
Happy reading♡
Nadine tersenyum bahagia karena Kavin diam saja saat ia mepet ke arahnya. Sepertinya Kavin akan segera luluh, begitu pikirnya.
"Kav, disini dingin. Kita ke dalem aja yuk," ajak Nadine.
Kavin diam. Ia tidak mau membalas ucapan Nadine.
"Kamu diam berarti tandanya kamu mau. Yaudah ayok," ucap Nadine. Ia berdiri dan menarik tangan Kavin. Sedangkan Kavin yang sedang kesal karena istrinya belum pulang juga langsung menghempaskan tangan Nadine.
Nadine sempat terhuyung ke samping sebab hempasan tangan Kavin cukup kuat. Tak kehabisan akal, ia kembali duduk di sebelah Kavin.
"Mau sampai kapan kamu nolak aku terus sih? Padahal dulu kita sering bareng bareng loh. Apa kamu gak kangen sama masa masa kita dulu?" Tanya Nadine.
"Ralat, lo yang sering ngintilin gue kemana mana. Bukan kita sering barengan," ucap Kavin ketus.
"Ya tetep aja kan kita sama sama waktu itu. Bahkan kamu inget gak, kita hampir ciuman waktu itu. Sialnya ada Ardian," ucap Nadine.
"Gue bersyukur banget sebab gak jadi ciuman sama lo," ucap Kavin sinis.
Nadine menghela nafasnya dan menoleh ke arah Kavin. Sepertinya Kavin memang sudah menutup hatinya untuknya. Tapi ia tidak akan pernah menyerah, sampai kapan pun Kavin hanya miliknya. Bukan milik Ashel ataupun wanita lain.
Terpikirkan sebuah cara diotaknya sejak beberapa hari yang lalu namun ia masih belum mencobanya dan juga belum mempersiapkan alat dan bahannya. Sepertinya ia harus nekat melakukan hal itu.
Dari kejauhan, Nadine melihat sebuah mobil masuk area penthouse Kavin. Sepertinya itu Ashel. Nadine tersenyum licik, sepertinya akan seru.
Tiba tiba ia memeluk Kavin sedangkan Kavin terdiam sebab ia sedang melamun. Ia bahkan tidak sadar jika Nadine memeluknya dari samping.
Tinn...tinnn
Kavin terlonjak kaget mendengar suara klakson mobil yang berbunyi. Ia pun tersadar posisi Nadine yang sedang memeluknya.
"Lepas. Murah*n banget lo jadi cewek," ucap Kavin berusaha melepaskan tangan Nadine. Namun Nadine dengan kuat terus menahan tangannya agar tidak terlepas dari tubuh Kavin.
"Hadeuh, lagi ngelont* ya tante," ucap Ayu saat ia dan Ashel turun dari dalam mobil.
"AYANGGGH," erang Kavin. Ia menampilkan tatapan memelas pada Ashel. Sedangkan Ashel hanya mengangkat alisnya.
__ADS_1
"BANTUIN YANG. AKU KETEMPELAN," teriak Kavin seperti seorang bocah.
Sedangkan Ayu melongo mendengarnya. Selama ini ia melihat Kavin seperti seorang pria berwibawa dan sangat jarang berbicara.
Tangan Ayu terangkat untuk memberikan tepukan pada sahabatnya.
"Kelasss. Lo bisa bikin cowok tajir kayak gini, infone mbak aku mau loh," ucap Ayu.
"Diem Yu," ucap Ashel. Ia melipat kedua tangannya di dada dan matanya menatap tajam ke arah depan. Dimana Nadine masih memeluk Kavin dan Kavin yang sedang berusaha melepaskan diri.
"HEH ULAT KEKET. MAIN NEMPLOK AJA LO DI LAKI ORANG. DASAR TANTE GIRANG GATEL, MUKA DEMEK AJA SO SOAN PELUK SUAMI BESTI GUE. LEPAS GAK LO?" teriak Ayu. Ia memasang kakinya ala kuda kuda seperti akan menyeruduk Nadine.
"KALO LO MASIH DIEM AJE DAN GAK MAU LEPAS TUH OM OM TAJIR MILIK SOBAT GUE, SIAP SIAP LO GUE SERUDUK. GUE JAMIN LO LANGSUNG MASUK RUMAH SAKIT HABIS GUE SERUDUK," ucap Ayu.
Nadine hanya diam saja. Ia tidak takut dengan ancama wanita di depannya.
"WEHH, NGELUNJAK DIA SHEL. AWAS YA LO," ucap Ayu. Ia pun hendak melangkahkan kakinya dan menyeruduk Nadine namun Ashel segera menahannya.
"Itu urusan gue. Lo mending pulang aja, katanya Rafello udah nunggu lo di apart," bisik Ashel.
"JO, KESINI," ucap Ashel memanggil Jonathan.
"Antarkan teman saya pulang ke apartementnya. Pastikan dia sampai disana dengan selamat ya," ucap Ashel.
"Baik nyonya muda," ucap Jo. Ia pun mempersilahkan pada Ayu untuk ikut dengannya masuk ke dalam mobil.
"Heh, gue mau ikutan war anjir. Gak bisa gue liat tuh ular demek deket deket lakinya besti gue," ucap Ayu pada Ashel.
"Pulang. Gak usah ngeraguin gue," ucap Ashel.
"Yaudah," ucap Ayu. Ia pun menuruti ucapan sahabatnya untuk pulang ke apartmentnya diantar oleh Jonathan.
Sedangkan Ashel kembali menatap suaminya setelah mobil yang membawa Ayu pergi dari sana.
"Masih mau disana? Yakin nanti malam gak mau?" Tanya Ashel.
"IH ENGGAK GITU YANG. DIA MELUKNYA KUAT BANGET," bela Kavin. Ia kembali bersuara setelah berusaha melepaskan diri dari Nadine. Sebenarnya bisa saja ia mendorong Nadine sekuat tenaga, namun ia tidak tega, bagaimana pun Nadine itu perempuan dan Kavin sangat menghormati mereka.
__ADS_1
"Kamu kan cowok. Kok letoy banget tenaganya. Tapi yaudah sih kalo mau sama dia. Aku tinggal masuk aja ya, dadahhh," ucap Ashel. Ia pun melangkahkan kalinya melewati kedua orang itu.
Namun dengan cepat Kavin menahan tangan istrinya saat ia melewatinya.
"KALIAN KESINI. BANTU AKU LEPAS DARI WANITA INI," teriak Kavin. Dua bodyguard yang sedari tadi diam dan menonton itu pun mengangguk dan membantu tuannya lepas dari wanita itu.
Kenapa tidak dari tadi?
Kavin bodoh. Ia merutuki dirinya sendiri akibat kebodohannya.
Nadine pun akhirnya melepas pelukannya karena ditarik oleh dua bodyguard yang diperintakan Kavin.
"Ayang," ucap Kavin ia langsung memeluk Ashel saat dirinya terlepas dari Nadine. Sedangkan Ashel tiba tiba mual saat dipeluk oleh suaminya.
"Yang? Kamu kok muntah muntah kayak gitu? Kenapa, kamu sakit?" Tanya Kavin.
Ashel nengapit hidungnya menggunakan jari tangannya, "Baju kamu bau parfume wanita itu. Aku gak suka!"
Kavin melongo mendengarnya. Apa bisa wangi parfume Nadine menempel pada tubuhnya.
"JELASLAH WANGI, PARFUME AKU MAHAL. GAK KAYAK PARFUME MILIK KAMU YANG WANGINYA ILANG DIBAWA ANGIN," teriak Nadine. Kedua tangannya masih ditahan oleh kedua bodyguard itu.
"Percuma mahal kalo yang lo yang pake. Lo kan murah*n. Gak pantes pake parfume merk channel. Pantesnya pake kapur barus aja. Itu cocok buat lo yang sering ganggu suami orang," ucap Ashel. Ia pun masuk ke dalam rumahnya meninggalkan semua orang.
Sedangkan Kavin. Sebelum masuk ia memerintahkan para bodyguardnya untuk mengusir Nadine dari rumahnya dan meminta untuk tidak mengijinkan Nadine masuk lagi ke area rumahnya.
Ia pun bergegas mengejar istrinya yang masuk ke dalam rumah.
Saat Kavin hendak kembali memeluk istrinta, tiba tiba tangan Ashel terangkat seolah menahan Kavin untuk tetap diam.
"Aku beneran mual nyium bau parfume di tubuh kamu mas," ucap Ashel.
"Mandi sana yang bersih. Jijik aku deket deket kamu kalo kamu masih bau parfume itu," sambungnya.
"Yang?" Panggil Kavin. Ashel pun menolehkan wajahnya ke arah suaminya.
"Kamu hamil?"
__ADS_1
Tbc.
Vote komen guys. Kalo ada typ maap. Semoga suka