My Little Wife

My Little Wife
Bab 153 : Ashel dan Cemburunya


__ADS_3

YYYY CRAZY UP. RAMEIN HEH!


.


.


.


Happy reading♡


Ashel berdecak kesal karena keduanya diam saja. Padahal Ashel sudah memberikan jaminan. Ia pun nekat dengan masuk ke dalam ruang receptionist.


Ia mengotak atik komputer yang ada disana. Ia menggunakan komputer untuk melihat kamar yang masih kosong.


"Sayang, jaga sikap kamu," ucap Kavin. Nadanya cukup tegas sampai membuat Ashel terdiam beberapa saat.


"Maaf, tapi disini bukan kesalahan saya. Saya sudah meminta baik baik tapi mereka berdua diam saja karena ancaman anda. Tenang saja, saya sudah membayarnya," ucap Ashel. Ia mengubah nada bicaranya menjadi formal.


"Om Josh, ini kartunya. Aku transfer uangnya nanti setelah aku hubungi Ardian ya, makasih," ucap Ashel. Ia pun langsung ngacir berlari menjauh dari Kavin.


Kamar yang akan ditempati Ashel berada di lantai tiga. Ia harus menggunakan lift untuk cepat sampai disana.


Saat pintu lift yang dimasuki Ashel akan menutup, tiba tiba Kavin menerobosnya masuk. Ashel hanya melihatnya sekilas dan kembali menatap ke arah lain.


"Sayang, kamu kenapa sih? Kalo aku salah aku minta maaf oke? Kita sekamar jangan pisah kamar," ucap Kavin. Ia berusaha meraih tangan Ashel namun Ashel menepisnya.


"Tolong sikapnya. Tidak perlu memegang juga kan?" Tanya Ashel.


"Berhenti bersikap so formal atau aku akan menghukum mu," ucap Kavin. Ia sudah menghimpit tubuh Ashel.


Saat pintu lift terbuka, Kavin langsung menarik kasar tangan Ashel. Ia menuju ke kamar yang dipesan Ashel karena kamar yang ia pesan berada di lantai atas. Lantai president suit.


"Lepasin! Kamu kenapa sih? Sakit tahu gak?" Ucap Ashel. Ia terus terusan berontak berusaha melepaskan cekalan tangan Kavin.


"Gak akan sebelum kamu inget siapa aku dan siapa kita. Salah siapa kamu kayak gini. Siap siap aja aku gak bakalan lepasin kamu," ucap Kavin.


"Kamu gila?!"


"Ya aku gila. Gila karena kamu. Selama ini aku selalu berusaha menahan diri aku tapi kamu selalu saja memancingnya," ucap Kavin. Ia menarik kartu yang dipegang oleh Ashel dan mendekatkannya pada pintu.


Terdengar bunyi bip dan pintu kamar hotel pun terbuka. Kavin menarik Ashel masuk ke dalamnya. Ia menendang pintunyaa agar tertutup.


Tubuh Ashel di hempaskan ke atas ranjang. Kavin langsung mengukung tubuh Ashel.

__ADS_1


"Ada apa? Kenapa kamu kayak gini?" Tanya Kavin.


"Kamu gak bebasin aku jelas aku bakalan ngebangkang. Perihal kamar aja kamu harus teriak kayak tadi. Aku masih punya malu Kavin," ucap Ashel. Jujur saja saat ini ia sangat ketakukan karena raut wajah Kavin yang cukup menyeramkan bagi Ashel.


"Kita udah sering tidur bareng. Kenapa sekarang kamu tiba tiba kayak gini? Segala mau pisah kamar," ucap Kavin.


"Ya biarin lah. Suka suka aku. Kamu belum jadi suami aku, jadi kamu gak berhak atur atur hidup aku seenak kamu," ucap Ashel. Tangannya mendorong dada Kavin agar menjauh dari atas tubuhnya.


"Tangan kamu masih sakit. Tinggal bilang kalo aku harus geser," ucap Kavin.


"Lah, biasanya juga kamu gak mau aku minta baik baik. Yaudah daripada cape adu argumen aku dorong aja," ucap Ashel.


Kavin menaikan tangan Ashel yang diperban ke atas sebelah kepalanya.


"Aaaaaaa sayang jangan kayak gini," ucap Kavin. Ia sudah menelungkupkan kepalanya ke bahu Ashel. Otomatis tubuh Kavin menindih Ashel.


Ashel sempat melongo beberapa saat. Tadi saja orang ini sangat galak sekali tapi sekarang?


"B-berat," ucap Ashel. Karena tubuh Kavin menimpanya begitu saja. Tubuh Ashel lebih kecil daripada tubuh Kavin. Jelas saja Ashel merasa gepeng saat ini.


"A-awas i-ih. Berat," ucap Ashel.


"Gak mau sebelum kamu mau sekamar sama aku. Kita bobo bareng. Aku mau di kelonin sama kamu," ucap Kavin.


"K-kamu mau a-ku ma-ti?"


"IH ENGGAK. MANA BISA KAMU MATI, KITA BELUM NIKAH, BELUM NA ENA, BELUM PUNYA AN-," teriakan Kavin terhenti karena Ashel menutup mulutnya dengan tangannya yang di perban.


Ashel menepuk nepuk bahu Kavin namun Kavin tidak kunjung bangun. Akhirnya Ashel menggigit bahu Kavin yang berada di depannya.


"Arghhhhh, shhh s-saya-nghh," ucap Kavin. Ashel merasa horor mendengar desah*n Kavin.


"Gak usah di buat buat kayak gitu. Geli tahu gak?!" Ucap Ashel. Ia sudah bisa bernafas lega karena Kavin sudah tidak menindih tubuhnya lagi.


"Galak banget sih, mana ganas lagi. Bahu aku pasti merah ini," ucap Kavin.


"Ya bodo. Dada aku aja bisa datar kalo lama lama ketiban tubuh kamu," ucap Ashel. Ia semakin sewot pada Kavin.


"Ya gak mungkin lah yang. Yang ada nanti bakalan tambah gede kalo kita udah nikah," ucap Kavin ambigu.


"Jangan mesum mulu bisa? Kalo gak des*h ya mesum. Heran banget aku sama kamu," ucap Ashel. Ia pun merebahkan tubuhnya diatas kasur itu.


"IIHH SAYANG, JANGAN BOBO DISINI. INI KAMAR MURAH. AKU UDAH SIAPIN KAMAR BUAT KITA," teriak Kavin saat Ashel akan memejamkan matanya.

__ADS_1


Plakk..


"GAK USAH TERIAK TERIAK JUGA. AKU GAK BUDEG," ucap Ashel.


"Kamu juga teriak," ucap Kavin.


"Tau ah kesel aku sama kamu. Ngalah dikit kek, dasar cowok gak peka," ucap Ashel. Ia pun menarik bantal guling untuk menutupi wajahnya.


Ia sungguh sangat kesal sekali pada Kavin.


"Iya iya sayang maaf, gak gitu lagi deh. Makanya kamu nurut sama aku," ucap Kavin.


"Sayang."


"Sayang ish," panggil Kavin namun Ashel masih tetap diam. Namun dapat Kavin lihat jika Ashel sepertinya sedang menahan emosinya. Terlihat dari dada Ashel yang naik turun sejak tadi. Nafasnya juga terdengar samar.


Bukannya membujuk agar Ashel tidak marah padanya. Kavin malah fokus pada sesuatu yang sejak tadi naik turun. Gadisnya ini masih menggunakan gaun hitam yang ia pakai sejak dari Boston.


"Dada kamu gede banget yang. Aku bisa khilaf ini," ucap Kavin.


Bugh...


Ashel melempar bantal guling yang tadi ia gunakan untuk menutupi wajahnya.


Wajah Ashel sangat memerah. Bahkan merahnya sampai ke daun telinganya.


"Lama lama aku bisa stress dengerin omongan kamu yang mesumnya naudzubillah," ucap Ashel.


"Gitu dong bangun. Sayang deh." Bukannya meminta maaf atau apa, Kavin malah memeluk tubuh Ashel.


Sebenarnya tadinya ia sangat ingin sekali marah karena sikap Ashel tadi yang meminta pisah kamar. Namun setelah melihat wajah Ashel yang sedang menahan kekesalannya membuat Kavin lupa akan kemarahannya. Sangat menggemaskan sekali melihat gadisnya yang menahan emosinya seperti ini.


Kavin mengecup bibir Ashel berulang kali membuat Ashel malu dan menyembunyikan wajahnya di leher Kavin.


"Kalo kamu cemburu bilang aja. Jangan kayak gini, marah marah gak jelas. Buang buang tenaga kamu aja," ucap Kavin.


"Cewek kan emang ribet kalo udah cemburu. Makanya jangan bikin aku cemburu kalo gak mau aku bales."


"Siap laksanakan nyonya Kavinder."


Tbc.


Ramein.

__ADS_1



__ADS_2