
"Taraaa..." Elyn datang, dan menyelamatkan Azalea. Azalea langsung menoleh. Menyeka air matanya, dia tidak ingin menangis di hadapan Queen.
Elyn menghadiahkan boneka yang super besar untuk Queen.
Wajah Queen langsung berbinar melihat hadiah dari Elyn. Dia langsung kegirangan.
Zico langsung menarik tangan Azalea, yang hendak pergi dari sana.
"Queen suka?" Tanya Elyn yang langsung mengambil alih menggendong Queen. Dia tahu, Azalea dan Zico butuh ruang untuk berbicara.
"Dia masih anak-anak Lea, dia tidak tahu apa-apa."
"Aku tahu Zico, dan aku tidak mempermasalahkan itu. Aku hanya sedih saja. Aku hanya tidak menyangka, dia sebegitunya menyayangi Maya." Azalea mengalihkan pandangannya, dengan senyuman disudut bibirnya. "Dan aku iri dengan itu."
*
*
Maya yang sedari tadi terus saja mencoba menghubungi Biandra, tanpa ada jawaban mulai berang.
"Pergi kemana kamu Bian?" Pekiknya, sambil kembali mencoba menghubungi Biandra untuk kesekian kalinya.
Namun, tetap saja. Biandra tidak mengangkat panggilan telpon darinya.
Itu membuat Maya semakin tak karuan. Hatinya gelisah, perasaannya jadi tidak enak. Dia juga tidak tahu harus mencari Biandra kemana.
"Arrgghhh..." Maya menghamburkan barang-barang yang ada di atas meja riasnya. Dia ingin melampiaskan rasa kekesalannya.
Lalu menangis seorang diri di dalam kamar. Tanpa ada seorangpun yang memperdulikannya.
*
__ADS_1
Azalea kembali menghampiri Elyn setelah membacakan dogeng sebelum tidur pada Queen.
"Sepertinya aku tidak melihat yang lainnya disini." Imbuh Elyn sambil melihat sekeliling. Maksudnya Biandra dan Maya.
"Yang satunya telah pergi, dan yang satunya sedang mengurung diri di kamar!" Jawab Zico sambil menghidangkan minuman untuk Elyn.
"Terjadi sedikit masalah tadi pagi, dan itu membuat mereka bertengkar." Sahut Azalea, yang kini sudah duduk disamping Elyn.
"Ohhhh ..." Elyn mengangguk-anggukkan kepalanya tanda mengerti. "So ..." Lanjut Elyn.
"Hemm ..." Ujar Azalea yang tidak mengerti dengan masksud Elyn.
"Kapan kita bisa tes kecocokan transplantasi sumsum tulang?" Tanya Elyn semangat.
"Kau ingin mencobanya?" Tanya Zico tak kalah semangat.
"Tidak ada salahnya mencoba bukan?"
"Tentu! Jika kau ingin, aku bisa membawamu kerumah sakit besok."
Azalea hanya menatap kedua orang yang sedang berbicara dengan semangat itu dihadapannya. Ia tidak seantusias mereka, karena dia takut kecewa pada akhirnya dengan hasil tes yang akan keluar nantinya.
*
*
Biandra, masih menatap tajam ke arah layar komputernya. Ketika sekertaris nya, Bram. Menunjukkan sebuah video cctv padanya.
"Bawa gadis itu padaku sekarang!"
"Dia sudah mengundurkan diri Pak."
__ADS_1
Biandra tersenyum sinis. "Cari dia sampai dapat. Berani sekali dia bermain-main denganku."
"Baik Pak." Bram bergegas.
Tidak butuh waktu lama, hanya dalam 1x24 jam. Gadis yang mencuri data perusahaan Biandra, kini sedang berlutut dihadapan Biandra.
"Ma-maafkan saya pak." Ucapnya dengan tubuh gemetar. Gadis itu begitu ketakutan, ketika dia dengan paksa di bawa ke hadapan Biandra. Oleh orang-orang suruhan Biandra.
"Aku tidak perlu kata maafmu. Aku hanya ingin tahu, siapa di balik semua itu. Karena aku yakin, kamu tidak akan mungkin melakukannya tanpa alasan dan sebab."
Melihat gadis muda itu yang ketakutan, Biandra bisa langsung menebak. Dia pun pasti dengan terpaksa melakukannya.
Gadis itu, yang sudah hampir 3 tahun bekerja di perusahaan Biandra, hanya bisa terdiam. Peluhnya berjatuhan karena ketakutan.
"Kau ingin katakan sekarang? Atau setelah di jebloskan kedalam penjara."
"Aku mohon pak jangan lakukan itu." Gadis itu memohon sambil mengusap-usap kedua tangannya.
"Katakan yang sebenarnya jika kau tidak ingin itu terjadi." Bentak Biandra berang.
"Ibu Maya yang menyuruh ku." Ucap gadis itu seraya menunduk dalam-dalam.
Biandra mengernyitkan keningnya. "Apa katamu? Maya?" Tanyanya memastikan.
.
.
.
.
__ADS_1
.
NEXT>>>