My Little Wife

My Little Wife
44. Kedatangan masa lalu


__ADS_3

"Apa kabar, Kenzo. Sudah lama tak berjumpa."


Seluruh badan Kenzo langsung menegang. Padangan kaget di lontarkan untuk perempuan yang berdiri di hadapannya.


"Kamu kok diem aja sih? Bicara dong." Tegurnya. "Kaget ya kalau aku makin cantik?"


"E-Erika?"


"Iya. Aku Erika. Erika Camelia Hardyan. Masih ingat kejadian tujuh tahun yang lalu."


Kenzo tetap diam. Keterkejutannya belum juga usai. Erika berbeda dari sebelumnya. Erika yang sekarang lebih mempesona. Semakin cantik. Body goals.


"Jangan diam saja, Ken. Apa kamu tidak mau menanyakan kabarku?" Goda Erika.


Kenzo nampak gelisah dan tidak tenang. "Apa kabar, Erika?"


"Baik dong." Kemudian Erika duduk dihadapan Kenzo.


"Tiba-tiba ke Indonesia, ada apa?" Tanya Kenzo yang sudah mulai tidak canggung.


Erika tersenyum dengan mata yang menatap Kenzo. "Apa aku salah pulang ke tanah kelahiranku? Aku rindu dengan Indonesia. Rindu denganmu. Mexico terlalu asing lelakinya. Hahaha."


Kenzo tidak menanggapinya.


"Aku ingin menemui mu karena ingin mengucapkan sesuatu." Kata Erika.


"Apa?"


"Aku menerima lamaranmu waktu itu. Maaf jika aku pergi tanpa kabar. Aku terpaksa melakukan itu agar kamu tidak mengejarku lagi. Nyatanya aku salah. Aku juga mencintaimu. Akhirnya aku buru-buru menyelasaikan pendidikanku. Seusai itu, aku menjadi model. Dan sekarang, lamaranmu aku terima, Ken."


Kenzo berdiri. Kedua tangannya di masukkan ke dalam saku celananya. "Tidak bisa. Aku sudah mempunyai seorang istri. Aku sudah menikah."


"Nggak mungkin. Kamu itu hanya cinta kepadaku saja, Ken. Ingatlah kenangan kita dulu."


"Aku tidak mau mengenang kejadian tujuh tahun yang lalu, Erika. Sekarang, aku minta kau keluar dari ruanganku sebelum aku panggil satpam." Ancam Kenzo.


Erika berjalan mendekati Kenzo. "Akan aku buat kamu jatuh cinta padaku lagi. Aku yakin kamu tidak bisa lupa padaku."


"Pergi kau dari ruanganku!"


***


PRANG!


"Argh.. Sakit." Rintih Vanes sambik memegangi perutnya.


Tiba-tiba perutnya terasa sakit. Entah kenapa. Perasaanya tidak enak. Pikiran aneh-aneh langsung tertuju kepada Kenzo. Gelas yang tadi di pegangnya sampai jatuh.

__ADS_1


"Ya ampun! Vanessa!" Teriak Tasya panik.


"Mama..Perutku..Sakit, Ma.." Vanes terus memegangi perutnya yang terasa sakit.


Rasa yang sama di alaminya waktu itu kini datang lagi. Tasya menghampirinya.


"Kita ke rumah sakit sekarang. Ayo."


***


Kenzo berlari mencar ruangan tempat istrinya di rawat. Menerima kabar jika Vanes masuk rumah sakit bagaikan di sambar petir ketika tak turun hujan.


Seusai menemukan kamar tempat Vanes di rawat, dia masuk dengan terburu-buru. Kenzo dapat melihat Vanes terbaring lemah dengan wajah yang pucat.


Di sebelahnya, ada Tasya yang menggenggam erat tangan Vanes. Mata Vanes masih tertutup sempurna.


"Mama?" Panggil Kenzo dengan berjalan mengahampiri Tasya.


Tasya berdiri. "Kenzo."


"Ada apa sama Vanessa?" Kenapa dia bisa sampai masuk rumah sakit?"


"Perutnya tadi sakit. Kata dokter itu adalah kram yang biasa di rasakan oleh ibu hamil, Ken. Dokter juga menyarankan agar Vanes tidak banyak emosi, memikirkan hal berat, melakukan aktivitas yang menguras tenaga. Mengingat usia kandungannya sudah mau masuk bulan keempat."


"Ya Tuhan Vanessa." Kenzo menciumi wajah Vanes yang terbaring.


"Iya, Ma. Kenzo akan lebih memperhatikan Vanessa."


***


Juna tersenyum bangga ketika Ketie menunjukkan sebuah gambar awan yang telah di buatnya.


"Ketie! Kemari! Jangan jauh-jauh dari Papa."


Ketie duduk di pangkuan Juna sambil memegang setangkai bunga matahari.


"Hai Ketie."


Juna menatap ke atas. Melihat siapa yang datang. Ternyata Kenzo.


"Aku belikan boneka untukmu, Gadis kecil yang cantik." Kenzo memberika boneka panda itu kepada Ketie. Dengan senang hati Ketie menerimanya kemudian berlari masuk ke dalam rumah.


"Ada apa? Apa ada masalah dengan Vanessa?" Juna to the point.


Kenzo memberikan amplop coklat ke arah Juna. Juna mengernyitkan dahinya kemudian membuka amplop tersebut. Alangkah terkejutnya Juna ketika melihat apa isi amplop tersebut.


"Kau mendapatkannya dimana, Ken?" Tanya Kenzo.

__ADS_1


Kenzo mengangkat bahunya. "Aku mendapatkan foto ini sehari yang lalu. Dia sepupumu kan?"


"Iya." Jawab Juna. "Dia sepupuku."


"Jika begitu, kau harus menolongku untuk meminta Erika menjauh dari hidupku, Jun."


"Kalian ada hubungan?"


Flashback On.


"*Aku ingin kamu menjadi pendamping hidupku, kamu mau?"


Erika dengan angkuhnya menggeleng. "Aku tidak mau jadi istri dari cowok kayak kamu! Nggak sudi! Lagian, masih banyak cewek jelek yang lebih pantas untukmu."


"Tapi, Aku hanya cinta denganmu, Erika." Bantah Kenzo sambil mencoba meraih tangan Erika.


Erika menjauh. "Apa aku tampak peduli? Enggak kan? Seharusnya dari situ kamu sadar jika kamu itu nggak pantes buat aku!"


"Tolong Erika. Terima lamaranku. Aku akan membahagiankanmu."


"Enggak! Sudah! Jangan dekati aku! Aku mauk sama kamu*."


Flashback Off.


"Jadi seperti itu ceritanya?" Kenzo mengangguk.


"Erika pulang dari Mexico dan langsung menemuiku. Dia bilang jika dia menerima lamaranku. Aku menjawabnya jika aku sudah punya istri dan dia tak terima." Cerita singkat Kenzo.


"Sekarang dia berada dimana?" Tanya Juna.


Kenzo menggeleng. "Aku tidak tahu, Jun. Tolong, jauhkan Erika dari rumah tanggaku. Apa kau tidak kasihan dengan Vanessa yang sekarang terbaring di rumah sakit."


Mata Juna melebar. "Kenapa Vanessa? Ada apa dengannya?"


"Perutnya mengalami kram yang biasa dialami oleh ibu hamil pada umumnya." Jawab Kenzo.


"Semoga kehamilan Vanessa selalu sehat. Aku akan membantumu untuk masalah Erika, Ken. Bagaimana pun juga, kau itu sahabatku!"


Kenzo menghembuskan nafas lega. Satu beban dapat diatasi. Namun, masih banyak beban yang harus di selesaikan oleh Kenzo juga.


"Tolong aku ya, Jun. Jauhkan Erika dari rumah tanggaku. Aku takut kalau nantinya dia merusak rumah tanggaku."


"Akan aku usahakan demi Vanessa. Kau banyak masalah?"


"Ya..Begitulah."


"Aku dengar kau habis tidur dengan Andini?"

__ADS_1


__ADS_2