
Bidadari Tak Bersayap terus berlari dengan menggunakan ilmu meringankan tubuhnya yang susah terbilang berada di tingkat kelas satu. Gadis cantik itu benar-benar berlari bagaikan sebuah bayangan saja.
Andai kata dia melewati kerumunan orang biasa, tentu mereka tidak akan mampu untuk melihatnya. Paling banter mungkin hanya merasakan kesiur angin yang bahkan terasa tajam.
Bidadari Tak Bersayap berlari menembus gelapnya malam. Walaupun tengah malam, tapi keadaan di luar lumayan terang. Sebab sekarang rembulan bersinar tanpa terhalang oleh awan.
Dia berlari menuju ke hutan yang jarang ada orang lewat. Di zaman ini, memangnya ada apa lagi selain hutan rimbun? Hampir di setiap tempat pasti terdapat hutan yang masih terjaga keasrian nya.
Pada zaman ini bahkan populasi binatang pun masih terbilang sangat baik. Keseimbangan ekosistem alam masih terjaga. Burung bertelut dengan tenteram. Harimau dan binatang buas lainnya beranak dengan damai.
Pada zaman ini, manusia dan hewan hidup berdampingan tanpa ada rasa ketakutan. Sebab mereka saling menjaga satu sama lain. Alam masih mau bersahabat dengan manusia karena kelestariannya masih terjaga.
Jarang ada kasus manusia di makan harimau atau di patuk ular. Kalaupun ada, itu hanya sekedar insting binatang liar. Dan yang pasti, di balik semuanya ada alasan tersendiri. Entah si manusianya merusak rumah si binatang, ataupun si manusia berniat membunuh si binatang.
Yang jelas, keseimbangan alam terjalin sangat erat. Manusia bisa tahu bencana dan sebagainya hanya cukup dari isyarat alam.
Tapi, jangan berharap hal yang disebutkan di atas akan ditemukan di zaman sekarang. Alasannya siapapun sudah tahu. Kalaupun ada, itu hanya di daerah-daerah tertentu saja.
Di depan rumah makan yang sebelumnya di kunjungi oleh Cakra Buana dan Bidadari Tak Bersayap, mendadak muncul dua ekor kuda hitam yang gagah serta kekar. Di lihat sekilas saja, siapapun akan tahu bahwa dua kuda itu merupakan kuda jempolan.
Penunggangnya seorang pria tua berumur sekitar tujuh puluh tahun dan seorang pria yang terbilang masih muda. Paling banter umurnya baru mencapai dua puluh delapan tahun.
"Guru, ke mana perginya dia?" tanya si pria yang lebih muda.
"Hemm, dia sudah cukup jauh dari kita. Sepertinya bocah itu lebih dulu mengetahui kedatangan kita," jawab pria sepuh yang dipanggil guru.
"Apakah kita tidak bisa mengejarnya?" tanya lagi si pemuda.
"Apakah kau lupa? Siapa yang bisa melarikan diri dari Dewa Maut?" kata pria sepuh yang menyebut dirinya Dewa Maut.
"Lalu, bagaimana kita mengejarnya guru?"
__ADS_1
"Kau tenang saja. Dengan ilmu meringankan tubuhmu yang sudah tinggi, kau akan segera menyusulku. Nah sekarang, simpan kuda kita di tempat yang aman. Setelah itu kau segera susul aku," kata si Dewa Maut.
"Baik guru. Murid mengerti," jawab si pemuda yang ternyata merupakan murid tunggalnya.
"Bagus," kata si pria sepuh sambil mengangguk.
Setelah itu, dia segera menjejak punggung kuda lalu melesat menembus hutan membelah malam. Arahnya persis yang dituju oleh Bidadari Tak Bersayap.
"Hebat. Jurus Garuda Meluncur Deras Menembus Mega memang tidak pernah mengecewakan. Kalau aku sudah sempurna menguasainya, mungkin aku pun akan seperti guru," gumam si pemuda sambil menggelengkan kepalanya melihat kepergian sang guru.
Setelah itu, dia segera masuk ke hutan sekitar dan mengikat dua kudanya di batang pohon. Selanjutnya, dia pun segera menyusul gurunya dengan ilmu meringankan tubuh yang tidak kalah hebat.
Pria sepuh yang berjuluk Dewa Maut terus berlari semakin lama semakin kencang. Ilmu meringankan tubuh ciptaannya yang diberi nama Garuda Meluncur Deras Menembus Mega, memang terbilang ilmu meringankan tubuh kelas atas.
Bahkan ilmu ini sangat jarang menemui tandingannya. Karena sekali menjejak pohon, luncurannya bisa sampai puluhan tombak sekalipun.
Waktu terus berjalan. Tiga orang yang berjarak berjauhan masing-masing saling melesat menembus gelapnya malam. Bidadari Tak Bersayap berhenti sebentar sambil melihat ke belakang.
"Aku harus lari sejauh mungkin dan mencari tempat untuk menyepi. Aku harus menyempurnakan semua ilmu warisan guru. Kalau sekarang, bukan saat yang tepat untuk membalas dendam," gumam Bidadari Tak Bersayap sambil bersiap pergi berlari lagi.
Namun alangkah kagetnya gadis cantik itu saat dia membalikkan badan. Tepat di depannya sekitar jarak sepuluh tombak, berdiri seorang pria tua dengan rambut panjang sedikit awut-awutan dan sudah memutih. Pakaiannya berwarna abu-abu serta sudah lusuh.
Orang tua itu memandangnya dengan tajam dan penuh amarah.
"Apakah kau kira bisa lari dari Dewa Maut? Hemm, rasanya belum ada orang yang kelas dari tanganku," katanya dengan suara yang serak parau.
"Celaka. Ternyata tua bangka ini benar-benar sakti. Sekarang aku mengerti kenapa guru sampai tewas olehnya,' batin Bidadari Tak Bersayap.
"Siap bilang yang akan melarikan diri? Huh, main tuduh saja," jawab gadis itu dengan kesal.
Si orang tua tertawa mendengar Bidadari Tak Bersayap. Bahkan suara tawanya sampai menggelegar menggetarkan beberapa batang pohon.
__ADS_1
"Hahaha, tidak usah berpura-pura. Di depanku, sekalipun kau nekad ingin pergi, tetap tidak akan bisa pergi,"
"Orang tua tidak tahu malu. Kakek tua, kenapa kau terus menerus mengejarku? Kau pikir aku ini buronan?"
"Kau memang buronan. Buronan muridku,"
"Aku sudah bilang tidak mau menjadi istrinya. Lebih baik aku mati dari pada hidup dengan muridmu,"
"Gadis bodoh!" bentak si kakek tua.
"Kurang apa muridku itu? Dia tampan, bahkan mempunyai ilmu yang sangat tinggi, jarang ada pemuda yang sesakti muridku. Ada aku pula yang akan menjaga kalian. Kurang apa lagi?"
"Sekalipun muridmu menjadi orang nomor satu di dunia persilatan, aku tetap tidak sudi menjadi istrinya,"
Gadis itu benar-benar muak dengan semua ucapan kakek tua yang berjuluk Dewa Maut tersebut. Kalau di suruh memilih, dia akan memilih untuk tidak menikah seumur hidupnya dari pada menjadi istri pemuda itu.
Kalau dari segi kepandaian, murid Dewa Maut memang terbilang sakti. Bahkan bisa di jajarkan dengan tokoh kelas atas. Kalau berlatih beberapa tahun lagi, sudah tentu dia mampu mengimbangi seorang datuk rimba hijau.
Tapi kalau tidak suka, mau bagaimana? Cinta itu tentang ketulusan. Bukan tentang paksaan.
Bidadari Tak Bersayap memilih untuk terus melarikan diri karena dia tidak mampu menghadapi Dewa Maut. Andai kakek tua itu tidak ada, mungkin muridnya sudah menjadi mayat saat ini. Karena betapapun tingginya murid Dewa Maut, gadis tersebut yakin bahwa pemuda itu masih berada di bawahnya.
"Lancang! Sekarang aku tanya sekali lagi, mau atau tidak?"
"Tidak!" bentak Bidadari Tak Bersayap penuh amarah.
"Baik, kau yang memilih. Jangan menyesali keputusanmu itu," kata Dewa Maut tidak kalah geramnya.
Selesai berkata demikian, dia menghilang dari pandangan. Tiba-tiba Bidadari Tak Bersayap langsung terdiam seperti sebuah patung.
Seluruh titik di tubuhnya sudah di totok. Dia tidak bisa bergerak sama sekali. Jangankan melawan, melirik pun sangat susah. Totokan tersebut benar-benar hebat.
__ADS_1