My Little Wife

My Little Wife
Bab 188 : Mertua Idaman


__ADS_3

RAMEIN GUYSSS


.


.


.


Happy reading♡


Saat ini Ashel sedang bersama dengan mama mertuanya. Mereka berdua berada di kamar milik Sarah.


Banyak hal yang mereka bicarakan. Namun semuanya tentang hubungan Ashel dan Kavin. Setelah mendengar semua ucapan Sarah, Ashel jadi yakin memang pilihannya tidak salah.


"Mama seneng banget. Rasanya rasa syukur mama sama tuhan gak bisa mama ucapkan dalam kata kata. Mama bersyukur banget kamu yang jadi mantu mama," ucap Sarah.


"Riana juga bersyukur ma kalo dengan pernikahan Riana dan mas Kavin, banyak yang bahagia juga," ucap Ashel.


"Yang harus kamu inget, kamu menikah sama Kavin atas restu kedua keluarga. Kami pasti menginginkan penerus dari kalian. Tapi mama pribadi tidak memaksakan hal itu. Apalagi sekarang kamu baru masuk kuliah, pasti akan sangat sibuk. Mama akan menerima apapun keputusan kamu sama Kavin soal anak kalian nanti," ucap Sarah.


Kali ini Ashel yang sangat bersyukur. Bersyukur karena memiliki mertua sebaik Sarah. Selain baik, Sarah juga sangat perhatian pada Ashel jauh sebelum dirinya memutuskan untuk menikah dengan Kavin.


Ashel tidak pernah menyangka bisa memiliki mertua idaman seperti Sarah.


"Iya ma. Riana paham soal itu, nanti Riana akan bicarakan lagi sama mas Kavin," ucap Ashel.


Sarah mengangguk dan tersenyum.


"Oh iya sayang, setelah kamu menikah mama belum kasih kamu hadiah loh," ucap Sarah.


"Astaga ma, gak perlu. Udah jadi mantu mama aja Riana udah seneng," ucap Ashel.


"Gak bisa gitu dong. Mama udah siapin hadiah ini lama banget tahu," ucap Sarah. Ia pun berjalan menuju ke lemari kecil yang ada di dekat meja rias.


Dari dalam laci itu, ia mengeluarkan kotak kata berukuran cukup besar.


Di dalam kotak itu ada satu set perhiasan lengkap.


"Awalnya mama gak tahu mau kasih kamu hadiah apa. Mama sempat tanya sama papa, terus papa bilang waktu kami sekeluarga liburan ke Prancis, mama sempet beli perhiasan. Dan mama baru inget niat mama beli perhiasan ini emang buat mantu mama," ucap Sarah. 

__ADS_1


Perhiasan itu sangat indah. Berwarna silver berbentuk daun yang disusun.



"Lima belas tahun yang lalu mama beli ini, waktu itu umur Kavin baru dua belas tahun dan umur kamu delapan tahun. Waktu itu keluarga kita tidak sengaja bertemu di Prancis. Apa kamu tidak ingat?" Tanya Sarah.


Ashel terdiam. Ia memang pernah ke Prancis namun ia tidak ingat apa keluarganya bertemu dengan keluarga Kavin atau tidak.


"Riana enggak inget ma," ucap Ashel.


"Wajar saja sayang kamu enggak ingat, itu sudah lama berlalu namun untungnya perhiasan ini masih bagus," ucap Sarah.


"Iya ma, kayaknya perhiasan ini emang di rawat ya?" Tanya Ashel.


"Mama memang sengaja merawatnya karena mama sudah berjanji akan memberikannya pada menantu mama, yaitu kamu. Setiap satu bulan sekali mama membawanya ke teman mama yang kebetulan dia ahli di bidang perhiasan. Makanya bentuknya masih sama seperti lima belas tahun yang lalu," ucap Sarah.


"Tapi ma, apa ini tidak berlebihan? Kenapa tidak mama saja yang memakainya?" Tanya Ashel.


"Kan mama udah bilang, kalo mama beli ini buat mantu mama. Mana bisa mama pakai, lagian mama masih punya yang lainnya. Kamu harus terima ini, mama maksa. Kalo kamu gak terima, mama nuntut kamu segera punya anak!" Ancamnya.


"Astaga ma," ucap Ashel tertawa pelan.


"Terima aja yang. Lagian perhiasan mama banyak. Kalo kamu masuk ke ruangan itu, kamu pasti bakalan melongo melihatnya. Toko mas aja kalah sama ruangan milik mama," ucap Kavin. Ia masuk ke dalam kamar Sarah tanpa permisi.


"Mana sempat. Lagian siapa suruh kamu lama sama mama? Kamu ninggalin aku udah satu jam lebih," gerutu Kavin.


Ashel dan Sarah tidak sadar jika mereka mengobrol selama itu. Mereka berdua hanya tertawa karena tidak ingat waktu.


"Udah ya ma, aku ambil istri aku lagi," ucap Kavin.


"Iya udah, tapi ini kamu bawa ya. Mama mau kamu pakai ini sayang," ucap Sarah pasa Ashel.


"Riana pasti akan memakainya ma. Terimakasih banyak," ucap Ashel. Ia memeluk mertuanya sebagai ucapan terimakasih.


"Hish, udah dong pelukannya," ucap Kavin.


"Heh! Riana itu anak perempuan mama ya sebelum dia nikah sama kamu. Mama berhak dong peluk peluk dia mau lama atau enggak," ucap Sarah.


"Mama peluk papa aja sana. Jangan istri aku," ucap Kavin.

__ADS_1


"Kalian ini ada apa sih? Suaranya sampe kedengeran keluar," ucap Nata diambang pintu.


"Cucu mama nih, aku peluk istrinya aja marah," adu Sarah.


"Biarin," ucap Kavin.


"Mas, gak boleh gitu," ucap Ashel. Lagi lagi ia memperingati suaminya.


"Ya abisnya yang ayo ikut aku. Aku udah gak tahan," bisik Kavin diakhir ucapannya.


Ashel mengernyit. Ia tidak paham sama sekali maksud dari ucapan suaminya ini. Sedangkan Kavin sudah bisa menebak saat ia melihat raut wajah istrinya yang tidak paham.


"Riana, ikut oma sebentar yuk," ajak Nata.


"Aish, oma. Nanti saja please," ucap Kavin.


"Mana bisa. Besok kalian kan pasti akan sibuk," ucap Nata. Ia pun menarik Ashel dan pergi dari kamar Sarah. Mau tak mau Kavin membuntutinya. Ia juga membawa perhiasan yang diberikan mamanya untuk istrinya.


Ashel dibawa ke kamar omanya. Entah apa lagi yang akan dilakukan mereka berdua. Istri kecilnya itu jahat sekali tidak bisa membaca situasi Kavin saat ini.


"Sarah pasti sudah memberikan kamu hadiah kan? Sekarang giliran oma," ucap Nata. Ia pun membawa Ashel ke kamarnya karena memang barang barang yang akan ia berikan ada disana.


Ashel melewati kamar omanya dan masuk ke ruangan yang disebut walk in closet. Disana ia melihat banyak sekali paper bag dan kotak dari merk Dior.


"Ini semua tas oma belikan untuk cucu mantu oma tersayang. Nanti ini semua akan dipindahkan ke rumah kamu setelah kamu dan Kavin resmi memiliki rumah. Entah di Boston atau di Indonesia, oma tidak masalah," ucap Nata.



Ashel kembali melongo melihat hadiah yang dimaksud omanya ini. Ini semua untuknya? Apa tidak salah?


"Oma, Riana-,"


"Oma gak nerima penolakan. Ancaman oma sama seperti Sarah. Kalo kamu gak terima sebagai gantinya kamu harus kasih oma cicit," ucap Nata.


"Untuk itu, Riananya aku bawa dulu ya oma. Katanya mau cicit. Kita butuh proses buatnya. Jadi aku ambil istriku ya," ucap Kavin tiba tiba. Ia sudah sangat tidah tahan. Tanpa persetujuan omanya, ia pun membawa istirnya ke kamar mereka.


"Kamu kenapa sih mas?"


"Dia bangun. Kamu harus bantu aku," ucap Kavin. Ashel menatapnya horor. Apa ia harus muntah muntah lagi?

__ADS_1


Tbc.


Bismillah dapet mertua macam mama sarah, aamiin


__ADS_2