Kisah Pendekar Maung Kulon

Kisah Pendekar Maung Kulon
Pertarungan Antar Tokoh


__ADS_3

"Memalukan. Seorang datuk dunia persilatan membiarkan seorang pemuda di keroyok, bahkan ikut mengeroyok. Ternyata nama besar Ki Ragen Denta hanyalah omong kosong. Julukan Iblis Dua nyawa hanya pemanis saja," kata si Kakek Sakti mengejek Ki Ragen Denta yang ternyata mendapat julukan Iblis Dua Nyawa.


Jika yang bicara seperti itu adalah orang lain, tentu saja datuk dunia persilatan itu takkan diam. Melainkan dia mungkin akan langsung merobek mulut orang tersebut.


Tapi kali ini berbeda. Ki Ragen Denta masih diam, dia tidak langsung menyerang. Hatinya gentar juga ketika mengetahui bahwa yang datang itu adalah Sepasang Kakek dan Nenek Sakti.


Sepasang Kakek dan Nenek Sakti adalah julukan bagi dua pendekar yang selalu berpasangan. Menurut kabar, mereka merupakan suami istri.


Namanya sudah terkenal seantero Tanah Pasundan. Hal ini karena siapapun tahu bahwa Sepasang Kakek dan Nenek Sakti mempunyai kekuatan yang sukar untuk diukur lawan. Mereka bukan seorang datuk dunia persilatan, tapi kabarnya, jika mereka bergabung maka datuk rimba hijau pun akan berpikir dua kali jika ingin bertarung dengannya.


Sepasang Kakek dan Nenek Sakti tinggal di Gunung Hejo, mereka menetap disana sudah puluhan tahun lamanya dan tidak memiliki seorang murid pun. Tapi suami istri itu selalu turun gunung beberapa waktu guna mengecek keadaan Tanah Pasundan.


"Hemmm … tutup mulutmu. Kau tidak tahu persolan yang sesungguhnya. Jadi jangan ikut campur," kata Ki Ragen Denta.


"Memang aku tidak tahu persoalan yang sebenarnya, tapi semua orang tahu bahwa kami Sepasang Kakek dan Nenek Sakti tidak akan diam saja jika melihat ketidakadilan di depan mata. Jika ada kau disini, maka dengan cepat aku bisa menduga siapa yang salah dan siapa yang benar," jawab Kakek Sakti.


"Mulutmu masih saja sama dari dulu. Aku peringatkan sekali lagi, jangan ikut campur dan pergi dari sini atau …"


"Atau apa?" tanya Nenek Sakti sambil membentak.


"Atau aku terpaksa akan melawan kalian juga," ucap Ki Ragen Denta.


"Hahaha … kau kira kami takut heh? Justru itu yang kami inginkan. Sudah lama kami tidak mendapati lawan. Pula, aku sudah ingin mengirimmu ke neraka," jawab Nenek Sakti.


Sementara itu, selama para tokoh tua tersebut bicara, diam-diam Cakra Buana memulihkan tenaga dalamnya yang tadi terkuras banyak dengan menggunakan metode yang diajarkan oleh ki Wayang Rupa Sukma Saketi.


Di sisi lain, Nyai Kembang Ros Beureum dan yang lainnya selalu dalam posisi siap siaga. Bahkan Munding Aji dan Adipati Wulung Sangit pun kini sudah bergabung dengan yang lainnya.


Agaknya pertempuran ini akan berlangsung menjadi lebih seru lagi. Karena sekarang kedua pihak memiliki kekuatan yang seimbang, meskipun jumlahnya berbeda.


"Anak muda, kau sudah selesai memulihkan seluruh tenaga dalammu?" tanya Kakek Sakti kepada Cakra Buana.


"Sudah kek, terimakasih sudah mengulur waktu," ucap Cakra Buana.

__ADS_1


Pendekar Maung Kulon itu sedikit kaget juga ketika Kakek Sakti mengajukan pertanyaan seperti barusan. Sebab, menurut ki Wayang, jarang ada orang lain yang mengetahui metode pemilihan tenaga dalam itu. Tapi sekarang, si Kakek Sakti bisa mengetahuinya.


Jelas bahwa dari sini saja, kekuatan kakek tua itu sangat luhur.


"Bagaimana ki Ragen Denta? Apakah kau berani jika kita selesaikan perkara ini secara jantan?" tanya Kakek Sakti.


"Bedebah. Kau kira aku takut? Sudah lama juga aku memiliki dendam kepada kalian berdua," jawabnya.


"Bagus. Mari kita lihat siapa yang akan mati," kata Kakek Sakti.


"Haittt …"


"Hiaaa …"


Teriakan demi teriakan pada saat akan bertarung mulai terdengar. Mereka semua sudah mendapat lawan masing-masing. Para pendekar tersebut melompat keluar, ke tengah hutan. Untuk mencari tempat yang lebih leluasa lagi.


Ketika sudah menemukan tempat yang cocok, maka para pendekar langsung bertarung satu sama lainnya. Meskipun malam semakin larut, akan tetapi karena rembulan sedang purnama, maka keadaan menjadi sedikit tercerahkan meskipun masih remang-remang.


Para prajurit Adipati tidak semua ikut. Sebagian dari mereka disuruh untuk berjaga di istananya. Sedangkan sisanya, sebagian ikut ke arena untuk membantu majikan mereka.


"Sringg …"


"Sringg …"


Pedang pusaka milik Sepasang Kakek dan Nenek Sakti sudah tercabut. Pedang itu terlihat mengeluarkan cahaya kuning beberapa saat. Terbukti jelas bahwa senjata tersebut bukanlah pusaka biasa.


"Wuttt …"


Ki Ragen Denta juga sudah mencabut tongkat pendek kembar miliknya. Begitupun dengan Nyai Kembang, dia turut serta mengeluarkan selendang pusaka.


"Haittt …"


"Hiyaa …"

__ADS_1


"Wuttt … wuttt …"


Keempat tokoh tersebut sudah melompat dan menerjang. Pertarungan di bawah bulan purnama tak bisa terhindarkan lagi.


Keempatnya langsung menurunkan tangan kejam kepada musuh-musuh mereka. Meskipun kekuatan Nyai Kembang tidak seluhur Ki Ragen Denta, tapi dia memiliki jurus selendang yang sulit dicari tandingannya.


Keempatnya sudah bertarung dengan sengit. Jurus demi jurus sudah berlalu, pukulan dan tendangan sudah dilancarkan oleh masing-masing.


Di sisi lain, Cakra Buana pun sudah bertarung sengit dengan tiga lawannya. Pendekar Maung Kulon itu kini tak mau main-main lagi. Setelah tenaga dalamnya sudah pulih, Cakra Buana langsung mengerahkan ajian yang menggetarkan lawan.


"Langkah Seribu Bayangan …"


"Pukulan Amarah Dewa …"


"Wuttt …"


Cakra Buana bergerak dengan kecepatan diluar nalar. Bahkan ketiganya tidak bisa melihat pemuda serba putih itu dengan jelas. Yang terlihat hanyalah bayang-bayang saja.


"Bukkk …"


"Bukkk …"


Raden Buyut Sangkar, pendekar terlemah diantara kedua rekannya berhasil dilukai oleh Cakra Buana setelah baru beberapa saat bertarung. Dua tahun lalu, mungkin Cakra Buana akan kerepotan menghadapinya. Tapi kali ini jangan harap.


Dia sudah serius, maka semua aajian yang dikeluarkan oleh Raden Buyut Sangkar, bisa ditangkis bahkan dihindari dengan mudah oleh Cakra Buana.


"Heukkk …"


Raden Buyut Sangkar terpental. Dia langsung muntah darah ketika menerima ajian Pukulan Amarah Dewa milik Cakra Buana dua kali.


Cakra Buana terus menggempur Raden Buyut Sangkar tanpa henti sambil sesekali menghindari jurus Munding Aji dan Adipati Wulung Sangit. Betapapun dua pendekar itu berusaha menghalangi Cakra Buana, tetap saja semua usaha itu hanya sia-sia.


###

__ADS_1


Satu dulu ya😁masih ada urusan hehe. Tapi bakal tetep up kok🙏


Semoga pada setia ya😅🙏


__ADS_2