
Eyang Resi Patok Pati masih terus memandangi Langlang Cakra Buana yang kini sedang dalam berubah wujud. Ada perasaan senang dan khawatir dalam benaknya.
Senang karena murid tunggalnya berhasil menguasai Ajian Tiwikrama dengan sempurna, dan khawatir kalau kejadian seperti ini bakal terjadi lagi di kemudian hari.
Karena menurutnya, Langlang Cakra Buana tidak akan kembali normal sebelum amarahnya sirna. Kecuali ada orang yang bisa menghentikannya, dan orang itu salahsatunya adalah Eyang Resi Patok Pati sendiri.
Melihat karena muridnya terus meraung-raung dan menghancurkan segala yang didekatnya, Eyang Resi pun lalu melesat ke arah muridnya tersebut.
"Muridku, sadarlah. Jangan biarkan kau dikendalikan oleh ilmumu sendiri," kata Eyang Resi Patok Pati. Suaranya lirih, tapi berwibawa dan mengandung tenaga dalam.
Entah kenapa, tiba-tiba Langlang Cakra Buana pun seketika mematung lalu menatap ke arah sumber suara tersebut. Tapi tidak berkata apa-apa, dia hanya memandangi dalam-dalam sosok pria tua itu.
Melihat Langlang Cakra Buana tenang, Eyang Resi Pun lalu memejamkan mata dan mulutnya komat-kamit.
"Sadarlah dan segera kembali kepada wujud asalmu," kembali Eyang Resi memerintahkan supaya muridnya itu sadar.
Tapi kali ini suaranya berbeda, bahkan beberapa kali lipat lebih berwibawa dan seperti mengandung energi yang sangat besar.
Seketika itu juga, sebuah cahaya putih kekuningan keluar dari tubuh Langlang Cakra Buana. Pendekar Maung Kulon itu sudah kembali normal, tapi saat ini dalam keadaan pingsan karena mungkin kelelahan.
Melihat kejadian ini, semua orang yang ada disana seperti didasarkan. Semuanya langsung bergegas dan kembali pada tugas masing-masing.
__ADS_1
Tapi benar saja, pertarungan antara Langlang Cakra Buana melawan Prabu Jati Sena Purwadadi menjadi puncak perang besar ini.
Terbukti bahwa sekarang ini banyak para prajurit yang memilih untuk menyerah saja. Kurang lebih ada sekitar seratus lima puluh pasukan tersisa menyerahkan diri.
Sedangkan para pendekar yang memiliki kepandaian tinggi lebih memilih untuk melarikan diri. Tidak ada yang mengejar mereka, selain karena malam hari, juga karena orang-orang lebih disibukkan oleh para prajurit dan juga akan membereskan semua sisa perang.
"Semuanya, bereskan semua yang ada disini dan tawan serta langsung bawa pulang prajurit yang menyerahkan diri," perintah Prabu Ajiraga kepada semua pasukannya.
Setelah berkata demikian, Prabu Ajiraga pun menghampiri Eyang Resi dengan ditemani oleh Prabu Karta Kajayaan serta beberapa pendekar yang selamat.
"Terimakasih Eyang Resi," kata Prabu Ajiraga mewakili yang lainnya.
"Tidak perlu berterimakasih padaku prabu, ini semua berkat kegigihan dan juga ketegasan prabu dan yang lainnya," jawab Eyang Resi merendah.
"Eyang, bagaimana keadaan Langlang Cakra Buana?" tanya Prabu Karta Kajayaan seperti khawatir akan kondisi pemuda itu.
"Tidak perlu khawatir parbu. Muridku hanya kelelahan saja, biarkan dia istirahat terlebih dahulu," ucapnya.
"Syukurlah. Bagaimana kalau dia dibaringkan di dalam istana, eyang? Biarkan orang-orangku yang membawanya," tutur Prabu Karta.
"Baiklah, terimakasih …"
__ADS_1
Setelah itu, merekapun berjalan untuk menuju kedalam istana Kerajaan Sindang Haji. Sedangkan semua prajurit sebagian diberi tugas untuk mengumpulkan mayat. Para korban akan dimakamkan dengan cara layak dan sepantasnya.
Eyang Resi Patok Pati kini sudah berada didalam istana kerajaan Sindang Haji. Ternyata istana itu memang sangat luas dan megah. Tak kalah besar baik oleh Kerajaan Kawasenan ataupun Galunggung Sukma.
Langlang Cakra Buana terlebih dahulu dibaringkan di sebuah kamar yang mewah. Sedangkan yang lainnya memeriksa seluruh istana kerajaan.
Kedua raja dan para petinggi yang lain sepakat untuk tinggal di kerajaan itu barang berapa hari untuk memastikan tidak ada lagi serangan susulan ataupun hal lainnya. Masalah pembagian hasil biarlah dibicarakan nanti.
Pada akhirnya, sebuah perang yang melibatkan tiga kerajaan besar di tatar tanah Pasundan pun berakhir. Perang ini ternyata selesai jauh dari prediksi. Tidak seperti perang lain yang berhari-hari bahkan ada yang sampai satu minggu lamanya.
Memang, cepat selesainya perang besar yang bisa disebut perang saudara ini tak lain karena tidak seimbang. Dua kerajaan besar menggempur satu kerajaan. Meskipun termasuk kerajaan besar, tentu saja dari segi kekuatan terpaut sangat jauh. Karena alasan itulah perang ini selesai dalam waktu singkat.
Malam yang tadinya ramai oleh suara jeritan dan suara beradunya senjata pun kembali sepi sunyi. Yang ada hanyalah rembulan yang masih setia bersinar bersama bau amis dari darah orang-orang yang gugur.
Di arena perang tadi, kini prajurit baru saja selesai mengumpulkan semua mayat. Rencananya mayat para prajurit bakal dikuburkan dalam satu lubang besar.
Sedangkan mayat para pendekar tingkat tinggi dan juga Prabu Jati Sena bakal dikubur dengan mewah layaknya raja lain yang meninggal lebih dahulu.
Semua orang yang gugur itu nantinya akan dimakamkan disebuah lahan yang luas tidak jauh dibelakang Kerajaan Sindang Haji sendiri.
Setelah semuanya selesai, maka para prajurit pun beristirahat dan sebagian lagi berjaga. Tubuh mereka merasa lelah, tapi hati mereka sangat bahagia. Rencana raja mereka untuk menyatukan tatar Pasundan pun hampir tercapai.
__ADS_1
Dan kelak, perang besar tiga kerajaan ini bakal dikenal dengan sejarah Perang Tilu Nagara (Perang Tiga Negara/Kerajaan). Sejarah ini bakal diceritakan oleh semua orang yang hidup pada zaman itu kepada generasi penerusnya.