My Little Wife

My Little Wife
Bab 294 : Lebih Manis


__ADS_3

Happy reading♡


Semakin hari keadaan Liam semakin buruk. Setelah dicekoki obat halusinasi, Liam terkadang mengobrol sendiri bahkan juga kadang melamun menatap ke jendela kecil yang cukup tinggi. Ruangan Liam berada di ruang bawah tanah. Ruangannya tidak besar dan sangat sedikit cahaya yang masuk.


Bahkan setiap hari juga Liam selalu berhubungan dengan pria yang tidak normal. Liam tidak bisa menolaknya karena selain dicekoki obat halusinasi, ia juga dicekoki obat perangs*ng.


Rasanya hidup Liam sudah tidak bisa berjalan normal seperti dulu lagi. Ia bahkan sudah tidak mengenal siapapun orang orang di masa lalunya. Yang ia pikirkan hanya Ashel. Wanita itu selalu berada dalam halusinasinya.


Mungkin apa yang dilakukan Ardian untuk Liam sangat kejam, namun Ardian punya alasan tertentu melakukan hal itu. Dua nyawa orang yang paling ia sayangi melayang begitu saja. Bahkan adiknya juga jadi sasaran bocah ingusan ini. Tentu saja dendam Liam semakin menggunung.


"Sampai kapan kita melakukan ini pada dia bos?" Tanya bawahan Ardian pada Max.


"Sampai pria itu jadi maniak s*x tapi bukan pada wanita, melainkan pada pria. Bos besar akan menyerahkan dia ke kantor polisi," ucap Max.


"Baguslah. Itu memang seharusnya terjadi pada dia. Berani beraninya nyentuh adik si bos," ucapnya.


"Tetap awasi dia dan terus cekoki dia. Tidak akan ada yang berani melepaskannya dari sini, bahkan papa-nya saja sudah tidak memperdulikannya," ucap Max. Ia pun pergi dari sana.


Sedangkan di rumah sakit, keadaan Nando masih sama. Ia masih setia menutup matanya.


Operasinya waktu itu berjalan lancar. Liam menghabiskan banyak kantung darah. Bahkan ia sampai membutuhkan transfusi darah dari papanya.


Keadaan Nando kritis dan belum stabil. Liando tetap setia menunggu anaknya bangun. Hanya Nando satu satunya harapannya. Bahkan Liando tidak menyangka jika Nando lebih unggul dari Liam. Padahal dulu Liam selalu di bimbing olehnya sedangkan Nando selalu di nomor duakan.


Liando tentu saja menyesali hal itu. Namun beruntungnya Nando tidak pernah memiliki iri hati pada Liam, kakaknya.


Liando juga tahu jika Nando juga mencintai wanita yang sama dengan Liam. Namun bedanya, Nando menerima keadaanya. Ia bahkan dengan ikhlas mengorbankan perasaanya karena memang wanita yang ia cintai sudah menikah dengan pria lain. Menurutnya, Nando ini hebat. Meskipun Ashel sudah menikah dengan pria lain, Nando tetap membantunya. Bahkan ia rela mengorbankan nyawanya untuk Ashel.


Selama Nando sakit, Liando denga setia menjaganya. Bahkan tidak jarang ia sering mengerjakan pekerjaan kantornya di rumah sakit. Sementara Liam, ia sudah tidak peduli lagi dengan anak itu. Anak itu hanya membawa aib untuknya. Bahkan Liando tidak peduli jika Liam mau mati di tangan Ardian atau tidak.


***

__ADS_1


Sebelum keluar dari dalam mall, Ashel minta dibelikan minuman boba rasa green tea dan ayam goreng yang di geprek kecil kecil. Tadinya Ashel ingin menunggunya namun jika dipikir pikir, Ashel takut juga berjauhan dengan suaminya. Terlebih Kavin juga tidak mengijinkannya sendirian.


Setelah mendapatkan minuman dan makanan yang diinginkan istrinya, Ashel dan Kavin pun berjalan keluar mall. Tangan kiri Ashel memegang minumannya sedangkan tangan kanannya memegang sumpit untuk mengambil daging ayam. Sedangkan Kavin memegang bungkus daging ayamnya.


"Mas mau?" Tanya Ashel.


"Dari mulut kamu tapi," ucap Kavin.


"Ya udah nanti di mobil. Masa disini," ucap Ashel.


"Janji?" Tanya Kavin.


"Janji sayang," ucap Ashel.


"Ya udah ayok cepet yang. Aku udah gak sabar banget," ucap Kavin.


"Sabar. Anak kamu bisa keguncang kalo aku lari," ucap Ashel.


Kavin hanya cengengesan. Meskipun saat ini ia sangat bersemangat, namun ia juga harus memikirkan anak anaknya. Bagaimana pun kecebongnya ini sangat berharga untuknya.


Mereka pun akhirnya sampai di depan mobil. Kavin membuka kunci mobil sekalian membuka-kan pintu mobil untuk istrinya, baru ia masuk.


"Naik paha aku yang," ucap Kavin.


"Kacanya gak kelihatan dari luar kan? Kalo keliatan orang yang lewat kan malu," ucap Ashel.


"Tenang sayang, dari luar kaca mobil ini kelihatan hitam legam. Bahkan kita yang ada di mobil aja gak kelihatan. Cuma dari dalam mobil, baru kita yang bisa lihat," ucap Kavin.


"Oke."


Ashel pun menyimpan snack ayamnya di dashboard mobil sementara minumannya masih di tangannya. Ia pun menyedot minuman itu kemudian menyatukan bibirnya dengan bibir suaminya.

__ADS_1


Awalnya hanya kecupan, namun Kavin menahan kepala istrinya. Ia pun membuka mulutnya dan minuman pun masuk ke dalam mulutnya melalui istrinya.


Tidak ada perasaan jijik sama sekali. Justru Kavin senang melakukan hal ini. Ia merasa lebih dekat dengan istrinya. Ashel juga selalu menerima hal yang sama dari Kavin.


Ashel melepaskan tautan bibir mereka dan mengambil tissue untuk mengelap leher suaminta yang terkena minuman itu.


"Minum sendiri aja nih. Lihat belepotan kan," ucap Ashel.


"Langsung dari mulut kamu lebih manis, lebih enak juga," goda Kavin.


"Gak papa. Kalo belepotan kan masih bisa di bersihkan. Kalo aku pengen gak kamu turutin, aku bisa uring uringan," sambung Kavin.


"Ya udah," ucap Ashel. Ia pun kembali melakukannya sampai tiga kali. Saat Ashel akan membersihkan bibirnya, tiba tiba Kavin menahannya dan memajukan bibirnya. Ia akan memberihkan itu menggunakan bibirnya sendiri sampai bersih.


Ashel hanya pasrah. Ia kasihan juga dengan suaminya ini karena jatah ranjangnya berkurang.


"Yang, kapan aku bisa puas hajar kamu diatas ranjang? Kangen deh," ucap Kavin.


"Sampai si kembar lahir sayang. Tahan ya? Kalo kamu brutal, itu bisa berbahaya sama si kembar," ucap Ashel.


"Masih tiga bulan lagi," gumam Kavin. Terdengar helaan nafas dan nada putus asa dari mulut suaminya. Ashel merasa iba. Tapi mau bagaimana lagi.


Ashel merasakan sesuatu bereaksi dibawah pantatnya. Ia melirik ke arah suaminya. Kavin memejamkan matanya. Wajahnya memerah seperti menahan sesuatu. Sedangkan Ashel sedikit menggerakan pantatnya. Dahi Kavin mengernyit merasakan hal itu.


"Pulang yuk. Aku gak tega lihat kamu tersiksa kayak gini," ucap Ashel. Ia pun bangun dari atas paha suaminya namun Kavin menahannya.


"No babe. Gerakin terus," ucap Kavin. Ashel pun menurut. Ia menggerakan kembali pantatnya. Ashel hanya bergerak pelan, namun Kavin tidak suka. Ia pun memegang pinggang istrinya dan menggerakannya sesuai dengan ritme yang ia mau.


Sebagai seorang istri, Ashel tentu saja merasa tidak tega melihat suaminta yang tersiksa. Ia pun menekan tombol yang ada di mobil suaminya. Otomatis mobil Kavin sangat gelap dan menjadi kedap suara. Ashel turun dari atas pangkuan suaminya dan merendahkan kursi mobil yang di duduki Kavin. Ia membuka resleting celana suaminya dan membantu suaminya yang sedang tersiksa ini.


Tbc.

__ADS_1


Ramein guys kalo typ maapin. Maapin juga cuma up 1 bab hari ini. Aku kurang enak badan. Janji deh besok aku crazy up sama ada berita khusus buat readers akuu. Stah tune yaa❤️


__ADS_2