Kisah Pendekar Maung Kulon

Kisah Pendekar Maung Kulon
Pertarungan Kelas Atas


__ADS_3

Lima orang pendekar yang gagah berani sudah berdiri berhadapan bersama lawan mereka masing-masing. Pendekar Pedang Kesetanan akan bertarung melawan Singa Ekor Lima.


Sedangkan Cakra Buana akan melawan dua orang sekaligus. Walaupun Pendekar Tanpa Nama tidak terlalu yakin mampu melawan mereka tanpa kesulitan, tapi dia sangat yakin akan kemampuannya yang sekarang.


"Giwangkara, terima serangan pertamaku …" Singa Ekor Lima membentak lalu melancarkan serangan pertama sebagai tanda dimulainya pertarungan mereka.


Sekaligus juga sebagai sesuatu yang memecah ketegangan.


Cambuk bercabang lima miliknya sudah melesat cepat ke arah Pendekar Pedang Kesetanan. Cambuk tersebut meliuk-liuk bagaikan ular yang menyerang mangsanya.


Bunyi yang menggelegar mengiringi lesatan cambuk.


Tak tanggung-tanggung, serangan pertama dia sudah mengeluarkan jurus cambuknya yang membahana.


Hawa pembunuhan dan kekuatan besar terasa menekan di sekitar arena pertarungan. Pendekar Pedang Kesetanan masih terdiam. Dia menunggu waktu yang tepat untuk bergerak.


Walaupun usianya sudah mencapai empat puluh tiga tahunan, tapi tubuhnya masih kokoh bagaikan sebongkah batu hitam pinggiran sungai.


Ketika cambuk bercabang lima tiba di depannya, Pendekar Pedang Kesetanan menyambutnya dengan sarung pedang.


"Trangg …"


Bunyi pertama terdengar. Percikan api segera terlihat di sana. Selanjutnya, dia mulai memberikan serangan balasan.


Jurus pedangnya terkenal dengan kecepatan dan ketepatan. Selain itu, Pendekar Pedang Kesetanan terkenal karena jurusnya sangat sederhana.


Tetapi di balik kesederhanaan itu, ada sebuah kengerian tersendiri. Justru karena jurusnya yang sangat sederhana malah membuatnya menjadi pendekar pedang ternama.


Jurusnya tidak banyak. Dia hanya memiliki lima jurus saja. Tetapi setiap jurus merupakan rangkaian yang sangat berbahaya. Semakin tinggi tingkatannya, semakin dahsyat juga jurusnya.


Jurus pertama yang dia miliki adalah Membunuh Satu Tarikan Nafas, selanjutnya, Membelah Bulan Menghancurkan Langit, Menusuk Dari Segala Sisi, Mencari Cahaya di Kegelapan, dan terakhir Permainan Setan Pedang.


Dan untuk menghadapi Singa Ekor Lima, dia menggunakan jurus kedua.


"Membelah Bulan Menghancurkan Langit …"


Sekali dia berteriak, tubuhnya sudah menerjang dengan deras ke arah lawan. Pedang Haus Darah sudah dia mainkan dengan kecepatan dan keganasan yang sulit di bayangkan.

__ADS_1


Pertarungan sengit segera terlihat. Pendekar Pedang Kesetanan sedang berusaha mendesak Singa Ekor Lima. Sebab menurutnya, cara bertarung melawan orang yang menggunakan cambuk adalah dengan menyerangnya dari jarak dekat.


Cambuk memang efektif untuk menyerang dari jarak cukup jauh. Tetapi cambuk kurang tepat kalau digunakan untuk bertarung jarak dekat.


Karena itulah Pendekar Pedang Kesetanan sedang berusaha keras. Pedangnya berkelebat membelah dan menusuk ke berbagai sisi.


Tapi, Singa Ekor Lima juga bukanlah tokoh sembarangan. Tidak percuma dia menyandang julukan tersebut.


Karena ke mana pun Pendekar Pedang Kesetanan bergerak, cambuk bercabang limanya selalu mengikuti dan mengancam titik berbahaya.


Cambuk itu menjadi lebih dahsyat jika di pegang oleh pemiliknya. Kadang-kadang lemas seperti sekor ular, kadang-kadang mendadak keras bagaikan tongkat baja.


Pendekar Pedang Kesetanan sudah mulai geram. Pertarungan mereka telah mencapai lima belas jurus, tapi selama ini dirinya belum mampu mendesak lawan karena cambuknya selalu mencecar.


Giwangkara Baruga mengubah jurusnya. Jurus ketiga yaitu Menusuk Dari Segala Sisi sudah dia keluarkan. Jika tadi selalu membelah udara, maka sekarang menusuk ruang hampa.


Tusukannya sangat cepat, bagaikan hujan ribuan pedang. Gerakannya sangat sederhana tapi juga sangat kokoh.


Singa Ekor Lima tidak mau kalah. Dia mengubah pula jurusnya.


Di sebelahnya, Cakra Buana juga sudah memulai pertempurannya melawan Burung Pemangsa dan Pendekar Sembilan Jari. Pada awalnya dia tidak ingin memakai pedang, tetapi karena kedua lawan memaksa, mau tidak mau dia harus menurutinya.


Saat ini Cakra Buana sedang berusaha mencecar si Burung Pemangsa. Dengan jurus pertama dari serangkaian 3 Jurus Pedang Kilat, Pendekar Tanpa Nama terus menggempur lawan dengan ganas.


Sepak terjangnya membuat tokoh tua itu ngeri sendiri. Tubuhnya terasa dihujani oleh ribuan kilat yang menyambar. Burung Pemangsa belum mampu untuk memberikan balasan yang berarti karena semua celahnya di tutup oleh Cakra Buana.


Di sisi lain, Pendekar Sembilan Jari juga turut menyerang Cakra Buana. Menurutnya saat ini adalah waktu yang tepat untuk menyerangnya. Karena dengan keadaan dia yang sekarang, otomatis si pemuda akan terfokus kepada satu sasaran saja.


Tetapi kenyataan itu ternyata salah besar. Karena walaupun Cakra Buana sedang mencecar Burung Pemangsa dengan ganas dan penuh konsentrasi, dia sama sekali tidak mengabaikan keadaan sekitar.


Begitu melihat satu lawannya hendak menyerang dari belakang, Cakra Buana langsung mengubah gaya serangannya.


Tubuhnya berputar sambil terus mencecar lawan. Namun kali ini bukan hanya satu lawan, tetapi dua lawan sekaligus dia gempur secara bersamaan.


Hebat sepak terjangnya. Walaupun usianya masih terbilang muda, tapi nyatanya sudah mampu mendesak dua tokoh yang sudah memiliki ketenaran dalam dunia persilatan.


Namun walaupun begitu, rasanya untuk menyelesaikan pertarungan ini diperlukan waku yang tidak sebentar. Apalagi sekarang Cakra Buana harus menghadapi dua tokoh besar sekaligus.

__ADS_1


Yang paling membuatnya cukup tertekan adalah si Pendekar Sembilan Jari. Orang tua itu terus menyerangnya tanpa henti. Bahkan kesembilan jari yang sakti itu selalu menusuk-nusuk berusaha menggapai sasaran empuk.


Setiap tusukannya menimbulkan desiran angin yang tajam. Belum lagi tenaga dalam dahsyat yang terkandung di dalamnya.


Andai kata Cakra Buana lengah, sudah pasti tubuhnya akan berlubang akibat tusukan yang maha sakti tersebut.


Pada akhirnya masing-masing pendekar memuji lawannya di dalam hati. Cakra Buana menguji dua tokoh tua itu karena pertahanan mereka sangatlah kokoh. Terlebih si Burung Pemangsa, walaupun dia dalam keadaan terdesak, tapi untuk membuatnya kalah atau tewas, rasanya sangat sulit sekali.


Selain itu, dua tokoh tersebut juga memiliki serangan yang sangat berbahaya. Kalau pondasinya masih seperti dulu, mungkin Cakra Buana tidak akan sanggup bertahan sampai sejauh ini.


Sedangkan dua lawannya juga memuji Cakra Buana. Diam-diam mereka merasa kagum terhadap si pendekar muda ini. Sekarang sedikit banyak Pendekar Sembilan Jari jadi paham kenapa Pendekar Pedang Kesetanan ingin bersahabat dengannya.


Tapi di balik rasa kagumnya, ada rasa dendam yang sedari tadi terus membesar dan semakin membesar. Bahkan saking besarnya, rasa kagum tadi segera hilang dalam seketika.


Di saat seperti itulah Burung Pemangsa dan Pendekar Sembilan Jari mencari celah kosong.


Begitu celah terlihat, keduanya berteriak nyaring mengeluarkan jurus mautnya masing-masing.


"Garuda Marah Mencakar Mega …"


"Wushh …"


"Sembilan Jari Pengoyak …"


"Wushh …"


Dua jurus dahsyat dari dua tokoh hebat sudah keluar. Semua serangan yang tadi dilancarkan oleh Cakra Buana seketika tidak ada artinya sama sekali.


Justru dalam keadaan seperti sekarang ini, posisinya menjadi berbalik dalam sekejap mata.


###


Kalau up cuma satu maaf ya, soalnya udah lewat target. Tadinya mau ngga up, tapi takut di demo wkwkwk. Jadi di usahakan author tetap up. Setelah bulan baru, in shaa allah dua bab sehari kembali hadir😀mohon pengertiannya ya🙏


Silahkan baca juga karya terbaru author, Legend Of Lightning Warriors II: Mata Dewa


Oke gengs, salam hangat☕

__ADS_1


__ADS_2