My Little Wife

My Little Wife
Bab 184 : Tamu Tak Diundang


__ADS_3

VOTE KOMEN YGY


.


.


.


Happy reading♡


Ashel sudah bergabung dengan Sarah dan Nata sedangkan Kavin pergi ke ruang kerja ayahnya. Ashel mengobrol asik dengan kedua wanita yang ada di depannya.


Mereka membahas seputar keluarga mereka. Sedikit sedikit mereka berdua harus mengenalkan Ashel tentang kebiasaan keluarga mereka. Karena bagaimana pun sekarang Ashel sudah menjadi anggota keluarga mereka.


"Selama ini, oma ngira kalo Kavin itu gak bakalan cepet nikah loh. Oma ngiranya dia gila kerja," ucap Nata.


"Kekhawatiran mama sama kayak aku ma. Tapi aku lebih khawatir sama Kavin karena aku ibunya. Awalnya aku ngira Kavin itu gak normal loh karena dia sering nolak perempuan yang mau deket sama dia," ucap Sarah.


"Kesan kamu gimana pas ketemu sama suami kamu?" Tanya Nata.


"Gak jauh beda sama kulkas oma. Irit bicara, apalagi pas waktu itu Riana kan pernah dianterin dia," ucap Ashel.


"Wah, kapan itu?" Tanya Nata.


"Waktu aku disuruh grandpa anterin map. Karena kemaleman jadi aku dianterin sama mas Kavin," ucap Ashel.


"Tapi mama bersyukur banget yang jadi menantu keluarga kita itu kamu sayang bukan orang lain," ucap Sarah.


"Kamu bener. Selain kita udah kenal kamu sejak kecil, kami juga sangat menyayangi kamu Riana," ucap Nata.


"Makasih oma, mama," ucap Ashel.


Saat mereka sedang asik mengobrol, tiba tiba datang Nadine. Nadine memang sudah mengenal keluarga Kavin. Apalagi waktu dia dan Kavin SMA, Nadine sering datang berkunjung ke rumah ini.


"Hallo oma, tante," sapa Nadine.


"Ah, Nadine rupanya," sapa Nata, ia pun bangun dan bersalaman dengan Nadine begitu juga dengan Sarah. Sedangkan Ashel hanya diam duduk saja.


"Maaf ya aku baru berkunjung lagi setelah sekian lama. Habisnya Kavin udah gak kayak dulu lagi, dia jarang ajak aku kesini," ucap Nadine tersenyum ramah pada Nata dan Sarah.

__ADS_1


"Tidak apa apa. Lagian kami juga jarang berada di rumah kan ma," ucap Sarah pada Nata.


"Iya benar. Kami sering keluar untuk mengurusi pekerjaan kami," ucap Nata.


"Aku bawain ini," ucap Nadine. Ia menyodorkan dua buah paper bag yang entah apa isinya.


"Apa ini?" Tanya Sarah.


"Ini makanan kesukaan Kavin tante. Aku sengaja bikin ini, soalnya aku inget kalo gak ada yang bisa masakin ini. Kavin pernah bilang gak ada yang bisa bikin rasa seenak ini," ucap Nadine.


Sarah dan Nata saling lempar pandang. Bagaimana pun sekarang Nadine tidak bisa berkata demikian karena Kavin sudah menikah. Apalagi Ashel berada disini dan mendengar semuanya.


"Oh iya, Kavin mana? Suruh dia cobain ini," ucap Nadine. Dia berbicara seolah tidak ada Ashel disana.


Ashel masih tetap dalam mode tenang. Bagaimana pun Nadine berbicara ia tidak boleh terpancing karena Ashel yakin jika Nadine sengaja berbicara seperti itu di depannya agar ia dan Kavin bertengkar.


"Kavin sedang bekerja dan tidak bisa di ganggu sebelum dia keluar sendiri," ucap Sarah.


"Gitu ya, padahal aku udah cape cape buat ini semua. Ternyata Kavinnya sibuk," ucap Nadine.


"Gak papa. Nanti juga keluar," ucap Nata.


Sedangkan Sarah dan Nata was was. Bagaimana tidak ucapan Nadine menyiratkan peperangan pada Ashel.


Sejak tadi Nadine berusaha memanas manasi Ashel. Namun anehnya Ashel tetap diam dan kalem. Sarah sampai heran begitu juga dengan Nata karena Ashel tidak mengeluarkan ekspresi apapun selain tersenyum lebar.


"Sayangnya saya gak tahu apa apa tentang suami saya," ucap Ashel yang sepenuhnya bohong.


Nadine tertawa meremehkannya, "Kamu benar benar gak pantes ya bersanding dengan Kavin. Kamu aja gak tahu apa apa tentangnya."


"Sayangnya ucapan anda tidak sesuai dengan realitanya. Meskipun saya tidak mengetahui apa apa tentang Kavin, tapi takdir membuat saya menjadi istrinya. Sedangkan anda, anda mengetahui segala hal tentang Kavin tapi tidak bisa menjadi istrinya. Kadang takdir selucu itu ya," ucap Ashel menohok.


Sarah dan Nata kembali adu pandang. Mereka sedikit tersenyum mendengar ucapan menantunya yang berkelas itu.


Bagaimana tidak, ucapan Ashel mampu membungkam Nadine yang sejak tadi merendahkannya hanya dengan satu kali ucapan.


Menantu mereka benar benar sesuatu. Sangat berbeda sekali auranya.


"Tapi kita kan gak tahu takdir manusia ke depannya seperti apa, siapa tahu kamu dan Kavin hanya berjodoh sebentar," ucap Nadine.

__ADS_1


"Nadine! Jaga ucapan mu," ucap Sarah. Ia yang sejak awal kesal kini dibuat semakin kesal karena ucapan Nadine yang seakan akan tidak suka pada Ashel.


"Mama, tenang. Apa yang dia ucapkan ada benarnya. Kita gak pernah tahu takdir tuhan, tapi setidaknya aku dan Kavin sudah berjanji akan terus bersama selamanya," ucap Ashel. Ia mengulurkan tangannya agar ibu mertuanya ini sedikit tenang.


Sejak kedatangan Nadine Ashel sudah bisa menebak jika Sarah dan Nata tidak suka pada Nadine. Namun mereka bersikap biasa saja seolah mereka menyukai Nadine.


"Oma mohon Nadine, jaga ucapan kamu. Riana adalah cucu menantu oma. Bahkan sebelum dia menikah dengan Kavin, oma sudah menganggap dia seperti cucu kandung oma sendiri," ucap Nata. Habis sudah kesabarannya karena ucapan Nadine. Sesekali ia harus mengeluarkan unek uneknya pada Nadine.


"Loh, kalo oma udah anggap begitu, kenapa oma kasih restunya buat mereka menikah?" Tanya Nadine.


Namun tiba tiba Kavin datang. Berteriak memanggil nama Ashel dan merengek padanya seperti seorang bocah.


"SAYANGGG, KEPALA AKU SAKIT. PAPA KASIH PROYEK BARU PADAHAL AKU GAK MAU KERJAIN PROYEKNYAAA," teriaknya. Ia berjalan menuju ke tempat Ashel duduk dan langsung duduk di sebelah Ashel. Bukan hanya duduk, Kavin juga memeluk tubuh Ashel. Dan kini kepalanya berada di bahu Ashel.


"Jangan kayak bocah. Kamu udah tua juga," ucap Ashel. Kavin belum menyadari kedatangan Nadine karena ia langsung menutup matanya. Ia bahkan tidak sadar jika ada Nadine disana.


"Aku gak tua!"


"Iya iya enggak. Gak salah lagi," ucap Ashel menahan senyumnya.


"Ih, ayang mah," rengeknya lagi.


Nadine yang melihat adegan uwu itu mendadak panas dingin. Seumur umur baru kali ini ia melihat tingkah Kavin yang manja seperti itu.


Bahkan ketika mereka berteman dulu, Nadine mengenal sosok Kavin yang tegas dan jarang tersenyum apalagi berbicara, namun ini...


Sedangkan Sarah dan Nata tersenyum puas melihat raut wajah Nadine yang kesal dan menahan amarahnya.


"Sayang," panggil Ashel. Kavin mengernyit heran karena Ashel tiba tiba memanggilnya seperti itu.


"Kenapa yang?" Tanya Kavin.


"Itu ada yang kirimin makanan kesukaan kamu. Katanya cuma dia yang bisa bikin makanan itu."


"Siapa?"


"Buka dulu dong matanya. Kamu pasti kenal deh, kayaknya dulu kamu sama dia deket banget," ucap Ashel. Ia menatap datar ke arah Kavin.


Tbc.

__ADS_1


__ADS_2