
Happy reading♡
Perasaan dan pikiran Kavin kalut saat melihat kondisi Ashel yang tiba tiba pingsan. Beruntung Ardian kembali masuk dan menyuruh Kavin cepat cepat membawa Ashel ke rumah sakit terdekat.
Dan disinilah mereka berdua sekarang. Di rumah sakit kota yang ada di Kalimantan Barat.
Kavin tengah duduk terdiam dengan tatapan kosong. Ia sangat syok melihat kondisi gadisnya yang seperti itu. Bagaimana bisa ada orang sekejam wanita itu yang tega menyakiti wanita lain? Apalagi tadi Kavin melihat jika Ashel akan segera disengat listrik. Beruntung Kavin cepat datang jika tidak pasti nyawa Ashel sudah melayang.
"Wanita itu udah gue urus Kav. Keluarga juga bakalan terbang hari ini buat kesini," ucap Ardian. Dia menepuk bahu Kavin.
Ardian tahu betul seperti apa Kavin. Mereka dulu kebetulan satu fakultas jadi mereka berteman akrab.
"Gue tahu gimana perasaan lo sekarang Kav. Tapi lo gak boleh kayak gini. Lo harus kuat karena di dalam sana Riana butuh lo," ucap Ardian.
"Gue gak nyangka aja ada wanita sejahat itu. Sebenarnya apa salah Riana sama dia?" Ucap Kavin.
"Pasti ada salah paham disini. Gue yakin dan tahu betul kalo Riana gak mungkin ngelakuin hal yang ngerugiin dirinya sendiri," ucap Ardian.
Tiba tiba pintu ruang rawat Ashel terbuka. Seorang dokter keluar dari ruangan itu.
"Bagaimana dok?" Tanya Kavin.
"Kondisi pasien cukup parah. Luka tusuk di perutnya sudah infeksi untuk itu kami masih memerlukan waktu untuk melihat perkembangannya. Luka cambuk yang ada di tubuhnya juga sudah kami obati. Namun kondisi pasien sangat kritis. Kehilangan banyak darah dan dehindrasi selama berhari hari. Jadi butuh waktu untuk pasien agar bisa kembali sadar dan pulih," jelas dokter yang menangani Ashel.
"Luka tusuk?" Tanya Ardian.
"Iya, pasien mendapatkan luka tusuk di bagian perut sebelan kanannya. Beruntung luka itu tidsk terlalu dalam. Namun tetap saja, luka itu membuat pasien kehilangan darah selama berhari hari," ucap Dokter itu.
"Kapan pasien akan sadar?" Tanya Kavin.
"Saya tidak bisa memastikannya karena kondisi pasien yang cukup parah. Kita tunggu saja perkembangannya. Semoga saja pasien cepat sadar," ucap Dokter.
"Apa boleh saya masuk?" Tanya Kavin.
__ADS_1
"Untuk saat ini pasien belum bisa di jenguk karena kondisinya yang sangat kritis. Anda bisa menjenguknya nanti setelah kondisi pasien stabil," ucap Dokter.
Kavin mengangguk lemah. Ia pun beranjak dari sana untuk melihat Ashel yang berada di dalam ruang rawat.
Ardian mengucapkan terimakasih pada dokter tadi sebelum ia juga ikut melihat Ashel.
Mereka berdua melihat Ashel yang terbujur kaku tak berdaya di dalam ruang rawat itu. Beruntung dinding ruang rawat Ashel terbuat dari kaca jadi Kavin bisa melihatnya dengan jelas.
Banyak sekali alat alat medis yang menempel ke tubuh Ashel. Dua orang suster sedang mengobati luka cambuk di tangan Ashel.
"Keluarga Riana bakalan sampe bentar lagi. Gue harus jemput ke bandara. Gue pergi dulu," ucap Ardian. Kavin hanya mengangguk sekilas.
Kavin masih tetap berdiri melihat kondisi Ashel. Sekarang ia bisa melihat wajah pucat pasi milik Ashel dengan jelas karena dua orang suster tadi sudh keluar.
Kavin sangat ingin sekali masuk ke dalam ruangan itu. Ia sangat ingin memegang tangan yang penuh luka itu.
"Maaf. Maafin aku yang telat nemuin kamu," gumam Kavin. Tanpa sadar air matanya meleleh.
Kelemahan Kavin adalah Ashel. Sekuat kuatnya seorang pria dia juga bisa menangis kapan saja.
Dua jam berlalu, keluarga Ashel dan Kavin sudah sampai di rumah sakit. Mereka semua berjalan menuju ruang rawat Ashel dengan arahan dari Ardian.
"Kav," panggil Sarah. Ia melihat kondisi anak sulungnya yang bisa dikatakan tidak baik baik saja.
"Ma," ucap Kavin. Ia pun berhambur ke pelukan sang mama. Menumpahkan semua kekesalan dan kesakitan yang ia rasa.
"Bersabarlah, Riana anak yang kuat. Kamu gak boleh kayak gini. Kalo Riana bangun nanti dia bisa ikutan sedih juga," ucap Sarah. Ia berusaha menenangkan anaknya.
Keluarga Ashel dan Kavin yang ada disaa hanya terdiam melihat kondisi seperti ini. Anna menangis dalam diam. Adi memeluknya sejak berangkat dari Jakarta tadi.
Mereka semua sudah tahu keadaan Ashel dan bagaimana mereka bisa menemukan Ashel hingga siapa orang yang mencelakai Ashel dari Ardian. Ardian sengaja menceritakan semuanya dulu kepada mereka semua sebelum mereka sampai ke rumah sakit.
Berjaga jaga agar mereka tidak terlalu heboh nantinga menanyakan kondisi Ashel.
__ADS_1
"Anak mama kan kuat. Kalo kamu lemah kayak gini siapa yang nantinya bakalan nemenin Riana?" Tanya Sarah.
"Benar itu Kav. Lekaslah berganti baju mama sudsh menyiapkannya," ucap Faraz. Ia memang jarang sekali berbicara dengan putra sulungnya ini. Hanya pada waktu waktu tertentu saja mereka berdua berbicara. Mungkin hanya ketika mereka bekerja.
"Tapi Riana?" Tanya Kavin.
"Ada kami disini. Kami akan menjaga calon istri mu itu. Kau juga Ardian, ganti baju dulu. Baju kalian seperti orang gembel saja padahal kalian seorang CEO," sindir Prabu. Sebenarnya ia sangat kalut juga saat ini. Namun ia berusaha menyembunyikannya karena ia juga harus menenangkan Ningrat istrinya.
Kavin dan Ardian pun mengambil paper bag yang sudah disiapkan. Mereka memasuki bilik toilet yang berbeda untuk berganti baju.
Setelah selesai mereka kembali ke depan ruang rawat Ashel.
"Kalian belum makan kan? Pergi cari makan sana. Ajak juga para laki laki yang ada disini, biar kami para wanita saja yang menjaga Riana dulu," ucap Sarah.
"Enggak ma. Kalian aja dulu yang makan, Kavin belum lapar," ucap Kavin.
"Loh, kan kamu sama Ardian yang belum makan Kavin. Ayo ikutin perintah mama. Riana gak bakalan seneng loh kalo kamu kayak gini," ucap Sarah. Ia sengaja menggunakan nama Ashel agar Kavin menurut padanya.
Kavin menggelengkan kepalanya, "Enggak ma. Kavin belum lapar. Kalian aja dulu." Ucap Kavin kekeuh.
Sarah menghela nafasnya. Kavin memang keras kepala seperti papanya.
"Ya sudah kami ke kantin rumah sakit dulu. Kalo ada apa apa kamu hubungi kami ya," ucap Sarah.
Kavin menganggukan kepalanya.
Mereka semua pun beranjak dari sana. Anna menghampiri Kavin lebih dulu sebelum ikut pergi. Sebenarnya ia masih ingin berada dekat putrinya, namun Adi memaksanya untuk makan terlebih dahulu karena saat mereka sampai kesini mereka semua belum mengisi perut mereka.
Kavin menunduk saat Anna menepuk bahunya. Ia sangat malu berhadapan dengan keluarga Ashel saat ini karena ia gagal menjaga anak gadis mereka.
"Tolong jaga Riana. Aku percaya kamu bisa menjaganya," ucap Anna.
"Justru aku gagal. Aku kalah cepat menyelamatkannya," ucap Kavin. Ia terus terusan menyalahkan dirinya sendiri.
__ADS_1
tbc.