
Suasana masih hening. Wajah Ratih Kencana mulai kembali normal setelah beberapa kejap memucat. Dia berusaha mengatur nafasnya kembali setelah terasa terhenti.
Sepertinya dia sedang berusaha menenangkan diri. Tapi … entahlah.
"Ma-maksudmu?" tanyanya sedikit gugup.
Cakra Buana tertawa pelan melihat gadis yang di hadapannya tersebut. Dengan tenang pemuda itu kembali berkata kepadanya.
"Bukankah ucapanku sudah jelas? Kau bilang tadi beruntung bisa melakukan hal itu denganku. Tapi aku juga bilang, kau tidak beruntung karena gagal meracuniku bukan?"
"Aku belum mengerti arah perkataanmu," ucap Ratih Kencana.
"Belum mengerti atau memang pura-pura tidak mengerti?"
"Bagaimana kau bisa menuduhku seperti itu kepadaku?" tanyanya sedikit membentak.
Seseorang, baik itu pria atau pun wanita, memang biasa selalu membentak ketika dia merasa terpojok dalam suatu persoalan. Entah untuk membela diri, atau juga untuk menakuti lawan bicaranya. Yang jelas, hal seperti ini sudah sering terjadi dari dahulu kala.
"Dan bagaimana kau kau tega berbohong kepadaku?" tanya balik Cakra Buana dengan tenang.
Tidak ada keraguan dan ketakutan dalam wajahnya. Padahal, dia sadar bahwa dirinya memang sudah diracuni. Dan racun itu kini sudah mulai menjalar di tubuhnya. Tali Cakra Buana masih bisa mengendalikan racun tersebut.
"Aku tidak berbohong kepadamu," kata Ratih dengan nada semakin tinggi.
Melihat gelagat seperti yang ditujukan oleh gadis itu, Cakra Buana semakin tertawa. Tawa yang manis dan penuh ketenangan.
Menurutnya sungguh lucu, dia sudah jelas-jelas tahu bahwa gadis itu meracuni dirinya. Tetapi si pelaku malah berusaha membela diri dengan caranya.
Tetapi Cakra Buana tidak menyalahkannya. Karena dia juga paham bahwa semua orang berhak atas pembelaan dirinya. Walaupun pembelaan atas hal yang salah.
__ADS_1
"Baik, biarkan aku menjelaskan semuanya,"
"Lanjutkan," tukas Ratih Kencana.
"Semalam kau mau melakukan itu kepadaku, tentu ada tujuannya sendiri. Lima puluh persen benar bahwa kau menyukaiku, menyukai pria yang menurutmu gagah. Tetapi lima puluh persen lagi, kau melakukannya karena mencari kesempatan untuk meracuni diriku. Dan aku tahu, bahwa kau memasukan sebuah racun ke dalam mulutku saat kita berciuman. Karena kita melakukan hal itu beberapa kali malam tadi, itu artinya kau memasukkan racun beberapa kali juga ke dalam tubuhmu,"
"Bahkan kau meminta untuk melakukan hal itu lagi berkali-kali, dikarenakan karena masih heran, kenapa setelah sekian lama tetapi aku tidak mati juga. Dan kau sampai terheran-heran karena setelah aku sarapan makanan yang telah kau racuni juga, tetapi tidak kunjung tewas. Bukan begitu?"
Cakra Buana membicarakan semuanya dengan penuh ketenangan dan rasa percaya diri. Kalau orang lain yang di posisinya, sudah pasti akan segera membunuh si pelaku.
Tapi Cakra Buana bukanlah orang lain. Dia tetaplah dia. Pemuda itu tidak mau selalu membunuh orang. Setiap orang punya hak untuk hidup. Lagi pula kalau dia membunuhnya sekarang, bagaimana cara mencari mencari informasi lainnya?
Ratih Kencana semakin tertegun. Dia tidak mengerti bagaimana pemuda yang ada di hadapannya ini bisa mengetahui semuanya. Padahal racun yang dia berikan bukan racun kelas teri. Racunnya jelas kelas atas dan bisa membunuh orang hanya dalam waktu hitungan nafas. Tapi bagaimana bisa pemuda itu masih hidup sampai sekarang?
"Ba-bagaimana kau bisa tahu semuanya? Dan bagaimana pula kau bisa bertahan dari Racun Pemutus Nyawa?" tanya Ratih Kencana mulai bergetar tubuhnya.
"Itu mudah saja. Sejak awal aku melihat kau tergeletak, aku sudah tahu kau hanya pura-pura keracunan. Apalagi setelah aku periksa nadimu, ternyata di dalam tubuhmu sudah banyak berbagai jenis racun. Dan dari sini saja aku sudah bisa menyimpulkan bahwa kau sebenarnya adalah ahli racun," kata Cakra Buana menjelaskan.
"Kalau tidak di bawa, bagaimana aku bisa membongkar rencana di balik ini?"
"Hemm, kau pikir aku akan memberitahu semuanya kepadamu?"
"Aku tidak berpikir seperti itu. Tetapi aku yakin, kau akan memberitahuku," ucap Cakra Buana percaya diri.
"Aku masih tidak mengerti bagaimana kau bisa tahu bahwa saat aku bercumbu denganmu, aku juga sedang meracunimu?" tanya Ratih Kencana masih kebingungan.
Seumur hidup, dia baru kali ini gagal menjalankan tugas dalam hal meracuni orang. Padahal cara yang dia gunakan adalah cara paling lembut dan tidak mungkin akan ketahuan.
Dan dia sudah percaya akan diri dan racunnya tersebut. Tetapi setelah kejadian ini, gadis itu menjadi kurang yakin. Rasa percayanya untuk menaklukan pria menjadi berkurang setengahnya.
__ADS_1
"Kalau orang lain mungkin tidak akan mengetahui bahwa kau meracuni saat sedang melakukan kenikmatan. Selain menikmati, pastinya juga mereka tidak akan sadar karena racunmu sama sekali tidak berasa apapun. Tetapi kau harus ingat bahwa aku bukan orang lain. Aku adalah Cakra, Cakra Buana," tegasnya.
Ratih Kencana semakin yakin atas ucapan pemuda itu barusan. Dia yakin sebelumnya bahwa pemuda itu memang memiliki nama panjang Cakra Buana, hanya saja masih merasa ragu. Tapi setelah orangnya mengatakan sendiri, tentu saja dia jadi percaya.
"Kau benar. Kau bukan orang lain, kau adalah Cakra Buana. Berarti, kau juga sudah tahu bahwa aku mengintaimu saat kau bertarung melawan kelompok Organisasi Tengkorak Maut itu malam tadi?" tangannya heran.
"Tentu saja aku tahu. Bahkan aku juga tahu bahwa kau bekerja sama dengan mereka sejak dari awal kau melihatku waktu pertama datang di kotaraja. Apakah benar?"
"Degg …"
Jantung gadis itu terasa copot. Nafasnya bahkan terasa terhenti. Bagaimana mungkin di dunia ini ada seorang seperti pendekar pemuda tersebut? Dia bisa tahu segalanya hanya dalam satu kali lihat saja.
Rasanya sampai mati pun, Ratih Kencana tidak bisa mempercayai hal ini. Tetapi mau bagaimana lagi? Mau tidak mau dia harus percaya. Karena saat ini dia sedang mengalaminya.
Gadis itu tidak mampu lagi berkata apa-apa. Semua yang dia rencanakan sudah terbongkar. Usaha yang dia lakukan gagal total.
"Dari mana kau bisa tahu semuanya?" tanyanya semakin penasaran.
Dia sungguh ingin mengetahui bagaimana pemuda itu bisa membongkar semua rencana di balik ini.
"Mudah saja. Kau menyembunyikan kemampuanmu saat melawan beberapa anggota mereka ketika telah selesai makan di rumah makan kemarin. Kau berpura-pura lemah karena kau sudah tahu bahwa aku mengintai kalian,"
"Kalau sudah tahu, mengapa kau masih bertindak bodoh mencari gara-gara dengan kelompok organisasi itu?"
"Karena aku ingin semua musuhku tahu bahwa Cakra Buana kini telah kembali. Orang yang mungkin sudah dianggap mati karena setahun menghilang, kini sudah terlahir kembali. Aku ingin mereka tahu, dan aku juga ingin meyelesaikan semua masalahku sebelumnya mengerjakan urusan berikutnya," kata Cakra Buana penuh semangat membara.
"Apakah kau begitu yakin kepada kemampuanmu itu?"
"Sangat yakin," jawabnya mantap.
__ADS_1
"Biarkan aku mengujimu terlebih dahulu," kata Ratih Kencana ingin memberikan pelajaran kepada Cakra Buana.
Tetapi siapa sangka? Saat dia berniat untuk mengerahkan tenaga dalamnya, justru tenaga dalam itu tidak bisa dikeluarkan sama sekali. Tubuhnya saat itu juga langsung terasa lemas.