Kisah Pendekar Maung Kulon

Kisah Pendekar Maung Kulon
Hei … tunggu!!!


__ADS_3

Salah satu anggota Lima Setan Darah yang bernama Sugriwa merasa telinganya panas seperti terbakar atas semua ucapan Nini Hideung itu. Sugriwa merupakan anggota yang paling muda sekaligus paling tinggi badanya serta kekar. Tubuhnya diatas manusia normal lainnya.


Maka tanpa menunggu komando dari Munding Aji, dengan gerakan yang tiba-tiba, dia melesat kedepan mengirimkan sebuah pukulan tenaga sakti yang dahsyat. Tangan kanannya dikepalkan lalu di hentakkan ke depan.


"Wuttt …"


Sebuah sinar merah melesat cepat ke arah Nini Hideung. Akan tetapi nenek tua itu hanya berdiri seperti patung. Dia tidak menghindari serangan tersebut. Setelah serangan Sugriwa hampir mengenai tubuhnya, dengan segera dia mengibaskan tongkat yang dipegang.


"Wuttt …"


Serangan jarak jauh Sugriwa langsung berbelok dan menyasar kepada sebuah pohon besar.


"Blarrr …"


Pohon yang menjadi sasaran itu langsung hancur berkeping-keping.


"Akakakak … mainan anak kecil." ejek Nini Hideung.


Kemarahan Lima Setan Darah sudah benar-benar memuncak. Maka ketika serangan Sugriwa gagal, kelimanya langsung maju menyerang Nini Hideung.


"Haittt …"


"Hiyaaa …"


Lima Setan Darah maju menyerang. Tapi Nini Hideung masih tetap berdiri dengan tenang. Kelima orang itu sudah mengirimkan sebuah serangan pukulan dan tendangan dari lima arah berbeda.


"Wuttt …"


"Wuttt …"


"Plakkk …"

__ADS_1


"plakkk …"


"Plakkk …"


Kelima serangan itu berhasil ditangkis oleh Nini Hideung hanya dengan kibasan tongkatnya saja. Bahkan Lima Setan Darah langsung terpental mundur.


"Bocah, sekali lagi aku peringatkan untuk menyerahkan gadis itu kepadaku. Kalau tidak, aku tak segan-segan lagi kepada kalian," kata Nini Hideung dengan tatapan mata yang tajam.


"Diam kau nenek tua …"


"Wuttt …"


Munding Aji mengirimkan serangan jarak jauh yang lebih dahsyat dari Sugriwa.


"Dikasih hati tapi kalian minta jantung, baik kalau begitu."


"Haaa…"


Nini Hideung merentangkan kedua tangannya ke depan lalu di hentakkan.


"Blarrr …"


Melihat lawannya terpental, maka Nini Hideung pun tidak menyia-nyiakan kesempatan. Dia langsung melesat menuju ke arah Irma Sulastri lalu kemudian pergi masuk ke hutan lagi. Cepat sekali gerakan nenek tua itu hingga Lima Setan Darah pun tak dapat berbuat apa-apa.


"Terimakasih bocah-bocah ingusan. Sekarang kalian boleh lewat … akakakak," kata Nini Hideung yang suaranya sudah jauh.


Melihat ini, Lima Setan Darah hanya duduk memandangi kemana perginya nenek tua itu.


"Kakang, bagaimana ini? Nenek tua itu membawa pergi gadis tadi," kata salah seorang yang bernama Bara Dikta.


"Akupun tak tahu. Sudahlah, kita segera pergi dari sini dan melaporkan kejadian ini kepada kanjeng adipati," kata Munding Aji sambil berdiri lalu menghampiri kudanya.

__ADS_1


Keempat dari anggota Lima Setan Darah tidak membantah. Mereka pun turut berdiri lalu menghampiri kuda masing-masing mengikuti pemimpin mereka.


Akan tetapi belum sempat kelimanya memacu kuda kembali, tiba-tiba saja dari kejauhan terdengar ada seseorang yang sedang berlari menghampiri mereka sambil berteriak.


"Hei … tunggu!!!"


"Wuttt …"


Setelah ucapan itu selesai, tiba-tiba saja didepan Lima Setan Darah sudah berdiri seorang pemuda dengan pakaian yang serba putih. Wajahnya jelas menggambarkan kemarahan.


"Siapa kau?" tanya Munding Aji.


"Justru aku yang harusnya bertanya. Bukankah kalian ini Lima Setan Darah?"


"Kalau iya, kenapa?"


"Bagus, kalau begitu tidak perlu basa-basi lagi. Cepat katakan dimana gadis anak kepala desa Gading Bodas yang sudah kalian bawa? Serahkan juga barang yang sudah kalian bawa," kata pemuda yang tak lain adalah Cakra Buana sendiri. Nadanya tegas dan mengandung kemarahan yang sudah ditahan.


"Hemmm … enak sekali kau bicara. Gadis itu sudah dibawa pergi oleh orang. Sedangkan tentang barang-barang ini, jangan berharap kami mau memberikannya kepadamu," kata Munding Aji sambil membalas tatapan tajam Cakra Buana.


"Masalah barang itu terserah kau saja, itu gampang. Yang terpenting cepat katakan dimana gadis itu?" tanya Cakra Buana dengan nada tinggi.


"Heh … apa kau tuli? Aku sudah katakan bahwa gadis itu dibawa lari oleh seseorang. Baru saja kami bertarung dengannya, apa kau kira aku berbohong?"


"Orang seperti mana bisa berkata jujur? Jika tidak bisa dengan cara halus, maka terpaksa aku akan menggunakan cara kasar," kata Cakra Buana yang langsung mengambil ancang-ancang untuk menyerang.


"Haittt …"


Cakra Buana melesat ke arah Munding Aji. Serangan yang tiba-tiba dan cepat itu membuat Munding Aji terperanjat. Untung dia sudah terbiasa, sehingga secara refleks dirinya langsung melompat dan bersalto dua kali di udara sambil menahan serangan Cakra Buana.


"Heuppp …"

__ADS_1


"Heuppp …"


Munding Aji mendarat dengan halus, begitupun dengan Cakra Buana. Pemimpin Lima Setan Darah itu langsung mengambil sikap waspada. Keduanya sudah saling berhadapan satu sama lain.


__ADS_2