
"Maaf, apa maksud saudara?" tanya Cakra Buana sedikit gagap.
Dia seolah tidak mengerti maksud perkataan orang tersebut. Hal ini dilakukan supaya dirinya bisa lepas dari "sarang harimau" ini tanpa kesulitan.
Cakra Buana bukan berarti takut. Hanya saja dia tidak mau menambah masalah lagi. Karena kalau masalah semakin banyak, maka tugas dia yang lain tentu tidak akan bisa segera terselesaikan.
Terutama tugas dari gurunya untuk mengirimkan kitab ke Perguruan Rajawali Putih di Tiongkok.
"Kau jangan berpura-pura lagi. Sudah tentu kau adalah orang yang kini menjadi buronon. Ciri-cirinya sama seperti dirimu. Lihat ini, di papan pengumuman jelas tertulis ciri-cirinya. Di mana buronan itu merupakan pendekar muda dan memakai pakaian merah. Bukankah ini dirimu?" tanya si orang tadi dengan suara kencang sehingga mengundang semua pasang mata yang ada di rumah makan mewah tersebut.
"Kau tidak bisa lagi lolos anak muda. Lebih baik menyerahkan diri daripada terpaksa kami memakai kekerasan," kata seorang yang lainnya.
Cakra Buana tidak dapat berkutik lagi. Tak kurang dari dua puluh pendekar sudah mengepung dirinya.
Walaupun sepuluh di antaranya merupakan pendekar kelas bawah, tetapi sepuluh lainnya sudah termasuk pendekar kelas menengah bahkan kelas atas.
Tentu ini menjadi kenyataan yang sangat sulit. Lari tidak mungkin, bertarung justru akan sangat beresiko tinggi. Bukan tidak mungkin Cakra Buana akan kehilangan nyawanya.
Tapi apa mau dikata? Dia sudah terkepung rapat. Bagaikan seekor kijang di tengah-tengah puluhan serigala kelaparan.
Semua orang yang ada di rumah makan mewah itu, sudah melakukan persiapan. Suasana yang tadinya hening, kini mulai gaduh karena semua pendekar sudah bersiap.
'Sepertinya tidak ada jalan lain lagi,' batin Cakra Buana.
"Heh, kenapa kau diam saja? Apa kau tuli?" bentak seorang pendekar.
Cakra Buana hanya tersenyum melihat watak orang tersebut. Dia berlagak seperti pendekar kelas atas, padahal aslinya hanya pendekar kelas bawah. Mungkin dia berani karena banyak pendekar lain yang berada di pihaknya.
Terkadang seseorang berani karena banyak orang yang mendukung. Coba kalau dia sendiri, apakah dia mampu berlagak congkak juga? Tentunya belum tentu.
Tanpa diduga semua pendekar sebelumnya, tiba-tiba Cakra Buana melesat cepat menubruk jendela rumah makan. Gerakannya sangat cepat. Sehingga hampir semua pendekar terlambat bereaksi.
Namun begitu mereka sadar, puluhan orang lainnya segera mengejar Cakra Buana dengan kekuatan yang masing-masing di miliki para pendekar itu.
Cakra Buana menggunakan ilmu meringankan tubuhnya hampir mencapai tingkat maksimal. Dia yakin dengan ilmunya. Tapi sayang, lawannya bukan hanya pendekar kelas teri.
Sehingga tidak terelakkan lagi beberapa pendekar kelas atas sudah mampu mengejarnya.
Beberapa saat kemudian, Enam pendekar kelas atas sudah berdiri di hadapan Cakra Buana. Mereka menghalangi pendekar muda itu sehingga dia tidak bisa lari lagi.
__ADS_1
Tidak berapa lama kemudian, empat belas pendekar lainnya sudah tiba di sana. Cakra Buana kembali dikepung. Bedanya, kalau tadi dia dikepung di rumah makan yang sempit karena terdapat barang-barang, maka kali ini dia lebih leluasa walaupun posisinya sama.
Cakra Buana terkepung di sebuah halaman luas pinggir hutan.
Apakah dia akan lari kembali? Tentunya tidak. Karena Cakra Buana sadar, setinggi apapaun ilmunya, dia tidak akan bisa lari lagi.
Falsafah hidup bahwa di atas langit masih ada langit sudah mendarah daging dengannya. Sehingga Cakra Buana cukup sadar diri bahwa posisinya sekarang sangat genting.
Kematian sudah menunggunya.
"Kau tidak akan bisa lari lagi sekarang," kata si orang tua yang merupakan pendekar kelas satu.
"Hemm, aku sudah tahu. Lagi pula, aku tidak akan berusaha untuk melarikan diri," jawab Cakra Buana.
"Apakah kau sudah menyerah dan ingin mengakui apa yang telah kau lakukan?"
"Jangan berharap. Sampai matipun aku tidak akan menyerah. Toh aku tidak merasa telah membunuh Tuan Muda Margono Tanuwijaya," kata Cakra Buana.
"Hemm, bukti sudah jelas. Saksi pun ada, lalu untuk apa kau berbohong lagi?" tanya balik si orang tua yang tidak percaya terhadap semua ucapan Cakra Buana.
"Apa yang aku katakan adalah kebenaran nyata. Kalian percaya atau tidak, terserah,"
"Tidak," tegas Cakra Buana.
"Walaupun puluhan pendekar ini menyerangmu?"
"Tentu saja,"
"Sungguh keras kepala sekali," bentak si orang tua.
"Kalau tidak keras kepala, bukan Pendekar Tanpa Nama namanya,"
"Bagus. Nyalimu sungguh besar. Aku ingin melihat sampai di mana kemampuanmu itu," kata si orang tua.
Selesai berkata, dia segera memberikan aba-aba kepada para pendekar kelas bawah. Pendekar yang berjumlah sekitar sepuluh orang itu, langsung mengurung lalu menyerang Cakra Buana.
Berbagai macam senjata sudah diacungkan oleh masing-masing pendekar tersebut. Satu orang memberikan komando, maka sisanya segera menuruti.
Sepuluh pendekar menyerang Cakra Buana secara bersamaan.
__ADS_1
Sedangkan sepuluh lainnya masih menanti di pinggir pertarungan.
Sabetan pedang dan sodokan tongkat serta beberapa senjata lainnya sudah melayang ke arah Cakra Buana.
Tubuhnya menjadi sasaran empuk puluhan pendekar tersebut. Sayangnya, mereka terlalu memandang remeh pendekar muda itu.
Pendekar Tanpa Nama tidak mau membuang-buang waktunya. Oleh karena alasan tersebut, pedang pusaka yang memiliki ketenaran sejagat raya segera dia keluarkan.
Pedang Naga dan Harimau.
Sekali dia membuka kain putih penutup pedang, saat itu juga dia langsung mencabutnya dari sarung pedang.
"Trangg …"
Dentingan pertama terdengar satu kali. Bunga api memercik membumbung tinggi ke udara.
Cakra Buana tidak menahan diri lagi. Dia segera bergerak membenturkan Pedang Naga dan Harimau bersama senjata sepuluh pendekar.
Hanya dalam satu kali gebrakan, sepuluh senjata itu sudah terpotong menjadi dua bagian karena beradu dengan Pedang Naga dan Harimau.
Pedang yang sangat mengerikan. Ketajamannya bukan omong kosong belaka. Bahkan baja pun bisa dia tebas dengan mudah.
Terbukti sekarang bagaimana saat dia menebas sepuluh macam senjata lawannya. Kejadian ini sungguh diluar dugaan semua pendekar yang ada di sana.
Sepuluh pendekar itu terbengong memandang bekas potongan senjatanya. Begitu mereka masih menatap tidak percaya, Cakra Buana kembali bergerak.
Dengan tangan kirinya, dia berhasil mengirimkan sebuah hantaman tapak telak yang tepat di dada sepuluh pendekar. Mereka semua segera terpental sepuluh langkah jauhnya.
Kesepuluh pendekar seketika muntah darah. Mereka tidak mampu melanjutkan pertarungan lagi karena organ dalamnya terguncang oleh hantaman Cakra Buana.
Hanya satu kali menyerang, sepuluh pendekar telah terluka. Sepuluh pendekar yang merupakan kelas tengah dan kelas atas pun masih sedikit tidak percaya dengan kejadian seperti ini.
"Bagaimana anak muda itu bisa melakukan semua ini? Hemm, ternyata dia memiliki bekal yang mumpuni," gumam seorang pendekar kelas atas.
Hanya selang beberapa saat, empat pendekar kelas menengah tiba-tiba menerjang Cakra Buana juga. Gerakan mereka sedikit lebih tangkas dan jauh lebih cepat daripada sepuluh pendekar sebelumnya.
Dua pedang, satu keris, dan satu tombak sudah melesat. Berbagai macam sinar meluncur deras mengarah kepada Cakra Buana.
"Trangg …"
__ADS_1
Pedang Naga dan Harimau kembali bergerak. Empat senjata dari berbagai sisi sudah tertahan di batang pedang dan sarungnya.