
Waktu berlalu tanpa terasa. Saking betahnya kita hidup di dunia, terkadang waktu terasa sangat singkat. Padahal sebenarnya sangat lama. Jika kita menunggu waktu, ada kalanya akan merasa bahwa waktu itu seperti siput. Berjalan sangat lama. Tapi saat tidak menunggu waktu, ia terasa sangat cepat berlalu seperti halnya anak panah meluncur.
Siapapun tidak bisa mengalahkan waktu.
Dua minggu telah berlalu semenjak perang melawan Kerajaan Kawasenan. Selama dua minggu itu, bekas Kerajaan Kawasenan, Kerajaan Galunggung Sukma, dan Kerajaan Sindang Haji, sudah sepenuhnya di kuasi oleh pihak Kerajaan Tunggilis.
Setiap masing-masing kerajaan dijaga oleh orang-orang pilihan untuk sementara waktu. Walaupun kerajaan itu belum resmi di satukan dengan Kerajaan Tunggilis, tapi tiga kerajaan tersebut sudah menjadi bagian di dalamnya.
Tinggal beberapa langkah lagi, maka impian semua pendekar terdahulu yang ingin menyatukan Tanah Pasundan akan segera tercapai. Hanya tinggal menunggu beberapa saat. Semuanya akan terjadi.
Pengorbanan para prajurit, pengorbanan para pendekar, akhirnya terbayar juga. Apa yang mereka inginkan dan impikan, sebentar lagi terwujud.
Saat ini kondisi masih pagi hari. Tetapi sudah banyak para tokoh yang berkumpul di sebuah ruangan besar Kerajaan Tunggilis. Jumlahnya tidak kurang seratus orang. Mereka terdiri dari berbagai macam pendekar dan tokoh-tokoh yang memiliki nama.
Mereka sedang membicarakan langkah selanjutnya dari semua ini. Terutama, mereka akan menentukan kapan pelantikan Cakra Buana sebagai penguasa besar Tanah Pasundan.
Semua orang menantikan hal ini. Bahkan Prabu Katapangan sendiri menantikan saat itu. Di mana keponakannya akan menjadi seorang raja besar di sebuah wilayah.
Masalah dia dan keluarganya, sudah tidak terlalu dipikirkan. Yang jelas, mereka masih akan mendapatkan tempat pantas di dalam kerajaan.
Jika semua orang menunggu waktu untuk dirinya bersedia dilantik menjadi raja besar, maka dia sendiri menunggu waktu untuk benar-benar bisa menghilangkan kesedihan di hatinya.
Walaupun dua minggu adalah waktu yang cukup lama, tapi Bagi Cakra Buana sangat sebentar. Kejadian paling memilukan dalam sejarah kehidupannya masih jelas membekas dalam kenangan.
Kenangan.
Seseorang bisa bahagia karena kenangan. Tapi seseorang bisa bersedih pula karena kenangan. Kenangan tak berbeda jauh dengan cinta. Keduanya memang sangat sederhana. Tapi menyimpan berjuta makna. Orang bisa hidup karena kenangan. Orang bisa mati pula karena kenangan yang tak kunjung hilang.
Sama seperti cinta.
Orang pun bahkan bisa mati karena cinta. Berapa banyak orang yang mati dan hidup hanya karena cinta?
Jika jawabannya banyak, maka sebanyak itu pula orang yang mati dan hidup karena kenangannya.
__ADS_1
Dan itulah yang terjadi kepada Cakra Buana. Dia tidak bisa menghilangkan kenangannya.
Semenjak kejadian memilukan itu, sosok Pendekar Maung Kulon berubah menjadi pendiam. Dingin. Dan sangat jarang bicara. Tetapi karena hal itu pula, dia terlihat menjadi lebih berwibawa.
Saat ini dia sedang duduk bersama Prabu Katapangan di hadapan seratusan orang itu. Tak ada kata yang terucap dari mulutnya. Kalau di ajak bicara, ia akan menjawab. Tapi kalau tidak, maka dia akan tetap diam membisu.
"Cakra, kapan kau akan siap untuk dilantik menjadi raja?" tanya Prabu Katapangan Kresna dengan lembut.
Yang ditanya tidak langsung menjawab. Dia sedang menimbang-nimbang terlebih dahulu.
"Maaf paman, aku belum bisa untuk menjadi seorang raja," ucap Cakra Buana.
"Ma-maksudmu?"
"Aku belum siap. Lebih tepatnya belum mampu,"
"Tapi, kenapa kau bisa berkata seperti itu? Nanti banyak orang-orang yang akan membantumu pula Cakra,"
"Hatiku masih memiliki ganjalan paman," kata Cakra Buana.
Sudah pasti ganjalannya berkaitan dengan sumpah dan dendam. Kalau bukan itu? Apalagi?
"Hahhh …" Prabu Katapangan menghela nafas dalam-dalam. "Kalau begitu, bagaimana dengan kedudukan ini?"
"Untuk sementara biar paman saja yang melanjutkan. Aku rasa, mereka akan menerima paman dengan baik. Selama paman menjalankan tugas dengan benar, selama itu pula semua orang akan setuju,"
"Paman kan sudah tua Cakra. Lagi pula, paman menjabat sebagai raja hanya amanat saja. Selebihnya, kedudukan ini akan menjadi milikmu,"
"Aku mengerti. Tapi aku belum bisa menerimanya untuk saat ini," tegas Cakra Buana. Sorot matanya berubah tajam dan dingin.
"Baiklah. Paman tidak akan memaksamu,"
"Aku harap paman mengerti,"
__ADS_1
Raja itu mengangguk. Dia tentu saja mengerti tentang apa yang di ucapkan oleh Cakra Buana. Karena dia pernah mengalami hal yang sama ketika muda.
"Kau bicaralah kepada semua orang yang ada di sini," kata Prabu Katapangan menyuruh Cakra Buana.
"Baik,"
Kemudian dia berjalan dan berhenti tepat di hadapan semua orang yang ada di sana.
"Sampurasun dulur (saudara),"
"Rampes," jawab mereka serempak.
"Aku berdiri di sini saat ini untuk membicarakan keputusan. Untuk sementara waktu, kedudukan raja aku serahkan dulu kepada paman, yaitu Prabu Katapangan. Alasannya karena aku masih muda dan belum berpengalaman. Karena hal itu, aku ingin mencari pengalaman dahulu. Selain alasan di atas, ada juga hal lain yang tidak bisa di ungkapkan kepada saudara semuanya. Kalau sudah tiba waktunya, aku akan kembali menerima tugas yang dipercayakan oleh para pendahulu. Tetapi untuk saat ini, aku belum bisa dan belum pantas. Mohon maaf apabila keputusan saya ini kurang berkenan," ucap Cakra Buana penuh wibawa.
Semua orang mengangguk mengerti. Terlebih mereka yang sudah berumur. Apa yang dikatakan oleh Cakra Buana bisa diterima oleh pikirkan mereka. Semuanya mengangguk penuh hormat.
Walaupun Cakra Buana belum menjadi raja, tetapi semua orang tersebut sangat hormat dan patuh kepadanya. Sebab kelak, pemuda itulah yang akan menjadi pemimpin besar.
Namun di saat semua orang menyetujui hal tersebut, ada sebuah suara keras dan sedikit membentak yang membuat kaget mereka.
"Tunggu. Apa maksudmu bicara seperti itu? Apa kau tidak memikirkan para pahlawan yang telah berjuang demi mengembalikan kejayaan Tanah Pasundan? Apakah pengorbanan mereka kau anggap tidak berarti?" setelah berkata seperti itu, ada seseorang yang tiba-tiba melompat ke tengah dan berhenti di depan Cakra Buana.
"Apakah perkataanku tadi kurang jelas?"
"Alah, itu hanyalah alasanmu saja. Kalau memang tidak mau menjalankan tugas yang telah dipercayakan kepadamu, lebih baik kemarin tidak usah melakukan peperangan," ucap orang tersebut yang usianya baru sekitar tiga puluh delapan tahun. Wajahnya lumayan tampan, tapi matanya mencorong tajam.
"Tolong jaga perkataanmu saudara," kata Prabu Katapangan.
Semua orang merasa kesal kepada orang ini yang berani bertingkah di depan mereka. Ada beberapa yang berniat untuk memberikan pelajaran kepada orang tersebut, tetapi Cakra Buana memberikan isyarat untuk tidak bergerak lebih jauh.
"Maaf, semuanya sudah aku jelaskan di atas. Jadi aku harap saudara bisa mengerti apa yang aku katakan," ucap Cakra Buana masih mencoba untuk sabar.
"Aku tahu. Paling kau tidak mau karena belum bisa melupakan kekasihmu yang tewas itu bukan?" tanya orang itu dengan senyuman penuh ejekan.
__ADS_1
"Tolong jaga bicaramu, jangan sekali-kali menyebut kekasihku," kata Cakra Buana yang berubah menjadi lebih dingin.