Kisah Pendekar Maung Kulon

Kisah Pendekar Maung Kulon
Berakhirnya Perguruan Gunung Waluh


__ADS_3

Semua murid Perguruan Gunung Waluh terpental. Tak terkecuali para murid senior termasuk Rendra sendiri. Bahkan, gelombang yang berasal dari jurus Sapuan Dewa Angin milik Pendekar Maung Kulon itu tak berhenti sampai di situ saja.


Gelombang jurus tersebut terus bergerak menghantam apa saja yang ada di sana. Seluruh bangunan Perguruan Gunung Waluh dibuat hancur luluh lantah. Wilayah tersebut porak poranda bagaikan baru saja di timpa mala petaka besar.


Para murid tewas mengenaskan. Kecuali beberapa senior yang berhasil menyelamatkan diri dengan cara lari diam-diam meskipun mereka terluka sangat parah. Rendra ada dalam kelompok murid yang selamat.


Hanya beberapa saat saja, seluruh tempat sekitar dibuat hancur oleh seorang pendekar muda yang mendapat gelar Pendekar Maung Kulon. Baru kali ini dia mengeluarkan jurus tingkat tinggi yang sempat di sempurnakan saat dulu belajar kepada Ki Wayang.


Cakra Buana jarang menggunakan jurus-jurus berbahaya karena memang waktunya tidak tepat. Pula, terlalu sering menggunakan jurus tingkat tinggi secara berlebihan akan berefek buruk –di samping tenaga dalamnya cepat habis–.


Setelah jurus yang ia lancarkan lenyap, Cakra Buana lalu menghela nafas dalam-dalam. Ia merasakan tenaga dalamnya hampir separuhnya hilang akibat menggunakan jurus Sapuan Dewa Angin.


Pemuda serba putih itu lalu berjalan ke arah Ling Zhi yang kini masih tergeletak pingsan. Cakra Buana lalu memeriksa keadaan kekasihnya. Ternyata tidak ada racun, dia hanya kelelahan karena kehabisan tenaga dalam dan tidak kuat menahan darah yang terus keluar dari luka-lukanya.


Sementara itu di rimbunan pepohonan, baik Cakra Buana mau pun Ling Zhi sama sekali tidak mengetahui bahwa di sana ada beberapa pasang mata yang sejak tadi mengintai.


Di bagian barat di antara dahan-dahan pohon, tiga orang berseragam pendekar sudah menyaksikan sepak terjang kedua pendekar muda itu sejak dari awal. Mereka bukan bagian dari Perguruan Gunung Waluh, karena dari cara berpakaian pun sangat berbeda.


Tapi yang jelas, ketiga orang itu merupakan pendekar golongan hitam. Ketiganya sudah mempunyai nama dalam dunia persilatan, bahkan termasuk dalam kelas pendekar pilih tanding. Tiga pendekar tersebut menyaksikan pertarungan Cakra Buana melawan orang-orang Perguruan Gunung Waluh karena ketidaksengajaan.


Mereka dikenal dengan julukan Tiga Pembunuh Sadis. Dunia persilatan sudah tahu siapa mereka. Sepertinya, berita tentang sayembara siapa yang bisa membunuh Cakra Buana dan merebut Pedang Pusaka Dewa beberapa waktu lalu masih terus berlaku sampai saat ini. Hal ini terbukti lewat si Tiga Pembunuh Sadis yang mengintai itu.

__ADS_1


Entah para pendekar menginginkan hadiah dari Raja Ajiraga atau memang menginginkan Pedang Pusaka Dewa. Yang jelas …, sampai saat ini orang-orang dunia persilatan masih terus mengincar Cakra Buana secara diam-diam.


"Setan Darah, apa kau yakin pemuda itu yang bernama Cakra Buana dan membawa Pedang Pusaka Dewa?" tanya salah seorang dari mereka kepada rekannya yang berjuluk Setan Darah.


"Benar Manuk Bodas, aku yakin dia lah orang yang kita cari-cari selama ini," jawab Setan Darah yang memiliki postur tubuh agak pendek serta gemuk itu. Dia mengenakan pakaian warna merah dan bersenjatakan tongkat pendek berukir kepala kambing.


"Sepertinya bocah itu memiliki kepandaian yang tinggi. Terbukti saat bagaimana dia bisa menghancurkan wilayah perguruan itu," kata temannya satu lagi yang mengenakan pakaian berwarna cokelat tanpa lengan. Wajahnya angker, matanya mencorong tajam. Ia memakai senjata dua pisau belati, dia dikenal dengan julukan Kebo Gila.


"Kalau begitu, kita serang saja dia sekarang. Mumpung di sini tidak ada siapa-siapa," kata si Manuk Bodas memberikan saran.


"Tahan dulu. Sepertinya bocah itu mengetahui kehadiran kita," ucap Kebo Gila yang melihat Cakra Buana sedang menatap tajam ke arah tempat persembunyiannya.


Sebenarnya ucapan si Kebo Gila memang tidak salah. Sedari tadi Cakra Buana sudah mengetahui adanya orang lain yang hadir di sana dan mengawasi dirinya. Namun Pendekar Maung Kulon itu adalah orang yang bersifat masa bodoh. Selama ia tidak merasa terganggu, maka ia tidak akan mengganggu.


"Wuttt … wuttt …"


Tiga buah kerikil melesat dengan kecepatan sangat tinggi.


"Blarrr …"


Sentilan kerikilnya tepat mengenai sasaran. Bahkan pohon itu sampai meledak terkena hantaman kerikil Cakra Buana.

__ADS_1


"Hemmm … aneh. Aku yakin mereka ada di sana. Apa mereka sempat melihat lemparanku? Kalau iya, berarti dia memiliki ilmu yang tidak rendah," gumam Cakra Buana sambil memandang berkeliling saat menyadari bahwa sentilan kerikilnya hanya mengenai pohon saja.


Cakra Buana tidak mau ambil pusing. Dia memeriksa keadaan Ling Zhi kembali. Setelah kondisi gadis itu mulai membaik meskipun belum sadar, maka dengan segera Cakra Buana melesat pergi dari Perguruan Gunung Waluh itu untuk kembali ke kerajaan.


Dia berniat untuk mengobati luka Ling Zhi di kerajaan. Sekali pun dirinya bisa mengobati, tapi Cakra Buana tidak mau melakukannya. Salah satu alasannya karena kondisi sudah larut malam hingga membuatnya sulit mencari bahan-bahan.


###


Cakra Buana tiba di Kerajaan Tunggilis tepat saat mentari baru muncul di cakrawala. Suasana masih remang-remang. Ia mulai melangkahkan kaki ke pintu gerbang. Para penjaga sudah mengenal Cakra Buana, maka ketika dirinya datang, para pengawal langsung membuka gerbang sambil membungkuk memberikan hormat.


Walau pun hari masih sangat pagi, tapi kehidupan di dalam kerajaan tetap selalu ramai. Karenanya, saat Cakra Buana semakin masuk ke Kerajaan Tunggilis, para punggawa langsung kaget melihat bahwa Ling Zhi terluka dsn bajunya dipenuhi darah. Begitu juga dengan Cakra Buana sendiri.


Beberapa orang dari mereka langsung melaporkan hal tersebut. Sehingga tak berselang lama, Sepasang Kakek dan Nenek Sakti keluar tergesa-gesa.


"Ada apa pangeran? Apa yang telah terjadi kepadamu? Siapa yang melakukan semua ini?" tanya Kakek Sakti memberikan pertanyaan beruntun kepada Cakra Buana.


Untuk diketahui, semua orang kerajaan kini tidak berani memanggil dengan sebutan Cakra Buana, kini orang-orang itu hanya berani memanggil dengan sebutan "pangeran" semenjak di umumkan oleh Raja Katapangan Kresna beberapa waktu lalu siapa itu sebenarnya Cakra Buana.


"Nanti akan aku ceritakan kek. Sekarang aku butuh tabib untuk mengobati luka Ling Zhi," ucap Cakra Buana.


Kakek Sakti mengangguk, kemudian ia memerintahkan seorang punggawa untuk memanggil tabib istana. Tak berselang lama tabib pun datang. Ling Zhi langsung di bawa untuk di obati lebih lanjut.

__ADS_1


Sedangkan Cakra Buana sendiri berjalan menuju ke kamar pribadinya untuk membersihkan diri. Dia akan bertemu dengan Sepasang Kakek dan Nenek Sakti di taman bunga kerajaan. Ada sesuatu yang akan di bicarakan oleh mereka.


__ADS_2