
Keluarga kecil Sky dan Bintang kini telah lengkap, Skylar beberapa tahun lalu melahirkan seorang putri cantik Aozora Aurelani Winston. Kini Langit tumbuh menjadi pria tampan yang gagah, sedangkan adiknya Sora tumbuh menjadi gadis cantik.
Langit dan Sora hanya diam melihat kedua orang tuanya yang kembali berdebat seperti biasanya.
"Daddy, Mommy kalian berhenti berdebat bisa gak sih kalau mau bertengkar di atas ranjang aja. " celetuk Sora dengan asal. Langit langsung menatap tajam adiknya, Sora tampak cengengesan di tatap sang kakak. Kedua orang tuanya berhenti, mereka menatap putri mereka dan berteriak.
"Sora. " pekik Mommy dan Daddy berbarengan. Sora hanya tertawa tanpa dosa, mereka kembali melanjutkan sarapannya dengan tenang.
"Mom, Dad aku berangkat ke kampus dulu, setelah itu kalian lanjutkan pertengkarannya di atas ranjang ya. " Sora langsung kabur setelah menciumi pipi ibunya. Mommy Sky mendengus sebal melihat kelakuan bar bar anak perempuannya.
"Lihat Dad, putrimu itu sama mesumnya seperti kamu. " omel Mommy Sky pada Daddy Bintang. Daddy Bintang hanya pasrah, membiarkan istrinya menyalahkan dirinya. Langit sendiri telah selesai sarapan, pria tampan itu pamit pada kedua orang tuanya.
Setelah kepergian anak anak mereka, Daddy Bintang justru bangkit dan menyeret istrinya ke kamar. "Daddy astaga, ngapain kamu ngajak ke kamar lagi? "
"Bikin adik untuk Langit dan Sora. " jawab Daddy dengan enteng. Mommy melotot, Daddy Bi mengabaikan omelan istrinya, pria paruh baya itu tetap menariknya ke dalam kamar.
Kini Langit telah sampai di perusahaan, pria itu langsung masuk tanpa mengubris sapaan dari para karyawannya. Pria tampan itu telah menduduki kursinya,di temani sang asisten yang langsung menyodorkan berkas laporan.
"Kau sudah mencari sekertaris yang baru untukku Bayu? " tanya Langit tanpa mengalihkan pandangannya dari berkas yang dia genggam.
"Belum tuan, tapi di sini ada beberapa anak magang!
"Berikan informasi mengenai anak magang itu! Bayu segera mengerjakan perintah atasannya itu. Tak lama sang asisten kembali dan menaruh Cv yang di inginkan Langit. Langit segera memeriksa nama nama anak magang di perusahaannya.
"Panggil gadis yang bernama Aurora Danica, Bayu!
__ADS_1
"Baik tuan. " jawab Bayu singkat. Terdengar suara ketukan pintu, Langit membiarkannya masuk. Seorang gadis bertubuh mungil berjalan kearahnya, Langit menilai penampilan gadis di depannya.
"Kau yang bernama Aurora Danica? "
"Iya Om eh Tuan. " ucapnya sambil merapat panggilannya pada pria di depannya saat ini.
"Bagaimana bisa kamu mau menjadi sekertarisku jika penampilanmu saja begitu norak? "
Aurora menilai penampilannya dari atas sampai bawah, lalu menatap kesal kearah pria dewasa di depannya ini. "Tapi saya di sini cuma magang, siapa bilang saya ingin menjadi sekertaris pria galak sepertimu om? "
"Kau. " Langit mengeram rendah, pria itu tak menyangka gadis mungil di depannya ini berani melawannya. Gadis itu membungkuk sejenak lalu melangkah ke luar dari ruangan Langit dengan santai. Pria itu mengumpat pelan, memberi apresiasi akan keberanian Aurora barusan.
Langit menghubungi Bayu, menyuruhnya mencari sekertaris wanita yang lain. Dia masih kesal akan penolakan gadis mungil tadi yang membuatnya malu.
"Ada apa sih Ra, sedari tadi aku perhatikan wajah kamu di tekuk terus, harusnya kamu seneng lho ketemu bos tampan kita. " ujar salah satu teman Rara yang bernama Liana.
"Dia nyebelin banget Li, masa ngatain penampilan aku norak gitu, lagian siapa juga yang mau jadi sekretarisnya? " Liana langsung tergelak mendengar cerita sahabatnya, Rara semakin kesal pada temannya itu. Gadis itu kembali ke mejanya dan mengerjakan proposalnya lagi.
Lagi lagi Rara tak bisa konsentrasi, gadis itu hanya mampu mengumpat pelan. Liana menggeleng kak kepalanya melihat tingkah konyol sahabatnya itu. Dia juga sudah berulang kali menasehati Rara agar mengubah penampilannya namun Raranya sendiri menolak.
Tepat jam makan siang, Rara mengajak Liana pergi ke kantin. Tanpa sengaja dia berpapasan dengan Langit yang hendak ke luar, Rara sendiri melengos pergi. Langit yang melihat kelakuan gadis bar bar itu hanya mendengus pelan.
"Ya ampun Ra, kamu tadi nggak sopan tahu. Gimana kalau pak Langit sakit hati akan sikapmu, bisa bisa kamu di pecat nantinya!
"Terus gimana, masa iya aku pakai pakaian seksi yang menampilkan dada hish menjijikkan tahu. " Rara bergidik ngeri membayangkan dirinya memakai pakaian ketat dan seksi.
__ADS_1
"Enggak gitu juga Aurora Danica, susah ya ngomong sama kamu Ra. " cetus Liana kesal akan sikap keras kepala sahabatnya. Rara mengangkat bahu acuh, sibuk dengan makan siangnya. Selesai makan siang, Rara justru kini melamun entah apa yang di pikirkan gadis itu saat ini.
Rara POV
Aku memang sengaja berpenampilan sederhana dan norak, ada alasan di balik itu semua. Dia tak mempedulikan penampilan dirinya, yang terpenting dia bekerja dan mendapatkan yang untuk kebutuhan dirinya dan sang ibu. Maafin Rara bu, Rara belum bisa membahagiakan ibu sampai saat ini.
"Ra, kenapa kamu melamun? " tanya Liana menyenggol lengan sahabatnya.
"Enggak papa Li, hanya kepikiran Ibu. " jawab Rara yang tak sepenuhnya berbohong. Liana menepuk pundak Rara, dia paham akan kegelisahan sahabatnya itu. Keduanya bangkit, melenggang pergi meninggalkan kantin menuju ke ruangan mereka.
Tepat pukul dua siang jam kerja telah habis, setelah membereskan mejanya Rara mengajak Liana pulang. Gadis bertubuh mungil itu terdiam kaku melihat boss galaknya kini berdiri tak jauh dari tempatnya.
"Kalian berdua ikut saya sekarang. " tidak Langit dengan sorot mata tajamnya. Rara mendorong Liana agar duduk di depan, gadis itu begitu licik memberikan alasan jika dirinya mudah mabuk. Liana hanya mampu mengumpat dalam hati, merutuki kepintaran Rara yang duduk di belakang.
Rara terkikik di belakang, perempuan itu tak sadar jika sepasang mata memperhatikannya dari belakang. Langit kembali fokus ke depan, pria itu sedikit menambah kecepatan. Tak lama mereka akhirnya tiba di pusat perbelanjaan, ketiganya langsung turun. Liana yang melihat sahabatnya hendak kabur, berusaha menariknya. Langit menarik tangan Rara dan menyeretnya ke dalam. Dia meminta pelayan memilihkan pakaian untuk gadis bar bar yang ada si sampingnya ini.
"Aku enggak akan mengganti pakaianku om galak, dengar gak sih. " cetus Rara dengan kesal.
"Pilih mana kau menuruti perintahku atau aku menciummu di sini nona? " Langit menaikkan sebelah alisnya, menatap lekat wajah Rara. Gadis itu semakin jengkel dengan si bos galak nya, dia langsung menyusul pelayan. Liana sendiri ternganga sekaligus menertawakan ketidak berdayaan sahabatnya.
Rara menunjukkan pakaian itu pada Langit, Langit mengangguk. Pria itu meminta pelayan membungkus pakaian yang di pilih Rara. Ada sekitar lebih dari lima pasang pakaian yang di berikan Langit untuk Rara. Selesai belanja, mereka kembali ke dalam mobil, Langit mengantar pulang Liana dulu.
"Di mana rumah kamu? " tanya Langit pada gadis mungil di sebelahnya.
Rara terpaksa memberitahu alamat rumahnya pada sang bos. Tanpa bicara Langit melajukan roda empatnya menuju ke alamat yang di bicarakan Rara.
__ADS_1