My Little Wife

My Little Wife
Bab 221 : Dua Anak Cukup


__ADS_3

Happy reading♡


Nadine memberontak tidak mau pergi. Ia berusaha melepaskan dirinya dari dua bodyguard itu namun sangat susah.


Dengan terpaksa, Nadine pun masuk ke dalam mobilnya namun ia belum melajukan mobilnya. Ia masih tetap berada di area rumah Kavin.


Nadine menatap benci ke arah rumah. Disana tepatnya di jendela, ia melihat jika Kavin sedang berusaha membujuk istrinya.


"Ternyata kamu sebucin itu sama wanita sial*n itu. Aku gak akan pernah biarin hal itu terjadi Kav. Aku gak akan pernah rela liat hidup kalian berdua bahagia," ucap Nadine.


Ia mengambil ponselnya dan mengirimkan satu pesan. Disana ia meminta barang yang sempat ia pesan untuk segera dikirim cepat.


"Tunggu aja Kav, aku bakalan buat kamu nikahin aku. Suka atau tidaknya aku tidak peduli, aku akan tetap melakukan hal itu," ucap Nadine.


Ia pun pergi dari sana dari pada harus melihat kemesraan Kavin dan Ashel yang membuat kepalanya mendidih.


Ia sangat tidak sabar menunggu barang itu tiba. Dan mungkin ia harus merencanakan semuanya dengan matang agar berjalan mulus tanpa hambatan.


***


Sudah dua kali Kavin mandi air dingin. Sebenarnya ia sangat terpaksa melakukan itu. Jika saja ia tidak ingin berdekatan dengan istrinya, mungkin ia tidak akan mandi sampai dua kali.


Bahkan saat ia menggunakan parfume yang sering ia pakai, istrinya tetap marah dan tidak mau berdekatan. Alhasil, Kavin tidak memakai parfume.


Saat ini, kedua pasutri itu sedang menonton tv bersama. Kavim memang tidak memiliki pekerjaan saat ini karena ia sudah menyelesaikannya sedangkan Ashel, ia malas belajar. Rasanya tidak ada mood untuk belajar. Dari pada dipaksa, ia akan pusing sendiri jadi lebih baik ia menonton tv saja.


Biasanya ia akan menonton drakor di laptopnya, namun sayangnya ia lupa mendowloadnya dan ia tidak memiliki stok.


"Yang, peluk dong dari tadi jaga jarak mulu kayak mobil truk di Indonesia aja," ucap Kavin.


"Gamau. Kamu bau parfume wanita itu," ucap Ashel.


"Kan aku udah mandi dua kali yang. Dua kali. Masa masih bau sih. Kan gak mungkin," ucap Kavin. Ashel hanya menggidikan bahunya.


Sebenarnya bau parfume itu sudah tidak ada. Ini hanya alibinya saja agar suaminya ini tidak gelendotan padanya. Ia masih kesal dengan kejadian tadi. Kavin malah diam saat Nadine memeluknya seolah pria ini menikmatinya.

__ADS_1


"Apa jangan jangan ini cuma akal akalan kamu aja biar aku gak peluk peluk kamu? Iya?" Tanya Kavin tepat sasaran namun Ashel tetap menampilkan wajah biasa saja.


"Enggak. Fitnah dosa mas, apalagi sama istri sendiri," ucap Ashel. Ia kembali memakan keripik singkong yang sengaja dikirimkan mama mertuanya kesini.


"Nolak suami juga dosa sayang. Apalagi suaminya ganteng plus tajir kayak aku," ucap Kavin. Ia menarik toples keripik yang berads diatas dada istrinya kemudian ia merebahkan tubuhnya di atas tubuh istrinya. Otomatis Ashel pun tidur terlentang karena ulah suaminya.


"Hmmm, nyamannya," guman Kavin saat wajahnya berada diatas benda hidup yang empuk milik istrinya.


"Seneng banget kamu sama dada aku ya? Sampe sampe sering main main di area sana," ucap Ashel.


"Gak usah kamu tanya yang, aku seneng banget. Dulu waktu kamu kecil ini kamu kecil banget malahan datar. Aku sampe gak berselera waktu itu, tapi sekarang kok beda banget. Bisa berisi kayak gini," ucap Kavin. Ia memainkan squishy istrinya.


"Heh! Mulutnya. Namanya juga masih kecil yakali dad*nya gede," ucap Ashel. Kavin hanya terkekeh mendengar ucapan istrinya. Ia hanya bercanda, tidak mungkin Kavin berpikiran seperti itu. Apalagi waktu itu ia masih polos.


"Yang," ucap Kavin.


"Apa?"


"Kamu mau punya anak berapa?" Tanya Kavin tiba tiba membuat Ashel menghentikan gerakan tangannya diatas rambut suaminya.


Kavin menggelengkan kepalanya. "Enggak juga. Lagian kalo punya anak sekarang sekarang, nanti kamu lebih perhatian ke dia. Aku gak mau hal itu terjadi. Nanti aja deh ya punya anaknya."


"Sama anak sendiri masa sirik sih. Dia kan darah daging kamu sendiri," sindir Ashel.


"Bukan sirik yang. Aku cuma belum rela aja kalo dia geser posisi aku. Aku masih mau kayak gini sama kamu. Kalo anak kita udah ada kan waktu kita buat berduaan itu dikit," jelas Kavin.


"Terserah kamu aja sih mau punya anak kapan. Tapi aku maunya dua anak aja mas. Itu udah cukup," ucap Ashel.


Kavin menaikan kepalanya menatap ke arah istrinya, "Padahal aku bisa hidupin sampe sebelas anak loh yang. Beneran cuma mau dua?"


"Heh, dikira aku mesin pencetak anak apa?! Gila kamu. Dua anak aja cukup mas. Gak boleh lebih," ucap Ashel.


"Yaudah iya. Terserah kamu aja."


Mereka berdua pun kembali fokus pada acata tv yang sedang tayang di depan mereka.

__ADS_1


Sebenarnya ada yang mengganjal di pikiran Ashel. Ia sangat ingin menanyakan perihal Liam dan Dona pada suaminya ini. Namun ia bingung memulainya dari mana.


Sampai saat ini suaminya belum menemukan keberadaan Liam padahal Liam berada satu kota dengan mereka hanya saja letak rumah Liam berada di ujung kota yang berbatasan langsung dengan kota lain.


"Kenapa? Kok diem?" Tanya Kavin.


"Gak papa sayang," ucap Ashel.


"Tumben manggil sayang? Ada maunya pasti," ucap Kavin.


"Suudzon terus sama istri heran," ucap Ashel.


"Ya siapa tahu aja. Oh iya yang, kamu gak pernah jajan apa gimana? Kok limit black card kamu masih sama sih? Kan aku suruh habisin uang aku," ucap Kavin. Saat ini ia sudah bangun dari atas tubuh istrinya.


Ashel menghela nafasnya. Ia menarik kepala suaminya dan mengecupnya singkat, "Aku suka jajan, aku suka shopping, aku suka jalan jalan. Tapi aku gak seboros itu sayang."


"Kan udah aku bilang, boros sesekali itu gak papa yang. Kamu mah irit terus deh, heran," ucap Kavin.


Ashel tertawa mendengar ucapan suaminya ini. Kavin memang seroyal itu padanya. Dan Ashel sangat bersyukur sekali.


"Iya nanti aku boros. Kapan kapan," ucap Ashel. Kavin pun mengangguk dan menatap ke arah istrinya.


"Mau ya? Kemarin kan kita gak itu," ucap Kavin.


"Mentang mentang besok aku libur. Tapi janji dulu gak boleh lebih dari tiga kali kelu*r," ucap Ashel. Ia mengangkat kelingkingnya dan mengarahkan pada suaminya.


Sedangkan Kavin menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Ia bingung harus apa. Ia tidak mungkin menyetujui keinginan istrinya bukan?


Tiga kali? Rasanya kurang puas. Biasanya lima sampai tujuh kali kelu*r baru Kavin puas. Apalagi dengan durasi lama.


"Gak janji," ucap Kavin. Ia pun menggendong istrinya menuju ke kamar mereka berdua.


Dan kalian tahu apa yang akan terjadi selanjutnya.


Tbc.

__ADS_1


Ramein vote guysss


__ADS_2