
Juna sudah sehat. Hari ini dia masuk mengajar. Namun, sebelum bangun, dia mendapati Selena sedang tidur di sebelahnya tanpa sehelai kain.
Juna terkejut. Seingatnya, dia tidak melakukannya dengan Selena. Bagaimana bisa..Argh. Sudahlah. Dia tak ingat apa-apa. Luka ringannya memang masih terasa. Tapi dia tak menyerah. Dia ingin bertemu dengan Vanes.
"Selena..Bangun! Kamu harus ke kantor."
"Iya.." Jawabnya dengan suara serak kelelahan.
Juna berjalan ke arah kamar mandi. Kemudian dia membersihkan diri. Setelah itu, dia keluar dengan setelan jas kantornya. Dia harus mengunjungi kantornya dulu. Baru ke sekolah untuk mengajar.
Dilihat, Selena sudah menggenakan pakaiannya semalam. Wajahnya selalu cantik. Apalagi saat sedang bermain dengannya. Juna tersenyum sambil berjalan ke arah Selena. Wanginya membuat nafsu Juna naik.
"Sudah mandi?" Tanya Juna sambil membetulkan ikatan dasinya.
"Sudah." Selena membantu Juna untuk mengikat dasi. "Kamu harus menikahiku, Jun."
"Menikah? Tak ada perjanjian seperti itu, Selena."
"Aku hamil."
***
Vanes mengerjapkan matanya ketika sinar matahari masuk ke dalam kamar. Gorden sudah di buka oleh Kenzo. Vanes sempat bingung dia tidur dimana. Namun akhirnya dia ingat jika dia sekarang sudah menjadi istri Kenzo.
Kenzo tersenyum menatap istri kecilnya itu. Dia mencium kedua pipi Vanes manakala Vanes malah menutup matanya lagi.
"Kak Kenzo...gelihhh." Ucap Vanes sambil mencubit lengan Kenzo.
Kenzo tertawa. "Bangun Vanes. Sudah pagi."
Vanes tak menanggapi. Dia masih mengumpulkan nyawa sambil mengerjapkan matanya beberapa kali. Kenzo membuka balkon kamar dengan hanya menggunakan celana santai berwana biru. Setelahnya, dia kembali ke kasur. Menghampiri Vanes.
"Ihh Kak Kenzo..Pakai bajumu!" Perintah Vanes sambil menutup kedua matanya dengan tangannya.
Kenzo tersenyum tipis. "Vanessa. Santai saja. Kamu tak ingat semalam kita habis ngapain?"
Pipi Vanes memerah. Walaupun belum sampai ke permainan inti. Tapi, ciumanan dan remasan penuh gairah itu membuat Vanes merasa malu. Kenzo kembali mencium pipi Vanes.
"Jangan blushing, Sayang." Ucap Kenzo lagi. "Mandi ya? Terus turun ke bawah buat sarapan."
Vanes menggeleng. Dia merapatkan selimutnya. Eh tapi, dia menggunakan piyama. Perasaan kemarin malam..bajunya dibuang Kenzo entah kemana. Berarti..Ah dia semakin malu.
"Kenapa? Sarapan itu penting." Ucap Kenzo.
"Nggak mau. Masih mau rebahan, Kak." Kata Vanes sambil menidurkan kepalanya di bantal.
Kenzo menggelengkan kepalanya. Kemudian dia menyalakan TV. Mencari saluran kartun kotak bewarna kuning itu. Vanes benar-benar merasa di manjakan oleh Kenzo. Dia harap, Juna tak datang di kehidupannya.
__ADS_1
Kenzo memakai kaus hitamnya kemudian keluar dari kamarnya. Pergi menuju ruang makan. Seperti biasa, sajian mewah sudah menyambut.
"Ijah! Ijah!" Panggil Kenzo kepada salah satu pelayan yang bagian mengurusi dapur.
Ijah datang sambil menunduk. "Iya, Tuan? Ada yang bisa saya bantu?"
"Siapkan makanan, susu dan buah di nampan. Akan ku bawa ke kamarku. Aku tidak ingin lama-lama." Perintah Kenzo.
Ijah menundukkan kepalanya lagi kemudian pergi ke dapur. Tak sampai/sepuluh menit menunggu, Ijah sudah datang dengan nampan yang dibawamya kemudian di serahkan kepada Kenzo.
"Terima kasih, Ijah."
"Iya, Tuan."
Kenzo membawa nampan dengan sangat berhati-hati. Saat membuka kamar, Vanes masih di posisi yang sama. TV juga masih menampilkan kartun kotak bewarna kuning tersebut.
"Vanessa? Ayo makan!"
Vanes bangun dari posisi rebahannya. Dia menatap Kenzo haru. Kenzo duduk di pinggiran kasur. Senyum tenangnya menyambut Vanes.
"Utamakan sarapan. Jangan banyak rebahan. Sesekali olahraga. Kamu mau badanmu berubah menjadi gemuk seperti ibu-ibu guru yang ada di sekolah?" Kenzo tertawa dengan ucapan yang baru saja di ucapkannya. Dan itu sukses membuat Vanes ngeri.
"Aku nggak mau makan kalau gitu." Balas Vanes. "Takut gemuk!"
Kenzo tertawa. "Walaupun kamu gemuk, aku tidak akan meninggalkanmu."
Vanes diam. Kenzo menyuapi Vanes dengan sabar. Dia senang jika Vanes patuh seperti ini.
Kenzo menggeleng.
"Kak Kenzo makan ya?"
Kenzo mengangguk. "Aku akan menyuapimu dulu. Setelah itu aku makan dan lanjutkan rebahanmu."
Vanes memeluk Kenzo. Dia menyayangi lelaki yang sabar ini. Dia tak perlu khawatir Kenzo akan pergi karena Kenzo akan selalu disisinya.
Kenzo membalas pelukan Vanes kemudian mengecup dahi Vanes. Hal yang selalu setiap saat dilakukannya. Kenzo merasa sempurna. Memiliki istri lucu seperti Vanes. Walaupun jarak diantara mereka terpaut agak jauh, dia tak memusingkan hal itu. Dia tak peduli.
Setelah selesai, Kenzo ikut berbaring di sebelah Vanes. Vanes begitu serius menonton kartun itu.
"Katanya mau makan." Ucap Vanes tanpa memalingkan tatapannya dari TV.
"Nggak deh. Males."
Vanes kini menoleh ke arah Kenzo. "Kan Kak Kenzo sendiri yang bilang kalau kita harus mengutamakan sarapan."
Kenzo nyengir. "Udah sarapan kok."
__ADS_1
"Kapan? Sarapan apa?"
"Sarapan kemanisanmu." Jawab Kenzo asal.
Vanes menatap nyalang Kenzo. " Apasih!"
"Istriku galak bener!"
***
Juna tak menemukan Vanes di lingkup sekolah. Bahkan dia mondar-mandir di hadapan kelas Vanes. Dia merasa cemas. Pasalnya Kenzo mengajukan cuti selama 2 hari kedepan. Dan hari ini Vanes juga tak menampakkan diri.
"Apa dia libur?" Monolog Juna.
"Sudahlah, Pak. Vanessa hari ini libur. Nggak usah susah-susah cari Vanessa. Tenaganya terbuang sia-sia loh, Pak." Edgar menatap angkuh Juna.
"Kamu lagi! Bosan saya ketemu kamu terus!"
"Apalagi saya. Saya juga bosan ketemu sama Pak Juna terus!" Tukas Edgar kesal.
"Sebenarnya, mau kamu itu apa sih?"
Edgar tersenyum licik. "Mau saya adalah Pak Juna menjauhi Vanessa."
"Kamu tak berhak mengatur saya! Saya tak akan pernah menjauh dari Vanessa" Jawab Juna.
"Berarti jika saya ikut urusan anda, tidak apa dong. Kan Pak Juna tak berhak mengatur saya."
Juna tak menanggapi ucapan Edgar. Dia berlalu pergi begitu saja dari hadapan Edgar. Baginya, bocah itu masuk ke dalam daftar musuhnya.
Tanpa sengaja, Juna menabrak Jihan. Bagi Jihan, bertemu dengan Juna adalah suatu hal kesialan yang terbesar. Tapi sebalikmya bagi Juna.
"Jihan. Apa kabar?" Tanya Juna mengejek. "Aku selalu melihatmu sendiri."
"Jangan urusi hidupku." Bentak Jihan.
"Kamu masih ingat dengan ancaman saya saat pensi sekolah, kan?"
Jihan menatap tajam Juna. Tentu saja dia ingay dengan hal itu. "Ingat! Kenapa?"
"Temanmu itu sudah menjual dirinya sendiri kepadaku, Jihan. Bodohnya Nesya telah menjual dirinya sendiri. Kecil-kecil sudah menjadi bibit pemuas."
Jihan kaget. Apa yang dikatakan oleh lelaki yang ada dihadapannya ini kebenaran atau kepalsuan?. Tak terbayang jika itu terjadi pada dirinya.
"Sebentar lagi, Hidup Nesya akan hancur, Jihan. Tinggal dirimu dan Vanessa. Aku akan membuat kalian hancur."
"Brengsek. Tuhan akan membakas perbuatan kejimu itu!"
__ADS_1
"Sudahlah. Tuhan jangan dibawa-bawa. Yang pasti.. kamu akan bernasib sama dengan Nesya. Hanya beda suasana saja."
Juna adalah pria ter-brengsek yang pernah ada!