
"Wuttt …"
"Wuttt …"
Tapak Setan dan Golok Maut menyerang. Mereka melancarkan serangan demi serangan dengan sisa tenaga dalam yang di miliki. Tapi karena luka dalam yang mereka derita sangat parah, maka keduanya tidak bisa menyerang secara maksimal.
Bahkan gerakannya pun menjadi kacau balau. Melihat ini, Cakra Buana hanya menangkis untuk beberapa jurus. Pendekar Maung Kulon itu sedikit tak tega melihat dua lawannya terlalu memaksakan diri.
Tapi kalau tidak di bunuh, maka bisa saja malah dia sendiri yang nanti di bunuh. Sebab para pendekar golongan hitam memang sudah terkenal akan kelicikannya.
Tapak Maut memberikan serangan tapaknya yang tidak jelas mengarah ke mana. Begitu pun dengan si Golok Setan. Semakin lama, gerakan dua murid Penguasa Gunung Waluh itu semakin kacau. Sebenarnya mereka memang tidak mampu untuk bertarung lagi.
Hanya saja keduanya dikalahkan oleh rasa malu dan gengsi. Sehingga mereka tidak mau mengakui bahwa dirinya sudah tak sanggup.
Manusia memang cenderung terlalu memaksakan diri. Mereka kadang tidak peduli dengan hal itu. Rasa malu dan gengsi lebih di junjung tinggi daripada keselamatan diri. Sehingga tak jarang di dunia ini, banyak manusia yang menemui ajal atau terkena musibah karena ulahnya sendiri.
Cakra Buana mulai geram. Sebab sekali pun dia sudah memperingatkan beberapa kali, nyatanya tidak di indahkan sama sekali.
"Kalian yang memintaku untuk bertindak kejam. Baik, akan aku kabulkan. Mampuslah …"
"Wuttt …"
Cakra Buana bergerak secepat angin. Kedua tangannya langsung menampar dada Tapak Maut dan Golok Setan dengan sangat telak sambil disaluri tenaga dalam. Jika dalam keadaan normal saja keduanya belum tentu dapat menangkis, apalagi dalam kondisi seperti ini?
Tak ayal lagi, Tapak Maut dan Golok Setan seketika itu juga langsung terpental dua tombak. Keduanya bergulingan hingga ke barisan para murid perguruan yang menyaksikan pertarungan. Tapak Maut dan Golok Setan muntah darah beberapa kali sebelum akhirnya benar-benar tewas.
Melihat seniornya tewas mengenaskan, para murid jadi geram. Mereka tentu saja tidak terima dengan semua ini. Seluruh murid Perguruan Gunung Waluh hendak bergerak, tapi seketika itu juga Cakra Buana memberikan sebuah ancaman.
"Sekali kalian bergerak, aku tidak tanggungjawab jika korban berjatuhan semakin banyak. Jika kalian tidak percaya, kalian boleh membuktikannya," kata Cakra Buana dengan tegas. Suaranya di sertai dengan penyerahan tenaga dalam. Sehingga begitu ia bicara, ada tekanan tersendiri bagi semua murid itu.
"Kalian semua, diam di tempat. Jangan ada yang bergerak sebelum ada perintah. Mengerti!!" Penguasa Gunung Waluh berbicara dengan nada marah kepada semua muridnya.
__ADS_1
Duka akibat kematian tiga muridnya saja belum hilang, kali ini harus ditambah lagi dengan kematian dua muridnya juga. Bahkan Tapak Maut dan Golok Setan, merupakan dua murid yang paling ia sayang. Betapa hancurnya perasaan guru besar perguruan sesat itu, apalagi keduanya tewas di depan matanya sendiri.
Dia menjejakkan kaki ke tanah lalu melenting tinggi hingga mendarat tepat satu tombak di depan Cakra Buana. Matanya memerah akibat menahan kemarahan.
"Kau telah membunuh semua muridku pemuda busuk. Bahkan dua murid kesayanganku kau bunuh di depan mataku," katanya sambil menunjuk muka Cakra Buana dengan telunjuknya.
"Aku tidak merasa bersalah. Mereka sendiri yang cari mati. Aku hanya melindungi diri, karena aku lebih memilih membunuh daripada di bunuh," jawab Cakra Buana dengan tenang.
"Persetan dengan semua ucapanmu. Lima nyawa muridku tidak akan pernah sebanding hanya dengan satu nyawamu,"
"Nyinyinyi …" Cakra Buana mengejek Penguasa Gunung Waluh sambil memanyunkan bibirnya.
"*******. Berani sekali kau mengejekku heh …"
"Kau bisa diam? Jika memang ingin nyawaku, ambillah kalau kau mampu. Jika tidak berani bertarung denganku, bicara saja. Aku takkan membunuhmu kakek tua bau tanah. Asal kau tahu saja, telingaku seperti terbakar mendengar semua ocehanmu," kata Cakra Buana. Sorot matanya menandakan bahwa ia mulai jengkel.
"Mon*et buduk. Mati kau …"
"Wuttt …"
"Heupp …"
Cakra Buana melenting ke atas lalu bersalto dua kali di udara sebelum mendarat. Dia tidak mau membuang-buang tenaganya. Apalagi sebelumnya sudah bertarung.
Serangan jarak jauh itu gagal mengenai sasaran. Sinar hijau terus melesat ke belakang hingga menabrak dinding perguruan sampai jebol.
"Bruggg …" dinding perguruan hancur bagaikan di seruduk banteng.
"Hiattt …"
Begitu serangan jarak jauhnya gagal, Penguasa Gunung Waluh langsung menyambungnya dengan serangan jarak dekat. Gerakannya sungguh sangat cepat. Sehingga tidak ada satu kedipan mata, kakek tua itu telah tiba di hadapan Cakra Buana.
__ADS_1
Dia melancarkan serangan pukulan dan cakaran. Tangan kanannya mencakar bagian leher. Sedangkan tangan kirinya memukul ke ulu hati.
Cakra Buana cukup terkesiap melihat gerakan cepat ini. Tapi buru-buru dia menahan semua serangan tersebut dengan kedua tangannya.
"Plakkk …"
"Plakkk …"
Dua serangan tertahan. Keduanya langsung mundur satu sama lain. Mereka saling pandang, sepertinya sedang mengukur sampai di mana tingkat kemampuan lawan. Cakra Buana melihat bahwa Pengusa Gunung Waluh ini, setidaknya satu tingkat berada di bawahnya.
Di posisi lain, guru besar Perguruan Gunung Waluh tampak terkejut karena tidak bisa melihat sampai di mana kekuatan lawan. Tapi sekejap kemudian, dia menutupi keterkejutannya dengan suara geraman marah.
"Wuttt …"
Kakek tua itu kembali menyerang ganas. Kali ini kaki kanannya yang terjulur mengincar dada Cakra Buana.
"Plakkk …"
Tendangan kembali berhasil di tangkis. Tapi si kakek tua itu sudah menduga hal ini. Sehingga begitu tendangannya gagal, maka dia menyambung dengan pukulan beruntun. Penguasa Gunung Waluh sudah melancarkan serangan-serangan berbahaya kepada Cakra Buana.
Pukulan dan tendangan yang ia berikan jauh lebih hebat dan berbahaya daripada dua muridnya. Tentu saja, sebab dia bukanlah kakek tua sembarangan. Dalam dunia persilatan, dia memang cukup di kenal. Bahkan julukan Penguasa Gunung Waluh sendiri pun, ia dapatkan dari para pendekar yang mengakui kehebatannya.
Namun sayangnya, malam ini dia menemui lawan yang salah. Sekali pun Cakra Buana jauh lebih muda, tapi ilmunya jauh lebih tinggi.
Keduanya sudah terlibat pertarungan sengit. Suara akibat adu pukulan dan tendangan terus terdengar tiada hentinya. Kedua pendekar itu seperti memiliki tulang besi, sehingga begitu beradu, suara nyaring lah yang kerap kali terdengar di telinga.
Di sisi lain, Ling Zhi hanya bisa berdiam diri menyaksikan pertarungan kekasihnya tersebut. Dia belum melakukan apa-apa. Saking bosannya, sampai-sampai Ling Zhi duduk bersila untuk melihatnya.
Dalam satu kesempatan, Penguasa Gunung Waluh berhasil menjebol pertahanan Cakra Buana. Tangan kanannya menyambar leher Pendekar Maung Kulon. Untung bahwa Cakra Buana terkenal dengan kegesitannya. Dia menarik kepalanya sedikit ke belakang sehingga cakaran itu lewat satu jari di depannya.
"Wuttt …"
__ADS_1