
Happy reading♡
Saat Ashel dan Kavin sedang berada di dalam mobil. Mereka berdua sedang menuju ke suatu tempat. Ashel tidak tahu dimana, karena seperti biasa, Kavin tidak akan memberitahunya.
Sebenarnya Kavin sudah memikirkan rencana ini sebelumnya. Dan untungnya terlaksana.
Sekitar satu jam berlalu, mobil yang ditumpangi mereka berdua berhenti di area parkir yang banyak sekali mobil. Ashel masih belum bisa menebak ini dimana.
"Masih gak mau bilang kita dimana?" Tanya Ashel pada suaminya.
Kavin hanya menoleh dan tersenyum pada istrinya. Ia pun turun duluan dari dalam mobil dan berjalan ke arah pintu mobil istrinya untuk membukanya.
"Gak mau turun kalo kamu gak bilang kita kemana," ucap Ashel merajuk.
Kavin merendahkan tingginya sehingga kepalanya sejajaran dengan kepala istrinya yang masih duduk diatas kursi mobil.
"Kamu ikut aja dulu. Di depan sana nanti kamu bakalan tahu kalo kita ada dimana," ucap Kavin.
"Kesel tahu mas aku sama kamu kalo kayak gini terus! Tinggal kasih tahu doang susahnya minta ampun," ucap Ashel. Dengan kesal ia pun turun dari dalam mobil.
Kavin menutup pintu mobil dan menguncinya. Ia mengikuti langkah istrinya yang sedang merajuk. Kavin sedikit berjalan cepat karena istrinya berlari.
Jelas Kavin hanya berjalan dan tidak ikut berlari sebab kaki panjangnya mampu mengejar istrinya tanpa harus berlari. Sedangkan Ashel harus selalu berjalan cepat ketika sedang bersama suaminya sebab kaki pendeknya tidak sebanding dengan kaki panjang suaminya.
"Hei, kok ninggalin," ucap Kavin. Ia menarik pergelangan tangan istrinya sehingga tubuh Ashel memutar dan menubruk dada bidangnya.
"Awshhh," ringis Ashel saat jidatnya terbentur dada suaminya yang keras.
"E-eh, maaf yang. Kekencengan ya?" Tanya Kavin. Ia mengelus jidat istrinya yang ternyata memerah.
Pelan pelan ia meniupnya. "Maaf, sakit ya?"
"Lebih sakit ini, kamu sering bikin aku kesel mas," ucap Ashel. Ia menunjuk dadanya dan entah mengapa tiba tiba matanya berkaca kaca.
"Heh, kok nangis sih? Kamu kenapa yang?" Tanya Kavin.
"Gatau. Aku kesel banget sama kamu," ucap Ashel.
__ADS_1
"Udah jangan nangis. Kan kejutan sayang," ucap Kavin. Ia menarik istrinya ke dalam pelukannya. Sebelah tangannya menepuk nepuk pundak istrinya agar lebih tenang.
"Jadi masuk gak? Katanya mau main," ucap Kavin. Ashel menganggukan kepalanya dan mengusap matanya yang sembab akibat air mata yang keluar.
Ia sendiri sempat merasa aneh kenapa bisa ia secengeng ini?!
Kavin membawa istrinya masuk ke dalam pintu masuk. Disana ia memesan dua tiket untuk masuk. Setelah membayar dan mendapatkan tiket masuk, Kavin menarik tangan istrinya untuk masuk ke dalamnya.
Dan ternyata Kavin membawanya ke wahana bermain.
"Mas," ucap Ashel. Matanya berbinar melihat ke arah depannya dimana banyak sekali orang orang yang berlalu lalang. Tak sedikit juga yang sedang menaiki berbagai wahana.
Wajar saja, ini weekend. Sudah pasti banyak yang berkunjung.
"Keliling dulu yuk. Kita nikmatin waktu berdua," ajak Kavin.
Ashel menoleh ke arah suaminya. Ia menautkan jari tangannya dengan jari tangan suaminya dan menariknya untuk berkeliling.
Wajah Ashel sedari tadi tidak henti hentinya menyunggingkan senyuman. Memang sudah cukup lama sekali ia tidak bermain ke taman wahana seperti ini. Mungkin terakhir kali ia bermain seperti ini saat ia masih SMA.
"Mas," panggil Ashel.
"Iya yang, kenapa? Mau jajan? Jangan yang manis manis tapi dari kemarin kamu makan yang manis mulu," ucap Kavin.
"Ish, bukan sayang. Kamu inget gak, wahana kayak gini ingetin aku sama masa lalu kita," ucap Ashel.
"Masa lalu? Yang mana?" Tanya Kavin.
"Masa lupa, yang waktu itu loh mas, waktu temen temen aku datang dari Bandung ke Jakarta. Waktu itu aku lagi bingung buat tempat tinggal mereka dimana, soalnya sewa hotel di Jakarta kan mahal mahal. Tiba tiba kamu nawarin apart kamu buat mereka tinggal. Apalagi kamu juga jajanin aku sampe setengah juta lebih," jelas Ashel.
Kavin menyimak cerita istrinya ini. Benar juga. Bahkan saat itu mereka belum terlalu dekat.
"Makasih yah, kamu emang udah baik banget sejak dulu. Aku aja yang sering nethink tentang kamu," ucap Ashel.
"Its okay yang, gak papa. Lagian waktu itu juga kamu aku paksa datang ke rumah buat ambil jajanan kamu kan? Dan kamu inget kita ngapain aja kan waktu itu," ucap Kavin. Alisnya naik turun menggoda istrinya.
"Hish, apasih?! Kok jadi kesana mikirnya. Udah ah, aku mau lihat lihat lagi," ucap Ashel. Ia berjalan meninggalkan suaminya.
__ADS_1
"Aku tahu kamu pasti malu kan inget waktu itu. Kalo gak salah kita sempat kissing bahkan aku sampe mau lupa diri kalo Josh gak datang," gumam Kavin. Ia pun berjalan mengejar istrinya.
Tidak ada kebahagiaan lain yang Kavin inginkan dalam hidupnya setelah membuat orang tuanya bangga selain untuk hidup dengan Ashel.
Memang jelas waktu itu ia menolak menikah karena ia memang tidak pernah memikirkan hal sejauh itu.
Namun setelah bertemu dengan istrinya ini, semuanya berubah. Bahkan pola pikirnya berubah.
Kavin yang sekarang menjadi Kavin yang lebih pemikir dalam mengambil tindakan bahkan lebih dewasa dari sebelumnya. Ia sangat berterima kasih pada tuhan karena telah menghadirkan Ashel sebagai istrinya.
Gadis itu unik dan sangat berbeda dengan kebanyakan gadis yang ia temui. Untuk itu ia langsung setuju saat mendengar perjanjian perjodohan itu. Memang sih pada awalnya Kavin terkesan dingin dan sangat ketus pada Ashel.
Tapi lihatlah sekarang, pria itu kini sangat bucin pada Ashel. Apa yang istrinya minta selalu ia turuti.
"Sayang, mau naik itu," ucap Ashel tiba tiba. Jarinya terangkat menunjuk salah satu wahana yang paling Kavin hindari ketika datang ke wahan bermain.
"Jangan becanda. Itu tinggi terus panjang, nanti kamu nangis lagi," ucap Kavin. Ia bergidik ngeri membayangkannya saja.
"Ih enggak yang. Pokoknya mau naik itu ya? Please," ucap Ashel.
"Jangan yang itu deh. Naik komedi putar aja gimana?" Tanya Kavin.
"Iihh, enggak mau mas. Maunya itu," ucap Ashel. Ia menghentak hentakan kakinya ke atas tanah yang terlapis marmer di bawahnya.
"Nangis nih kalo gak diturutin," ancam Ashel. Ia mengeluarkan jurus andalannya.
Kavin menghela nafasnya. "Yaudah. Kita naik itu," ucap Kavin.
Ia berusaha meyakinkan dirinya sebab istrinya yang meminta. Seumur umur Kavin tidak pernah membayangkan dirinya akan naik roller coaster.
Roller coaster.
Wahana yang paling Kavin hindari sejak kecil.
Tbc.
Kalo ada typ maapin. Vote komen y guys.
__ADS_1