
Apa yang dibicarakan oleh Pendekar Pedang Kesetanan memang masuk akal. Manusia akan percaya ketika ada seseorang yang memiliki pengaruh berbicara. Walaupun bicaranya hanya sebuah kebohongan, tetapi tetap saja ada yang mau percaya.
Apalagi kalau yang berbicara merupakan seorang gadis cantik? Dengan keanggunan yang dimilikinya, dengan wajahnya yang mampu menundukan pria manapun, siapa yang berani tidak percaya? Siapapun pasti akan percaya.
Apalagi kalau didukung dengan barang bukti.
Akhirnya Cakra Buana paham. Ternyata masalah yang akan dia hadapi semakin bertambah rumit dan tampak tidak akan selesai dalam waktu singkat.
Padahal tadinya dia ingin segera pergi ke negeri Tiongkok untuk melaksanakan tugas gurunya dengan segera. Tetapi apa mau dikata? Walaupun dia tidak mencari masalah, malah masalah sendiri yang selalu menghampirinya.
"Tapi paman, bagaimana kau bisa tahu bahwa yang menolong Ratih Kencana adalah si Hantu Tanpa Wajah dan Manusia Pasir Besi Panas?" tanya Cakra Buana keheranan.
"Itu masalah gampang. Aku sudah malang melintang di dunia persilatan. Terlebih lagi aku kenal dengan para tokoh itu, jadi sedikit banyak aku bisa tahu bahwa memang mereka pelakunya,"
"Tapi kenapa kedua orang ini mau membunuhku? Aku tidak punya masalah dengan mereka sebelumnya," ujar Cakra Buana.
Giwangkara Baruga tersenyum. Dia masih mewajarkan kalau Cakra Buana bingung. Karena pengalamannya di rimba hijau masih terbilang cetek.
"Cakra, bukankah beberapa waktu lalu kau mempunyai masalah bersama Organisasi Tengkorak Maut?"
Cakra Buana mengangguk. Bahkan dia mengakui bahwa dirinya sempat membunuh tiga pengawas dan pelindung cabang organisasi tersebut.
"Dan bukankah banyak pendekar Tanah Jawa juga mengincarmu karena ingin membalaskan dendam orang-orang terdekat mereka?"
Cakra Buana mengangguk lagi. Dia tidak bisa menampik hal tersebut. Karena memang, banyak pendekar yang menginginkan dirinya tewas. Bahkan beberapa saat yang lalu, dia bertarung dengan tokoh tua yang ingin melihat dia tewas.
__ADS_1
Otaknya langsung berputar mencari benang merah. Setelah beberapa saat terdiam, akhirnya dia pun mengangguk kembali sambil menghela nafas dalam-dalam.
"Jadi maksud paman, yang melakukan ini adalah Organisasi Tengkorak Maut atau juga para pendekar yang ingin membunuhku, begitu?"
"Tepat. Tapi kalau menurutku, dalangnya lebih masuk akal kalau Organisasi Tengkorak Maut. Karena yang aku tahu, hanya mereka lah yang mampu menggerakkan tokoh kelas atas," ucap Pendekar Pedang Kesetanan.
"Hemm, benar-benar berbahaya sekali organisasi itu. Kalau seperti ini kejadiannya, aku harus membasmi mereka," tegas Cakra Buana.
"Bukan aku merendahkan atau tidak mempercayai kemampuanmu. Tapi menurutku, kau belum mampu melakukannya. Bahkan masih sangat jauh. Mereka memiliki anggota yang tidak sedikit, bahkan tokoh kelas atas ada di bawah kendalinya. Kalau kau Dewa, mungkin masih bisa menghancurkan organisasi itu seorang diri. Tapi toh, kau hanya manusia. Jika satu persatu, mungkin masih bisa meskipun membutuhkan waktu lama. Tapi aku rasa, mana mau mereka bertarung secara terhormat?"
Pendekar muda itu seperti di tampar pipinya. Bahkan tamparan yang sangat keras sekali. Perkataan Pendekar Pedang Kesetanan bukanlah omong kosong belaka. Apa yang dia katakan benar adanya. Jika Hantu Tanpa Wajah dan Manusia Pasir Besi Panas mampu membebaskan jalan tenaga dalam Ratih Kencana, hal ini saja sudah menunjukkan bahwa kemampuan mereka tidaklah rendah.
"Paman, aku percaya kepadamu. Jadi, tolong bantu aku apa yang harus dilakukan untuk membereskan semua ini," kata Cakra Buana.
"Kita bicarakan ini di bawah sambil minum arak. Kalau ada arak, otakku akan bertambah encer," ucapnya tertawa sambil menepuk pundak.
Walaupun masalah di seluruh muka bumi ini berada di pundaknya, sebisa mungkin dia akan tetap berusaha untuk tersenyum. Sekalipun bumi hancur, dia akan tetap tersenyum.
Karena terkadang dengan tersenyum, masalah terasa menjadi ringan. Dengan tersenyum, kesedihan bisa terobati seketika. Bahkan karena tersenyum pula, seorang manusia bisa menjadi tidak takut menghadapi kematiannya.
Kekuatan yang terkandung di balik sebuah senyuman sangatlah luar biasa. Hanya saja, masih banyak manusia yang tidak paham akan hal ini.
Karena itu mulai sekarang, tersenyumlah. Ingatlah bahwa senyuman mampu mengubah segalanya.
Cakra Buana dan Pendekar Pedang Kesetanan sudah duduk di sebuah meja. Dua kendi arak tersedia di depan mereka. Tidak lupa juga dengan hidangan ringan.
__ADS_1
Sambil menenggak kendi arak, Pendekar Pedang Kesetanan mulai berbicara dengan serius kepada Cakra Buana.
"Cakra, besok kita akan bergerak. Kau pergi mencari bantuan para pendekar aliran putih yang tergabung dalam Organisasi Pelindung Negeri. Aku yakin, mereka mau membantu kita dalam mengatasi hal ini. Hanya saja, semua mungkin tidak segampang yang kita bayangkan. Apalagi tidak semua pendekar kenal denganmu. Sebisa mungkin, kau harus sanggup untuk membuat mereka percaya. Terlebih lagi karena kematian Tuan Muda Margono Tanuwijaya. Karena yang aku tahu, perguruan Tunggal Sadewo merupakan perguruan merdeka. Jadi sedikit banyak, kematiannya akan membuat dunia persilatan Tanah Jawa geger," jelas Pendekar Pedang Kesetanan.
"Baik paman. Besok pagi-pagi sekali aku akan memulai apa yang kau bicarakan. Lalu kau sendiri, mau ke mana?" tanya Cakra Buana.
"Aku akan mencari petunjuk yang lebih jelas lagi supaya bisa menemukan bukti yang kuat. Satu minggu lagi kita bertemu di hutan sebelah Timur kotaraja," kata orang tua tersebut.
"Baik. Aku mengikuti saranmu," ucap Pendekar Tanpa Nama.
Keduanya kembali menenggak kendi arak sambil terus membicarakan langkah yang akan mereka lakukan.
Dalam menghadapi masalah apapun, harua diperlukan bukti yang sangat jelas. Apalagi jika menghadapi masalah seperti yang sekarang sedang di hadapi oleh Cakra Buana.
Karena itulah, Pendekar Pedang Kesetanan akan berusaha mencari bukti lainnya. Sedangkan Cakra Buana sendiri dia suruh untuk mencari bantuan.
Bagaimanapun juga, orang tua itu sudah mengangkat Cakra Buana sebagai sahabatnya. Walaupun usia mereka terpaut cukup jauh, tetapi dalam sebuah hubungan persahabatan tidak memandang itu semua.
Sahabat sejati adalah mereka yang mau memikul beban masalah yang sedang kau hadapi. Mereka yang mau membantumu padahal mereka sendiri sedang susah, mungkin masuk dalam daftar sahabat sejati.
Sebenarnya sahabat sejati di zaman sekarang masih teramat banyak. Hanya saja yang menghargainya teramat sedikit. Berapa banyak sahabat yang mau membantu saat dia sendiri sedang dalam keadaan susah? Dan berapa banyak juga orang yang mengaku sahabat, tetapi tidak mengakui segala kebaikannya? Bahkan terkesan melupakannya.
Terkadang orang yang membuat sakit hati adalah orang-orang terdekat. Termasuk mungkin saudara, keluarga, atau bahkan sahabat. Dan ini adalah sesuatu yang tidak bisa dibantah.
Cakra Buana sangat berterimakasih sekali kepada sahabat barunya itu. Padahal dia sama sekali tidak mempunyai masalah atau bahkan tidak terlibat sebelumnya. Tapi sekarang, ketika dia sudah menjadi sahabatnya, bahkan orang tua itu mau "bertempur" bersamanya.
__ADS_1
"Terimakasih paman. Aku siap membantu seluruh masalah dalam hidupmu," kata Cakra Buana sungguh-sungguh.