
Happy reading♡
Setelah semalaman penuh mereka berempat menghabiskan waktu untuk barbeque, akhirnya pagi ini mereka semua kesiangan. Semalam Ashel memaksa Kavin untuk tidur duluan karena memang bumil itu sudah sangat mengantuk. Apalagi perutnya sudah terasa sangat penuh. Jadi Kavin pun mengiyakan ajakan istrinya.
Sedangkan Fello dan Ayu masih berlanjut sampai pukul tiga dini hari. Mereka bedagang semalaman menonton film action setelah memasak semua sosis, daging beserta yang lainnya kemudian mereka bawa ke resort Rafello.
Dan sekitar jam sembilan, Ashel merengek meminta dibelikan bakso mang Mi'un. Sedangkan Kavin masih saja tertidur. Sejak tadi Ashel sudah mencoba membangunkan suaminya ini namun sangat susah sekali.
"Mas, bangun ih. Aku mau makan bakso," ucap Ashel.
Kavin membuka sedikit matanya kemudian melirik jam, baru jam sembilan pagi. Tukang baso mana yang sudah buka?
"Nanti," ucapnya. Ia pun kembali tidur dan menarik selimut untuk menutupi wajahnya.
"Ih, ngeselin banget," ucap Ashel. Ia pun berdiri dari atas kasur dan berjalan keluar kamar. Ashel memasang wajah masamnya dan berjalan menghentak hentakan kakinya. Ia berniat mengunjungi kamar Fello. Karena ia tahu jika Ayu bermalam disana.
Ashel menggedor pintu kamar Fello. Gedorannya cukup keras namun tidak ada yang menyahut sama sekali.
Ashel menghembuskan nafas kasarnya. Ia pun kembali berjalan dan duduk di sofa. Ia menelepon salah satu keponakannya yang rumahnya tak jauh dari penginapan Ashel saat ini.
"Jemput kakak Pid, kakak di resort deket danau," ucap Ashel saat sambungan telepon terhubung.
"..."
"Udah jemput aja. Gak usah pikirin itu, anterin ke warung mang Mi'un," ucap Ashel.
"..."
"Oke."
Sambungan telepon terputus. Ia menengok ke arah kamarnya. Suaminya kembali terlelap. Huh, dasar kebo.
Ashel hanya meninggalkan pesan singkat di ponsel suaminya. Ia tidak mau membangunkannya toh tadi juga Kavin tidak bangun sama sekali.
Ashel memakai kaos lengan panjang berukuran cukup besar dengan bawahan celana legging.
Celana sejuta umat.
__ADS_1
Ia tidak membawa dompet atau apapun. Karena di ponselnya ada mbanking. Ia hanya membawa uang cash seratus ribu sebanyak satu lembar saja yang ia simpan di dalam case ponselnya.
Ia turun ke bawah menuju ke depan pintu. Sepertinya Apid sudah disana. Apid adalah anak dari bibinya. Adik dari bundanya.
"Widih bumil, ngidam mang Mi'un ya?" Tanya Apid. Ia sudah ada disana dengan cepat. Motor beat Apid mengingatkan Ashel pada kejadian di masa lalu.
Waktu itu ia dan Apid masih SMP. Mereka beda dua tahun. Apid membawa motor ini ke sekolah dan Ashel menumpang, sialnya saat mereka akan pulang Apid tidak sengaja menabrak batu berukuran sedang yang menyebabkan motornya oleng sehingga mereka jatuh.
Bukan jatuh ke atas aspal melainkan jatuh ke got. Yang paling parah Apid. Karena pria itu jatuh dengan posisi kepala duluan sehingga kepalanya full hitam akibat air got sedangkan Ashel jatuh dengan posisi kakinya dulu.
Tiba tiba Ashel ngakak brutal mengingat hal itu. Apid yang tidak tahu kenapa kakaknya tiba tiba ngakak brutal ini juga malah ikutan ngakak. Padahal ia tidak tahu ngakak karena apa.
Ia ikutan ngakak karena melihat kakaknya yang ngakak.
"Motor ini masih ada aja anjir. Gue kira udah di jual," ucap Ashel. Ia pun berhenti ngakak dan naik ke atas motor setelah Apid memberikan helm.
"Yakali gue jual. Gini gini juga motor ini banyak kenangannya teh. Lo tadi ngakak gara gara keinget masa lalu kan? Ngaku lo," ucap Apid. Ia pun menjalan motornya setelah Ashel naik.
"Iya anjir. Lo gak inget waktu kita nyebur ke got yang item? Mana bau banget," ucap Ashel. Ia kembali ngakak saat menanyakan hal itu.
Ashel kembali ngakak brutal saat mendengar ucapan Apid. Masa lalunya ketika di Bandung memang sangat berkesan sekali.
"Ya allah, gue sampe nangis gara gara ketawa. Mana perut gue sakit lagi gara gara kebanyakan ketawa," ucap Ashel. Ia mengelus perutnya.
"Ya elo emang bangsul! Waktu itu bukannya nolongin malah ngakak duluan baru nolong. Udah tahu mata gue ke tutup gara gara lumpur," ucap Apid.
Memang kebiasaan Ashel dan juga keponakannya yang lain jika ada salah satu dari mereka yang terkena musibah, bukannya memberikan pertolongan pertama mereka malah ketawa duluan.
Mau heran, tapi itu memang sering kejadian.
"Ya gimana ya Pid, kan lo tahu sendiri humor gue receh banget. Ya gue ketawa dulu lah sebelum nolongin," ucap Ashel.
"Untung lo teteh gue. Kalo adek gue udah gue gibeng lo," ucap Apid.
"Tapi kesel juga gue teh, kok cuma gue yang palanya nyemplung ke got sedangkan elo cuma bagian kaki doang. Kan gak fair," sambungnya.
"Ya udah sih terima aja, toh udah jadi masa lalu juga. Tapi kalo diinget inget lucu juga," ucap Ashel.
__ADS_1
Apid hanya mendelik. Mereka pun kembali bercerita. Sudah lama tidak bertemu, banyak hal yang diceritakan Apid begitu juga Ashel.
Sepanjang jalan, Ashel kembali diingatkan dengan kejadian masa lalunya. Kota Bandung memiliki sejuta kenangan untuknya. Rasanya semua kenangan masa lalunya menguap saat ia melewati jalanan ini.
"Pid, Pid, itu kan got yang waktu itu kita nyemplung?" Tanya Ashel.
"Lah anjir, iya itu. Kok bisa sih lewat sini," gerutu Apid. Ia kesal, apalagi saat mendengae kembali kakaknya ketawa sampai ngik ngik.
"Udah kali teh, seneng banget lo nistain gue. Kan yang nyemplung kita berdua," ucap Apid.
Ashel bukannya menjawab. Ia malah terus terusan ngakak sampai perutnya sakit. Ia hampir terjatuh dari motor akibat kebanyakan ketawa. Beruntung sejak berangkat tangannya memegang kedua pundak Apid.
Sudah seperti tukang ojek kan?
"Ini mau ke bakso mang Mi'un langsung teh?" Tanya Apid.
"Iyalah. Makan paginya bakso," ucap Ashel.
"Tuh lihat, belom buka. Lagian bukanya jam sepuluh. Ini baru jam sembilan. Muter muter aja dulu yuk, mau gak?" Tanya Apid.
Jujur saja ia merindukan masa masa seperti ini bersama kakak perempuannya. Apid hanya anak tunggal dan ia paling dekat dengan Ashel.
"Gas. Sambil nyari jajanan lain. Gue pengen banget makan rambut nenek yang di gang bacok itu loh, apa masih jualan?" Tanya Ashel.
"Ke pabriknya langsung aja teh. Kebetulan itu punya kawan Apid. Biar nanti sekalian kenalan juga," ucap Apid.
"Gas keun Pid. Hari ini teteh mau banyak makan," ucap Ashel. Apid mengangguk dan melajukan mobilnya.
Tbc.
Ini cerita baru aku. Up tgl 1 februari. Mampir yaaa
Tbc.
__ADS_1