
Ling Zhi sudah tiba di sisi Cakra Buana, dia tidak langsung bicara. Melainkan hanya diam saja sambil memandangi wajah tampan kekasihnya tersebut. Ling Zhi menyaksikan bahwa Cakra Buana sedang bersemedi, jadi gadis itu tidak mau mengganggunya sebelum selesai.
Cakra Buana memang sedang larut dalam ketenangannya. Dia menghimpun tenaga dalam dari langit dan bumi. Menenangkan dirinya yang sedari tadi telah dilanda amarah. Di sana, Cakra Buana juga sedang mengobati luka-luka yang dia derita.
Setelah sekitar sepeminum teh kemudian, Pendekar Maung Kulon itu membuka matanya secara perlahan. Cakra Buana merasa tubuhnya sudah membaik, hanya rasa lelah saja yang tersisa. Begitu membuka mata, dia melihat Ling Zhi sedang duduk sambil terus memandanginya.
Gadis itu tersenyum lembut ketika Cakra Buana membalas pandangannya.
"Kau tidak papa kakang? Aku sangat khawatir dengan keadaanmu," kata Ling Zhi sambil tersenyum manis.
"Aku tidak papa Ling Zhi. Jangan khawatir, kau sendiri bagaimana. Apakah lukamu telah pulih kembali?"
"Sudah kakang, kau juga jangan terlalu mengkhawatirkanku," kata Ling Zhi.
Cakra Buana hanya membalas dengan senyuman simpul. Dia hendak berdiri, tapi dengan segera Ling Zhi menahannya untuk duduk kembali.
"Aku ingin menanyakan sesuatu kepadamu. Boleh?"
"Tanyakan saja," jawab Cakra Buana.
"Apakah tadi kakang menggunakan Ajian Tiwikirama yang disebut-sebut dalam pewayangan itu?" tanya Ling Zhi. Raut wajahnya penuh dengan tanda tanya, dia benar-benar ingin memastikan jurus yang sebelumnya digunakan oleh Cakra Buana.
"Benar. Itu Ajian Tiwikrama, kau mengenalnya?"
"Tidak terlalu. Hanya saja, eyang guru pernah bercerita tentang ajian itu. Dan setelah aku mengingat kembali, ternyata memang sama, hanya saja aku belum yakin sepenuhnya. Itu sebabnya aku bertanya langsung kepadamu," ujar Ling Zhi menjelaskan.
"Ah … ternyata kau sudah tahu. Itu memang Ajian Tiwikrama, aku diajarkan oleh mendiang Eyang Resi Patok Pati sebelum perang kerajaan beberapa tahun lalu. Aku jarang sekali menggunakan ajian ini, baru dua kali ini saja. Untunglah bahwa tadi aku tidak lepas kendali," tutur Cakra Buana sambil sedikit menjelaskan.
Ling Zhi hanya diam saja mendengarkan. Kekagumannya kepada Cakra Buana semakin bertambah, ternyata pemuda itu memang memiliki kepandaian yang sangat tinggi. Hanya perlu waktu saja untuk mematangkan pengalamannya.
"Ling Zhi, ayo kita kembali ke goa. Aku ingin memastikan keadaan Sepasang Kakek dan Nenek Sakti," ajak Cakra Buana yang menyadarkan Ling Zhi dari lamunannya.
__ADS_1
"Aih aku hampir lupa. Baiklah, mari kakang,"
Cakra Buana dan Ling Zhi lalu pergi dari tempat tersebut. Keduanya menuju ke goa sebelumnya, jaraknya tidak terlalu jauh. Sehingga baru beberapa saat saja, mereka sudah sampai di goa itu.
Cakra Buana kembali memeriksa keadaan Sepasang Kakek dan Nenek Sakti. Ternyata keadaan dua tokoh tua itu sudah lebih baik daripada sebelumnya. Nafas mereka sudah terlihat beraturan, tenaga dalam yang sebelumnya berantakan pun, kini sudah kembali normal. Tinggal membutuhkan waktu beberapa hari saja bagi keduanya untuk memulihkan kondisi tubuh.
"Ling Zhi, kau tunggu di sini sebentar," kata Cakra Buana sambil melangkahkan kaki hendak keluar goa.
"Kau mau ke mana kakang?"
"Aku lapar. Aku akan berburu sebentar untuk makan kita," jawab Cakra Buana.
"Baiklah. Hati-hati,"
Cakra Buana mengangguk. Dia kembali melanjutkan langkahnya yang terhenti.
###
Setelah beberapa saat menunggu, akhirnya Pendekar Maung Kulon itu kembali juga. Di tangannya terlihat ada tiga ekor ayam hutan berukuran cukup besar yang sudah dibersihkan. Agaknya dia memang sengaja membersihkannya lebih dulu supaya ketika tiba di goa, hanya tinggal memanggang saja.
Ling Zhi mendekati kekasihnya itu, dia duduk di pinggirnya sambil ikut memanggang ayam. Kedua muda-mudi itu pun asyik memanggang ayam hutan. Mereka yang tadi sempat kedinginan, kini menjadi lebih hangat.
"Kakang …" Ling Zhi memanggil Cakra Buana.
"Emm …"
"Aku boleh meminta sesuatu kepadamu?"
"Apa itu? Katakan saja. Jika aku mampu, aku akan melakukannya," kata Cakra Buana.
"Aku … aku ingin berguru padamu. Barangkali kau mau mengajariku atau memberikanku sebuah ajian,"
__ADS_1
"Hahaha …" Cakra Buana tertawa mendengar permintaan Ling Zhi. "Bukankah kepandaianmu sudah tinggi? Aku yakin, tidak banyak pendekar yang bisa mengalahkanmu, apalagi semua ilmu yang kau miliki merupakan pemberian dari Eyang Rembang,"
"Kau terlalu memujiku kakang. Memang benar, tapi aku juga ingin mendapatkan ilmu baru darimu. Atau kalau bisa, aku ingin mempunyai ilmu yang khusus untuk kita berdua," ucap Ling Zhi.
"Hemmm … baiklah, nanti kalau memang sudah waktunya, aku akan mengajarimu,"
"Sungguh?"
"Tentu," jawab Cakra Buana sambil mengacak-acak rambut Ling Zhi.
Mendapat perlakuan seperti itu, Ling Zhi menjadi malu. Pipinya yang putih langsung memerah tomat. Tanpa berkata lagi, dia meletekan ayam yang sedang di panggangnya lalu langsung memeluk Cakra Buana.
"Eh … jangan sekarang. Nanti ketahuan yang lain bisa malu," kata Cakra Buana sambil berusaha melepaskan pelukan Ling Zhi dengan lembut lalu mengacak-acak rambutnya.
"Maaf, aku lupa. Mungkin karena saking senangnya," ucap Ling Zhi malu-malu.
Keduanya lalu melanjutkan kembali hingga ayam hutan itu benar-benar matang. Setelah matang, Ling Zhi dan Cakra Buana lalu bergegas mendekat ke Sepasang Kakek dan Nenek Sakti.
"Ling Zhi, kita makan satu ekor ayam ini untuk berdua. Sisanya untuk kakek dan nenek," kata Cakra Buana.
"Baik kakang, aku mengerti,"
Pasangan serasi itu pun makan dengan lahapnya. Bahkan sesekali mereka saling menyuapi. Meskipun hanya ayam panggang seadanya, tapi keduanya tetap enak karena mereka bersyukur.
Memang begitu seharusnya. Apapun, asal kita tidak lupa mengucap rasa syukur, maka akan ada perbedaannya. Sebab tak sedikit di antara manusia jarang bersyukur atas apa yang telah tuhan berikan. Kita lupa, bahkan mungkin memang jarang bersyukur terhadap hal-hal kecil.
Di kasih ini, minta itu. Di kasih itu, minta lagi. Begitulah sifat manusia. Mereka selalu ingin nambah dan nambah lagi, tanpa adanya ucapan syukur. Lalu … sudahkah kita bersyukur hari ini?
Saat sedang asyik saling menyuapi, tiba-tiba keduanya mendengar suara orang terbatuk. Cakra Buana dan Ling Zhi pun menengok ke arah belakang, ternyata Kakek dan Nenek Sakti sudah siuman. Hebatnya, mereka bisa bangun secara bersamaan.
"Ah … kakek dan nenek sudah sadar. Kemarilah, aku sudah menyiapkan dua ekor ayam panggang untuk kalian," kata Cakra Buana sambil menghampiri dua tokoh tua itu diikuti oleh Ling Zhi di belakangnya.
__ADS_1
"Uhukkk … terimakasih Cakra, lagi-lagi kau sudah menyelamatkan kami," kata Kakek Sakti.
"Sudah sepantasnya kita saling membantu kek. Sudah, sudah, mari kita makan," ajak Cakra Buana sambil membantu Kakek Sakti untuk berjalan.