
Happy reading♡
Nadine di sekap di salah satu ruang bawah tanah yang ada di salah satu rumah besar milik Ardian. Ardian sudah mengetahui semuanya setelah Josh memberikan penjelasannya untuk itu ia memberikan satu tempat khusus untuk Nadine.
Tempat itu berada paling ujung di ruang bawah tanah. Gelap dan sangat sunyi. Hanya ada sedikit pencahayaan disana. Itu pun menggunakan lampu kecil.
Nadine terus terusan berteriak meminta dikeluarkan dari dalam ruangam itu. Ia merasa pengap sekali. Sekali pun dalam hidupnya ia tidak pernah merasakan hal seperti ini.
"Kenapa harus kayak gini? Gue cuma mau Kavin apa sesusah itu? Kenapa takdir sejahat ini," ucap Nadine. Matanya mengeluarkan air mata mengingat orang yang paling ia cintai tidak pernah membuka hatinya untuknya.
"Cewek sialan itu gak boleh bahagia sama Kavin. Dia harus mati," ucap Nadine.
"Sebelum adek mati, kayaknya lebih seru kalo lo duluan yang mati. Atau mungkin bokap lo duluan yang mati."
Nadine menoleh melihat ke sumber suara. Pintu yang tertutup rapat itu kemudian terbuka dan memunculkan sosok Ardian yang berdiri tegak memandang tajam ke arah Nadine.
"LEPASIN GUE!" teriak Nadine.
Ardian berjalan mendekat ke arah Nadine. Ia menurunkan tubuhnya agar sejajar dengan Nadine yang sedang terduduk diatas lantai yang dingin.
"Lepasin lo? Sama aja kayak gue umpanin adek gue buat lo bunuh," ucap Ardian ketus.
"Gue janji gak bakal ganggu adek lo lagi, tapi dia harus pisah sama Kavin dan Kavin harus nikah sama gue," ucap Nadine.
Ardian tertawa keras mendengar permintaan Nadine. Lancang sekali mulutnya berbicara seperti itu.
"Secinta itu lo sama Kavin?" Tanya Ardian.
Nadine menganggukan kepalanya, "Cuma gue yang boleh milikin Kavin. Kalo gue gak bisa sama dia, orang lain juga gak bisa."
"Itu bukan cinta tapi obsesi. Lo terlalu kagum sama Kavin sampe sampe lo mau milikin dia dengan cara apapun. Apa lo pernah mikir, hubungan yang dipaksa itu gak akan berjalan baik?" Tanya Ardian.
Nadine tertawa sumbang, "Baik atau enggaknya gue gak tahu. Yang jelas gue harus sama Kavin dan gue bakalan bunuh wanita sialan perebut itu."
"Jaga mulut lo, jangan sampe gue emosi dan buat lo menyesal karena udah ganggu kehidupan adek gue," ucap Ardian. Ia pun bangun dari sana dan pergi meninggalkan ruangan itu.
Sepertinya ia harus segera melakukan sesuatu agar Nadine jera. Kesalahan Nadine dan keluarganya masih terus Ardian ingat dan tidak akan pernah melupakannya. Mungkin ini saatnya balas dendam.
"Lo mau kemana?! Lepasin gue Ardian," ucap Nadine.
"Sebentar lagi, tunggu aja." Ardian pun pergi dari sana. Sedangkan Nadine menatap aneh sekaligus senang, sepertinya ia akan segera bebas dari ruangan pengap ini.
Setelah Ardian keluar, masuklah satu bodyguard membawa makanan kesukaan Nadine. Ia menyuruh Nadine untuk memakannya atas perintah Ardian.
__ADS_1
"Ternyata lo tetep baik Ar. Pantesan mudah banget ditipu," ucap Nadine. Memang sejak kemarin ia belum makan apa apa dan beruntungnya Ardian memberikan makanan kesukaannya.
***
Ashel duduk terdiam sembari menunduk di kamarnya setelah diantar oleh abangnya tadi. Kavin tentu tak tinggal diam, ia juga ikut masuk ke dalam kamarnya.
Sejak tadi ia berusaha mengajak istrinya berbicara dan meminta maaf namun tidak ada jawaban apa apa.
"Yanggg," ucap Kavin. Telunjuknya mengusap usap lutut istrinya.
"Maafin dong. Kan tadi kelepasan. Kamu tiba tiba minum wine ya aku kaget," ucap Kavin.
"Kamu bau rokok," ucap Ashel. Akhirnya ia mengeluarkan suara setelah diam saja.
Kavin menarik baju bagian depannya untuk ia cium baunya dan ternyata benar, sedikit berbau rokok.
"Kan cuma abis satu batang gak banyak kok yang," ucap Kavin.
"Mau minum," ucap Ashel.
"Hah? Minum?" Tanya Kavin. Ashel menganggukan kepalanya sebagai jawaban.
"Aku ambilin bentar," ucap Kavin. Ia pun beranjak dari atas ranjang untuk mengambil segelas air putih untuk istrinya.
Namun Ashel tetap diam saja saat suaminya memberikan segelas air putih. Bibirnya cemberut melihat ke arah suaminya.
"Kenapa? Katanya mau minum," ucap Kavin saat istrinya diam saja.
"Maunya wine mas, bukan air putih," ucap Ashel.
"Ih yang, gak boleh. Kamu gak pernah minum wine, udah jangan minum lagi oke?" Ucap Kavin.
Ashel menggelengkan kepalanya. "Gak mau mas! Aku mau wine."
Kavin menggaruk kepalanya. Ia cukup aneh dengan istrinya yang tiba tiba seperti ini. Ashel terkadang manja dan mudah menangis dengan hal hal kecil.
"Jangan nangis," ucap Kavin. Ia mendekat ke arah istrinya untuk menghapus air matanya kemudian memeluknya meskipun istrinya tidak membalasnya.
"Kamu kenapa jadi gini? Gak biasanya. Ada yang sakit?" Tanya Kavin pelan. Ia tahu istrinya saat ini sedang mode manja padanya dan Kavin tidak masalah akan hal itu. Ia malah senang sekali, jarang jarang istrinya manja seperti ini.
"Gatau mas, aku jadi cengeng gini. Padahal cuma mau wine tapi gak di bolehin sama kamu," ucap Ashel.
"Satu gelas aja ya? Jangan lebih dari itu kalo emang mau banget," ucap Kavin.
__ADS_1
"Gak mau, mau sepuasnya," rengek Ashel.
"Ganti yang lain aja. Mau apa? Mobil? Perhiasan? Apartment? Atau apa?" Tanya Kavin.
Ashel menggelengkan kuat kepalanya. "Dibilang mau wine gak mau yang kamu sebutin tadi."
"Sssttt, iya iya aku ambil dulu winenya," ucap Kavin. Ia mengalah karena tidak tega melihat istrinya yang menangis meminta wine.
Harga wine memang tidak seberapa untuknya tapi iia takut istrinya kenapa napa karena mengkonsumsi wine.
Ashel adalah wanita baik baik. Seumur hidupnya ia tidak pernah minum minuman seperti ini.
Kavin harus menghukum Josh yang membeli wine ini. Wine ini berbeda dengan wine biasanya. Warnanya memang merah pekat tapi rasanya tidak pahit atau aneh. Justru rasanya manis seperti minuman biasa.
"Dia kenapa ya kok tiba tiba jadi gitu? Gue gak papa sih dia manja kayak gitu. Justru gue seneng. Tapi kenapa harus minum wine? Dia gak pernah minum ini. Gue takut dia kenapa napa," ucap Kavin saat melihat botol wine di tangannya.
Terdengar teriakan istrinya yang memintanya untuk cepat membawa wine itu padanya. Mau tak mau Kavin pun segera kembali ke kamar mereka.
Istrinya tertawa girang sembari tepuk tangan saat Kavin menyerahkan satu gelas wine padanya.
Istrinya menerimanya kemudian meminumnya sedikit sedikit.
"Enak mas," ucap Ashel. Kavin mengangguk saja sebagai jawabannya. Rasanya bahagia juga melihat raut ceria dari wajah istrinya.
Tapi kenapa harus wine?
Apa mungkin istrinya ketagihan?
"Mas," panggil Ashel.
"Apa sayang?"
Ashel meminum segelas wine membuat Kavin membulat. Namun tindakan Ashel selanjutnya lebih membuatnya terkejut.
...Meninggoy, punya laki bucin akut...
Tbc.
Ramein ya guys. Vote komen, makasih.
Kalo a ds typ maapin.
__ADS_1