Kisah Pendekar Maung Kulon

Kisah Pendekar Maung Kulon
Rencana


__ADS_3

Setelah Ayu Pertiwi tidak kelihatan karena ditelan gelapnya malam, maka Cakra Buana dan Bidadari Tak Bersayap pun segera kembali lagi ke Perguruan Tunggal Sadewo.


Keduanya melesat secepat kilat sehingga hanya beberapa saat kemudian, pasangan yang sangat serasi tersebut telah sampai di tempat tujuan.


Sebenarnya Cakra Buana ingin menanyakan bagaimana dia bisa tahu bahwa dirinya berada di hutan. Tetapi, Pendekar Tanpa Nama itu lebih memilih untuk memendam niat tersebut.


Keduanya segera memasuki kamar masing-masing untuk kemudian segera beristirahat.


Malam semakin larut. Rembulan semakin bergeser ke sebelah barat. Bintang mulai meredup dan angin malam mulai pelan.


Suasana semakin hening.


Tapi pikiran Cakra Buana malah rumit. Semua masalah mulai kembali membayangi pikirannya. Dia ingin segera tertidur, tetapi sayangnya tidak bisa.


Seolah matanya tidak mau dipejamkan. Seolah pikirannya tidak mau melupakan semua kejadian dalam hidup.


Seperti rasa cinta pertama yang tidak akan pernah terlupakan.


Seperti sebuah kenangan manis yang selalu terbayang dalam kesendirian.


Selain kematian, ada juga kenangan yang akan terus membayangi setiap langkah manusia manapun di muka bumi ini.


Kenangan manis akan melekat dalam jiwa. Sedangkan kematian sudah melekat dalam suratan takdir.


Sepanjang malam, Cakra Buana tidak bisa memejamkan matanya. Seolah rasa kantuk tidak mau menghampiri dirinya ketika beban masalah sedang terpikirkan.


Barulah ketika pikirannya mulai tenang, Pendekar Tanpa Nama mulai bisa tidur dengan nyenyak. Itupun waktunya sudah hampir subuh.


###


Tiga hari telah berlalu. Tanpa terasa, waktu terus berjalan begitu cepat.


Sekarang kondisi baru pagi hari. Tapi keadaan di Perguruan Tinggal Sadewo telah ramai melebihi hari biasanya.

__ADS_1


Semua murid sudah bangun. Sebagian mulai berlatih. Sebagian lagi beres-beres, sisanya mengerjakan pekerjaan yang lain.


Cakra Buana, Tuan Santeno Tanuwijaya, Bidadari Tak Bersayap beserta beberapa guru lainnya, sedang duduk di balairung Perguruan Tunggal Sadewo.


Seperti yang diceritakan sebelumnya, pihak Perguruan Tunggal Sadewo telah melakukan perjanjian dengan para tamu penting. Tiga hari ke depan mereka sepakat akan menyerang markas utama Organisasi Tengkorak Maut yang sudah beberapa waktu ini sangat meresahkan Tanah Jawa.


Dan waktu yang telah ditentukan itu, jatuh tepat pada hari ini. Kamis Legi bulan kesepuluh, malam purnama.


Rencananya, mereka akan mencari markas Organisasi Tengkorak Maut lewat informasi yang diketahui oleh Nyai Tangan Racun Hati Suci si datuk rimba hijau dari Barat.


Sekarang, orang-orang yang ada di balairung itu sedang menantikan kedatangan tamu penting mereka bersama pasukan yang akan di bawanya.


Menurut Tuan Santeno, para tamu pentingnya akan tiba di perguruan ketika siang hari saat matahari tepat berada di atas kepala.


Tapi itu hanya perkiraan semata, masalah pastinya dia belum bisa memastikan.


Waktu terus berjalan. Pagi hari telah lewat dan digantikan dengan siang hari.


Saat hampir tiba waktu makan siang, tiba-tiba seorang murid berlari tergopoh-gopoh ke balairung.


"Baiklah, siapkan penyambutan seadanya. Sebentar lagi kami akan segera menyusul," jawab Tuan Santeno.


Si murid mengangguk mengerti. Setelah memberikan laporan, dia segera kembali untuk mempersiapkan semuanya.


Tuan Santeno dan yang lain segera keluar untuk menyambut para tamu. Kedatangan tamu penting dan kita tahu, tapi tidak ikut menyambut, itu artinya keterlaluan sekali.


Semua tamu penting yang utama kini sudah duduk bersama tuan rumah di balairung. Pasukan mereka juga sedang beristirahat di tempat yang telah disediakan.


Sekarang di balairung bertambah ramai. Di depan mereka ada berbagai macam hidangan, mulai dari yang ringan sampai yang berat. Tapi yang berat di sini bukan batu ya.


Karena jam makan siang telah tiba, maka mereka memutuskan untuk makan terle ih dahulu.


Semua hidangan yang disediakan terlihat sangat enak. Belum lagi berguci-guci arak sudah tersedia di sana.

__ADS_1


Setelah makan siang selesai dan berbincang ringan sudah puas, mereka kemudian mulai berbicara hal serius terkait rencana penyerangan.


Obrolan pembuka telah dilakukan. Kini saatnya obrolan yang serius.


"Tuan, seperti yang aku bicarakan tiga hari lalu. Aku akan membawa Nyai Tangan Racun Hati Suci si datuk dari Barat untuk mengetahui di mana letak markas Organisasi Tengkorak Maut. Dan sekarang, orang yang aku maksudkan sudah ada di sini. Bagaimana kalau dia yang langsung bicara untuk menjelaskan semuanya?" tanya Raja Tombak Emas dari Utara.


Tuan Santeno mengangguk tanda setuju. Saat ini bukan saat yang tepat untuk bersantai. Oleh sebab itu, dia pun meresponnya dengan serius.


"Usulan yang bagus. Menurutku, lebih cepat lebih baik,"


"Baiklah kalau begitu. Nyai Tangan Racun, silahkan," kata datuk dari Utara itu mempersilakan si datuk dari Barat untuk bicara.


"Sebelumnya perkenalkan, namaku Jayanti, orang-orang biasa menyebutku Nyai Tangan Racun Hati Suci. Sebagian tokoh menganggapku sebagai seorang datuk rimba hijau, padahal aku sendiri merasa belum pantas untuk menjadi salah satu datuk dunia persilatan," katanya merendah.


Umurnya sudah mencapai enam puluhan tahun. Tetapi wajahnya belum terlihat keriput kecuali hanya sedikit. Bahkan wajah itu sedikit bercahaya dan menggambarkan kecantikan pada usia muda.


Pakaiannya ungu tua. Rambunya sebagian sudah memutih. Postur tubuhnya agak tinggi dengan bentuk yang cukup wah.


Kalau saja dia masih muda, mungkin akan banyak pendekar pria yang menyukai dirinya.


Nyai Tangan Racun Hati Suci memang terkenal sebagai salah satu orang yang selalu merendah. Tapi walaupun begitu, semua orang sudah tahu dan bagaimana kehebatan wanita tua tersebut.


Setelah memperkenalkan diri yang disambut senyuman oleh semua orang di sana, nenek tua itu segera melanjutkan kembali perkataannya.


"Terkait keberadaan markas utama Organisasi Tengkorak Maut, aku memang mengetahuinya. Hanya saja, tempatnya cukup lumayan jauh dari sini. Sebab markas utama mereka berada di dalam hutan yang belum terjamah oleh manusia,"


"Maaf Nyai, apa nama hutan yang menjadi markas utama itu?" tanya Tuan Santeno belum mengerti dengan jelas


"Hutan larangan. Sebuah hutan yang cukup luas dan indah. Namun tidak pernah ada yang berani masuk ke sana karena tempat tersebut dijaga ketat oleh para anggota organisasi," kata Nyai Tangan Racun.


"Hemm, lalu bagaimana cara supaya kita bisa masuk ke sana?" tanya Kakek Sakti Alis Tebal angkat bicara.


"Mudah saja, asal kalian mau menuruti semua perkataanku, maka aku rasa tidak akan ada masalah sama sekali. Yang penting kita harus bergerak sesuai rencana,"

__ADS_1


"Baiklah kalau begitu, kami semua akan menuruti semua perkataan Nyai. Mohon arahannya, sebab hal ini menyangkut masalah Tanah Jawa sekaligus dunia persilatan. Kalau sampai rencana kita ini berhasil, bisa dipastikan nama Nyai akan bertambah harum dari pada sebelumnya," kata Tuan Santeno.


"Semoga saja semuanya sesuai rencana. Baiklah, mari kita mulai membahas lebih lanjut lagi," kata Nyai Tangan Racun


__ADS_2