
SALTOOOO🤸♀️🤸♀️🤸♀️
.
.
.
Happy reading♡
Sepulang dari kampus, Rafello langsung mengantar Ashel pulang sekaligus ada hal yang ingin ia tanyakan pada abangnya. Namun saat bertemu dengan Kavin, bukannya mulutnya bertanya malah tangannya yang melayang. Memberikan bogeman mentah pada Kavin.
Setelah jam istirahat tadi, ia mendesak Ashel untuk menceritakan apa yang sebenarnya terjadi. Akhirnya Ashel pun menceritakan semuanya di depan Ayu dan Rafello
Rafello tidak terima perlakuan abangnya pada Ashel yang seperti itu. Itu sama saja menyakitinya karena Ashel adalah sahabatnya.
Ashel yang melihatnya cukup terkejut karena Rafello cukup berani melakukan hal itu. Namun ia hanya diam saja, melihat Kavin yang tersungkur karena tinjuan dari Rafello.
"Dulu gue pernah bilang sama lo kalo lo harus bahagianin sahabat gue. Tapi apa?! Lo malah selingkuh sama wanita kaya gitu," ucap Rafello kelewat emosi. Dadanya naik turun saking emosinya.
"Ini rumah tangga gue. Lo gak perlu ikut campur," ucap Kavin.
"ANJI*G. JELAS GUE HARUS IKUT CAMPUR KARENA LO KAKAK GUE DAN ORANG YANG LO SAKITIN ITU SAHABAT GUE," ucap Rafello. Ia kembali akan membogem Kavin namun lebih dulu Kavin yang melayangkan tinjuannya.
"Astaga, Fello," gumam Ashel. Ia pun berjalan mendekat ke arah Rafello yang sudah tersungkur.
"CUKUP MAS! BERHENTI."
"Kamu bela dia? Yang suami kamu itu aku bukan dia," ucap Kavin.
"Aku gak peduli. Kita akan segera berpisah. Ingat itu," ucap Ashel. Ia membantu Rafello berdiri.
"Udah Fell. Jangan ribut. Malu sama pekerja disini," ucap Ashel.
"Gue gak peduli Shel. Yang gue peduliin itu lo. Mending lo tinggal di apartment Ayu dulu, jangan disini. Dia udah gila," ucap Rafello.
"JOSH, BAWA KELUAR ANAK ITU. JAUHKAN DIA DARI ISTRI KU," teriak Kavin. Josh yang berada tak jauh dari sama pun langsung menghampiri Rafello.
"Maaf tuan Fello. Silahkan ikut saya keluar," ucap Josh.
"Gak mau om. Om ternyata lebih dukung Ashel disakitin dia dari pada selametin Ashel," ucap Rafello.
__ADS_1
Kavin berjalan mendekat ke arah Ashel dan menarik tangannya untuk pergi dari samping Rafello.
"Tarik dia saja," ucap Kavin pada Josh.
Rafello dan Ashel sama sama berontak untuk melepaskan diri dari cekalan itu.
Ashel menatap kepergian Rafello yang ditarik paksa oleh Josh. Ia tidak bisa berbuat apa apa saat ini. Sialnya kenapa ia harus pulang ke rumah ini. Jika saja tahu Kavin akan bersikap seperti ini, lebih baik ia mengungsi di rumah Ayu.
"Udah berani sekarang? Ngadu apa aja sama Rafello?" Tanya Kavin.
"Bukan urusan kamu," ucap Ashel.
Kavin tersenyum miring dan membawa paksa Ashel ke kamar mereka.
"LEPAS MAS. JANGAN PAKSA AKU. SAKIT," teriak Ashel saat tangannya ditarik paksa oleh suaminya.
Ashel terus berontak membuat Kavin cukup kewalahan. Maka dari itu, Kavin langsung menggendong Ashel seperti membawa karung beras. Tubuh Ashel serasa melayang saat Kavin mengangkatnya dengan mudah.
Saat sudah sampai di dalam kamar, tubuh Ashel dilempar begitu saja ke atas kasur. Tidak sakit memang, hanya saja ia terkejut karena dilempar begitu saja.
"Menurut kamu, bagaimana jika kita berhubungan badan saat ini? Kamu juga harus hamil anak aku sayang. Oh iya, obat yang selama ini kamu konsumsi sudah aku ganti dengan obat penyubur kandungan. Mungkin sekitar dua bulan yang lalu," ucap Kavin membuat Ashel terkejut.
Sial! Ashel bahkan sudah tidak berkeinginan memiliki keturunan dari Kavin. Ia tidak mungkin hamil, buktinya beberapa minggu yang lalu ia masih menstruasi.
Kavin melepas kemeja miliknya. Ia juga melepas sabuk yang melekat di celananya.
"JANGAN GILA KAMU!! AKU GAK MAU MAS," teriak Ashel was was saat Kavin mulai mendekatinya.
"Kenapa? Kita suami istri kan? Wajar dong kalo kita melakukan hal itu," ucap Kavin tersenyum iblis.
Tangisan Ashel semakin turun. Ia benar benar takut dengan suaminya ini. Kavin benar benar berubah.
Ashel memundurkan tubuhnya sampai punggungnya membentur kepala ranjang. Ia menggelengka kepalanya saat suaminya semakin mendekat.
Tiba tiba tangan kanan Ashel ditarik oleh Kavin. Diluar dugaan ternyata di kepala ranjang dipasang sebuah borgol.
"MAS LEPAS. AKU GAK MAU," teriak Ashel. Kedua tangan Ashel sudah di borgol oleh Kavin. Bahkan tubuhnya ditarik agar terlentang. Jangan lupakan kalinya juga ikut diikat pada sebuah besi yang entah kapan ada disana.
"Lets play a game baby," bisik Kavin. Ia merobek kaos yang digunakan oleh istrinya. Beruntung sweaternya sudah dibuka saat Ashel datang tadi.
Ashel semakin menangi saat tubuhnya sudah tidak terbalut apapun. Ia sudah tidak ingin melakukan hal itu dengan suaminya saat ia tahu jika Kavin juga melakukan hal ini dengan wanita lain.
__ADS_1
Tiba tiba ponsel Kavin berbunyi. Kavin mengumpat kasar karena kegiatannya terganggu.
"Hai sayang. Kamu lagi apa? Oh iya aku udah siapin undangan pernikahan kita loh. Kamu kesini dong buat lihat," ucap Bella di sebrang telepon. Kavin sengaja menloudspeaker panggilannya agar Ashel bisa mendengarnya.
"Aku sibuk. Kamu urus saja semuanya. Waktunya juga sebentar lagi kan? Sekitar satu minggu lagi kita akan menikah. Aku sibuk sekarang, nanti kita lanjut lagi," ucap Kavin.
"Oke sayang. Bye."
Panggilan pun terputus. Kavin langsung melempar ponselnya ke sembarang arah.
"Satu minggu lagi aku nikah lagi. Kamu harus datang ya sayang. Kamu juga harus ikut bahagia," ucap Kavin.
"KAMU JAHAT MAS. KAMU JAHAT," ucap Ashel.
"Kamu bajing*n."
"Im. Dan bajing*n ini juga yang akan menjadi ayah dari anak anak yang kamu kandung," ucap Kavin.
Ashel semakin menangis keras saat Kavin mulai melakukan itu pada tubuhnya. Sungguh ia sangat kecewa dengan sikap suaminya ini.
Ashel sudah seperti jal*ng. Tubuhnya diikat diatas ranjang sedangkan Kavin dengan liarnya membelai tubuhnya.
Kavin menulikan pendengarannya saat Ashel memintanya berhenti. Kavin memang melakukan itu pelan pelan dan tidak terburu buru. Namun tetap saja Ashel tidak ingin disentuh oleh Kavin.
Rasanya semakin jijik saja saat pikirannya kembali membayangkan jika suaminya mencumbu wanita lain selain dirinya.
Cukup lama Kavin dan Ashel melakukan hal itu. Bahkan Kavin juga sudah melepaskan borgol yang melekat di tangan istrinya. Ashel sendiri sudah tertidur karena kelelahan.
"Sialan! Kenapa harus merah merah sih?! Tahu gini gue gak pake ginian tadi," gumam Kavin saat melihat pergelangan tangan istrinya yang memerah.
Ia pun membenarkan letak tidur istrinya dan menarik selimut untuk menutupi tubuh mereka berdua yang sama sama polos.
"Maafin mas sayang. Mas terpaksa," gumamnya.
Sebelum ia tidur, ia meminta Jo untuk berjaga di rumahnya dan tidak boleh membiarkan siapapun masuk. Ia sangat malas di ganggu dan ingin tetap bersama istrinya.
Tbc.
Ramein kuyy. CRAZY UP DI AKHIR TAHUN WKWKW. kalo ada typ ya maap.
__ADS_1