat Cakra Buana baru saja selesai memanggang ikan.


"Ini, makanlah. Kau harus banyak makan supaya tenagamu cepat pulih. Aku rasa dua hari kemudian, kau akan sembuh seperti sedia kala," kata Cakra Buana memberikan tiga ekor ikan panggang kepada Ling Zhi.


"Terimakasih," jawab Ling Zhi.


Keduanya segera makan dengan lahap. Terutama Ling Zhi, gadis itu seperti kelaparan. Bahkan dua ekor ikan bagian Cakra Buana pun diberikannya.


"Kalau sudah selesai, aku sarankan supaya kau bermeditasi. Kita menginap untuk dua malam di sini saja sambil menunggu luka dan tenaga dalammu pulih," ucap Cakra Buana memberikan saran.


"Baiklah kalau begitu. Terimakasih sudah menyelamatkan nyawaku. Jika tadi kau terlambat sedikit lagi, aku tidak tahu bagaimana nasibku," kata Ling Zhi lirih.

__ADS_1


Gadis itu langsung melamunkan apa yang sudah terjadi sebelumnya. Jika Cakra Buana tidak datang, mungkin dia akan menjadi korban "serigala" yang kelaparan.


Tak terasa hari sudah malam. Setelah tadi selesai bermeditasi, Ling Zhi langsung tertidur pulas. Sedangkan Cakra Buana duduk didekatnya. Dia mengingat-ingat kembali semua ajaran Eyang Rembang Mangkurat Mangku Jagat.


Cakra Buana tak henti-hentinya berpikir keras bagaimana cara menggabungkan energi panas dan dingin dalam setiap serangannya. Bagaimanapun juga, dia harus bisa melakukannya. Sebab jika sampai ia bisa, maka kekuatannya akan bertambah dua kali lipat.


Selain itu, dia juga bisa dengan mudah menghadapi musuh-musuh yang selalu mengintainya.


Akan tetapi di tengah keseriusannya, Cakra Buana mendengar gumamnya Ling Zhi. Beberapa kali gadis itu bergumam mengatakan dingin. Bahkan gigi-giginya terdengar gemeretak.


"Dingin …" lirih Ling Zhi untuk kesekian kalinya.


Tanpa sadar, Cakra Buana lalu membaringkan tubuhnya di belakang Ling Zhi. Dengan lembut dia memeluk gadis itu erat. Dan Ling Zhi pun menindih kedua tangan Cakra Buana yang kini memeluknya. Bahkan menariknya sehingga tubuhnya dengan tubuh Cakra Buana menempel.


Entah disengaja atau tidak, tapi Ling Zhi perlahan menarik tangan Cakra Buana ke sebelah atas. Berhenti tepat di dua buah dadanya. Sontak saja Cakra Buana kaget, tapi dia mencoba untuk menenangkan diri. Dia memilih diam, khawatir gadis itu terbangun.


Cakra Buana mulai salah tingkah. Jiwa mudanya meronta, tangan kiri yang tadi memeluk Ling Zhi, kini menjadi bantal untuk gadis itu. Sedangkan tangan kanannya di tarik kembali ke atas dan berhenti lagi tepat di buah dadanya.


Nafas Ling Zhi mulai tak beraturan. Suara desahan nafasnya membuat Cakra Buana semakin panas dingin. Entah bagaimana mulanya, tahu-tahu tangan kanan Cakra Buana perlahan meremas buah dada Ling Zhi sehingga membuat gadis itu mendesah pelan.


"Mmpphh … ahh …" Ling Zhi terus mendesah, suaranya membuat jantung Cakra Buana berdetak tidak karuan.


Tapi tiba-tiba, Ling Zhi membuka matanya. Dia langsung sadar ketika menyadari buah dadanya seperti di remas. Dia menengok ke bawah dan mendapati tangan Cakra Buana yang memang sedang memegang buah dadanya, dan di atasnya ada tangan dia sendiri.


Ling Zhi tidak berusaha melepaskan. Pandangan matanya lalu menuju ke wajah Cakra Buana.

__ADS_1


"Kau mau?" tanyanya dengan sedikit gugup.


Cakra Buana bingung, dia harus menjawab apa? Bilang tidak, sungguh sayang jika harus melewati hal semacam ini. Yah … meskipun mungkin ini adalah hal pertama kali baginya. Bicara iya, dia takut Ling Zhi akan marah atau bahkan benci padanya karena dianggap kurang ajar.


"Kalau memang mau, bicara saja. Lakukan sesukamu, aku kedinginan," kata Ling Zhi dengan mata yang kembali terpejam.


Cakra Buana semakin kaget. Apakah dia mimpi? Ah bukan, ini bukan mimpi. Tapi perkataan Ling Zhi barusan sungguh membuatnya kaget.


"Cepat lakukan. Jangan diam seperti itu jika memang menginginkanku,"


"Malam ini aku milikmu," kata Ling Zhi langsung membuka matanya.


Tanpa banyak bicara lagi, gadis itu segera mencium bibir Cakra Buana yang begitu dekat dengannya. Cakra Buana memejamkan mata, dia tidak mau menjawab. Dia lebih memilih untuk menikmati.


Pemuda serba putih itu membalas ciuman Ling Zhi, semakin lama keduanya semakin panas. Cakra Buana perlahan membuka semua pakaian Ling Zhi. Sehingga kini gadis itu telanjang bulat tanpa sehelai kain pun.


Walaupun keadaan di sekitar gelap, tapi kulit putih Ling Zhi bisa terlihat dengan jelas. Cakra Buana pun segera melepas pakaiannya. Dia kembali menciumi Ling Zhi, bahkan dia menciumi buah dada gadis itu hingga puas. Meninggalkan bekas kecupan di sana.


Cakra Buana mulai turun ke bawah. Menjilati setiap bagian tubuh Ling Zhi. Perlahan tapi pasti, dia mulai melakukan "adegan utama". Ling Zhi dibuat merintih penuh kenikmatan. Begitupun dengan Cakra Buana.


Kedua insan itu kini berhubungan badan. Mereka sama-sama melakukan hal ini pertama kali. Tapi entah kenapa, keduanya bisa melakukan hal itu dengan lancar tanpa kendala apapun. Cakra Buana memanjakan Ling Zhi dengan lembut.


Begitupun Ling Zhi, dia membalas semua perlakuan Cakra Buana dengan penuh kehangatan. Kedua muda-mudi itu terus berhubungan hingga keduanya benar-benar merasa kelelahan setelah mencapai puncak kenikmatan.


"Terimakasih. Sudah lama aku mencintaimu," lirih Ling Zhi sambil mengusap dada bidang Cakra Buana.

__ADS_1


"Aku juga sama. Tapi aku malu untuk mengatakannya padamu," jawab Cakra Buana sambil membelai rambut gadis itu.


Keduanya kembali berhubungan badan hingga menjelang fajar. Semalaman tadi adalah nalam yang indah bagi keduanya. Mereka akhirnya tertidur pulas ketika mentari menampakkan diri sambil berpelukan.


__ADS_2