
Setelah berucap demikian, tiba-tiba Surapati kembali menyerang Ki Jaya Wikalpa bagaikan singa terluka. Serangannya lebih berbahaya dan lebih tajam daripada sebelumnya.
Tapi sekarang jurus silat yang dia keluarkan sangat berbeda, dia mengubah dari kepalan tangan menjadi sebuah cakaran yang tajam. Cakaran itu begitu tajamnya, rasanya kulit pohon pun bisa jebol olehnya.
Tapi meskipun lawan sudah menyerang dengan ganas, Ki Jaya Wikalpa masih tetap tenang ketika menangkis semua serangan tersebut.
Dari sini saja bisa dilihat bahwa orang tua itu setidaknya punya kepandaian setingkat ataupun beberapa tingkat lebih tinggi daripada Surapati.
Tapi meskipun ketua Kelompok Ucing Hideung itu tahu bahwa musuh belum merasa terdesak oleh serangan yang dia berikan, nyatanya Surapati tidak peduli.
Bahkan dia bertambah gencar serangannya, pendekar tua itu sekarang mengubah pola gerakan. Dia mulai mengelilingi Ki Jaya Wikalpa dengan cepat, entah apa yang dia lakukan.
Tapi semua itu terjawab setelah tiga kali memutari Ki Jaya Wikalpa, tiba-tiba Surapati menerkam dengan buas kepada Ki Jaya Wikalpa. Serangannya menjadi lebih kuat dan cepat, juga lebih banyak tipuannya.
Inilau jurus yang dia andalkan, yaitu "Kucing Mengintai Mangsa", dimana dia lebih dahulu mengelilingi untuk membuat musuh pusing. Setelah itu, baru dia akan menyerangnya secara mendadak dan tanpa diduga.
Tapi sayangnya Surapati salah perhitungan, disangkanya lawan akan pusing, yang ada malah sebaliknya. Bukannya menyerang beruntun, yang ada malah dia kini diserang secara ganas oleh Ki Jaya Wikalpa.
Ternyata pendekar tua itu juga mengeluarkan jurus andalannya, yaitu "Tangan Bayangan Menampar Setan". Sehingga gerakannya diubah sedemikian rupa hingga seperti kepakan sayap yang menyambar kesana kemari.
Tentu saja Surapati gelagapan bukan main, dia mulai terdesak dan kerepotan menahan serangan Ki Jaya Wikalpa yang tiada hentinya.
Ki Jaya Wikalpa terus memberikan serangan berupa tamparan yang begitu dahsyatnya. Bahkan mungkin jika tamparan itu diarahkan kepada sebuah batu besar, maka batu itu akan pecah menjadi serpihan-serpihan kecil.
__ADS_1
Gerakannya selalu berputar bagaikan baling-baling. Kadang ke atas, kadang ke bawah. Lalu bergerak menampar dari samping kanan dan kirinya.
Hingga suatu saat dia memberikan serangan tamparan tipuan dari arah depan, namun ketika Surapati akan menahannya, Ki Jaya Wikalpa melompat melewati kepala Surapati lalu mendarat tepat di belakangnya dan langsung memberikan serangan tapak tepat mengenai punggung orang tua itu.
"Ughhh …"
Surapati tersungkur ke depan hingga hampir jatuh. Tapi buru-buru dia menguasai dirinya, namun tetap saja dia muntah darah.
"Keparat!!! Rasakan ini …"
"Wushh …"
Ketua Kelompok Ucing Hideung itu tiba-tiba melompat lalu menyamping dan memberikan tendangan lewat kaki kanannya. Sedangkan kaki kiri dia lipatkan.
Melihat lawan mengeluarkan ajian pamungkas, Ki Jaya Wikalpa pun melakukan hal yang sama.
"Ajian Bolo Sewu …"
"Desss …"
Kedua pendekar tua itu beradu ajian pamungkasnya masing-masing. Beberapa tarikan nafas kemudian Surapati terpental sampai enam tombak ke belakang menabrak pohon.
Kaki kananya patah, bahkan tulang pahanya sampai menyembul keluar akibat tidak kuat menahan Ajian Bolo Sewu yang dahsyat.
__ADS_1
Tidak sampai disitu, Ki Jaya Wikalpa pun kembali melesat ke arah Surapati lalu memberikan serangan tapak yang teramat kuat ke dadanya.
Hingga pada akhirnya ketua Kelompok Ucing Hideung tersebut tewas dengan dada hancur dan paha yang patah dengan tulang menyembul keluar.
Sementara itu, pertarungan antara Langlang Cakra Buana dengan Raka Gini pun berlangsung sengit dan seru. Kedua pendekar itu sudah melewati lebih dari lima puluh jurus.
Tapi sampai sekarang Raka Gini belum mampu memberikan luka walaup seujung rambut kepada murid Eyang Resi Patok Pati itu. Yang ada malah dirinya yang sudah beberapa kali terkena pukulan pemuda serba putih itu.
Ditengah pertarungannya dia mendengar jeritan terakhir dari suara yang dia kenal, yaitu Surapati. Betapa terkejutnya Raka Gini melihat ketua utamanya tewas mengenaskan.
Hingga akhirnya dia kehilangan konsentrasinya dan serangannya menjadi tidak karuan lagi. Tentu saja ini kesempatan yang amat baik bagi Langlang Cakra Buana.
Pemuda serba putih itu mundur ke belakang perlahan lalu kembali melesat dengan mengeluarkan "Ajian Dewa Tapak Manggala". Hingga akhirnya Langlang Cakra Buana bisa memberikan serangan telak yang mengenai dada Raka Gini.
"Ahhh …"
Raka Gini terpental lima tombak jauhnya lalu bergulingan dan muntah darah. Dia mencoba untuk bangkit kembali, tapi sayang … luka dalam yang diakibatkan "Ajian Dewa Tapak Manggala" sangatlah parah.
Sehingga Raka Gini tidak dapat bangkit kembali dan akhirnya tewas dengan pembuluh darah pecah. Pertarungan yang berlangsung lumayan lama dan cukup dahsyat itu dimenangkan oleh Langlang Cakra Buana dan Ki Jaya Wikalpa.
###
Mohon maaf jika kemarin tidak up, repot soalnya hehe. Tapi novel ini tentunya tidak akan hiatus. Jika novel ini sesuai selera, mohon untuk direkomendasikan kepada yang lainnya ya🙏🙏
__ADS_1