
Happy reading♡
Liam tidak menyangka jika selama ini Ashel berusaha mencari tahu tentang keberadaannya. Apa mungkin sekarang Ashel sudah memiliki perasaan padanya?
Tapi bagaimana bisa, Ashel sudah menikah dan Liam sudah mengetahui hal itu. Bahkan saat itu ia datang ke pernikahan Ashel tanpa ada yang tahu.
Kenyataan memang pahit. Dan Liam sudah merasakan hal itu. Pahit sekali menerima semuanya, orang yang selama ini ia tunggu dan ia cintai ternyata memilih lelaki lain untuk ia jadikan suami.
Ini bukan hanya kesalahan Ashel, namun ini juga salahnya yang tiba tiba menghilang tanpa jejak dari kehidupan Ashel. Wajar saja jika gadis itu juga melupakannya. Namun beruntungnya Ayu mengingatkan semuanya pada Ashel.
Liam mengetahui hal sedetail itu cukup sulit. Namun tak sia sia ia mengeluarkan banyak uang untuk informasi seperti itu. Rasanya sepadan.
"Adam, bagaimana tentang Ashel? Apa dia kembali bergerak mencari tahu tentang ku?" Tanya Liam. Saat ini ia sedang berada di salah satu ruangan di rumahnya.
"Belum tuan. Sepertinya nona memang belum bergerak lagi, setelah kejadian di villa waktu itu," ucap Adam.
Ya, semenjak Ashel salah masuk villa, Liam terus berusaha mencari cara agar Ashel sendiri yang datang padanya.
Sebenarnya bisa saja Liam menculik Ashel saat ini juga, namun ia mengetahui jika Ashel paling tidak suka dengan cara seperti itu. Jadi Liam berusaha menahan dirinya lagi.
"Tetap pantau kegiatan wanita ku dan juga pantau perkembangan perusahaan suaminya. Agar aku bisa cepat menjatuhkannya," ucap Liam.
"Baik tuan." Adam pun pergi dari ruangan itu meninggalkan Liam.
Sedangkan Liam menatap figura foto yang sudah bertahun tahun ia simpan di meja kerjanya. Disana ada fotonya dengan Ashel.
"Kamu tetap cantik Shel dari dulu, kamu tidak pernah berubah. Hanya saja setelah aku pergi kamu dengan mudahnya melupakan aku, tapi tidak apa apa. Aku memaklumi hal itu karena kita masih sangat muda saat itu," ucap Liam. Ia mengusap figura itu dan tersenyum.
"Akan tiba saatnya kamu akan menjadi milik ku. Hanya milik aku Shel, tidak ada yang lainnya termasuk Kavin."
Liam bertekad ia akan kembali merebut miliknya. Ashel sudah menjadi miliknya sejak lama bahkan sebelum kedatangan Kavin di kehidupan Ashel.
***
Kavin pulang larut dari kantor. Banyak sekali pekerjaan, ia kira semuanya akan beres satu per satu, namun ternyata tidak. Semakin hari pekerjaannya semakin banyak saja.
Tadi ia sudah menelepon istrinya untuk makan duluan dan tidak menunggunya karena ia akan pulang larut. Awalnya Ashel menolak, namun setelah diancam oleh suaminya akhirnya anak itu menurut.
Kavin membuka pelan pintu kamarnya, disana ia melihat istrinya yang sudah tidur meringkuk memeluk guling.
"Maafin aku ya, aku gak bisa selalu ada buat nemenin kamu. Tapi aku janji besok kita akan main sepuasnya," ucap Kavin saat ia sudah berada di samping istrinya.
__ADS_1
Kavin pun segera bergegas pergi untuk membersihkan tubuhnya. Tidak lama, karena sudah terlalu larut malam takutnya malah masuk angin.
Kavin menarik bantal yang dipeluk istrinya sehingga membuat Ashel sedikit membuka matanya. Ia melihat jika sudah ada suaminya disana.
"Kangen," gumam Ashel.
Cup...
"Bobo lagi ya. Aku peluk," ucap Kavin. Ia menepuk nepuk pantat istrinya agar Ashel kembali tenang dan tertidur.
"Laper," ucap Ashel namun matanya tertutup.
"Beneran laper? Tadi emang gak cukup makannya?" Tanya Kavin.
"Aku belum makan, aku nunggu kamu tapi malah ketiduran," ucap Ashel. Kavin menghela nafasnya. Ternyata istrinya ini membohonginya.
Ia kira Ashel sudah makan saat tadi ia meneleponnya, tapi ternyata tidak.
"Kenapa bohongin mas? Katanya tadi iya mau makan," ucap Kavin.
"Gak ada maksud kayak gitu mas. Maafin, jangan marah," ucap Ashel. Ia memeluk suaminya bermaksud agar suaminya tidak marah padanya.
"Mau mas hukum?" Tanya Kavin.
"Mas, matanya jangan gitu. Aku colok mau?"
"Salah siapa bohongin mas. Hal sekecil ini aja kamu bohongin mas gimana sama hal lainnya. Atau memang ada yang sedang kamu tutupi?" Tanya Kavin.
Ashel memutar bola matanya malas. "Seharusnya yang bilang kayak gitu itu aku ke kamu. Soal Dona aja aku yakin kamu tahu. Kamu sengaja kerja sama kan sama Ardian buat tutupin hal ini dari aku?" Tanya Ashel tepat sasaran. Sedangkan Kavin berusaha menutupi ekspresi terkejutnya.
"Kenapa diem? Apa yang aku ucap bener?" Tanya Ashel.
"Gak gitu yang. Aku sama Ardian gak nutupin apapun dari kamu yang, beneran," ucap Kavin berusaha meyakinkan.
"Iya aja deh, biar yang bohongin makin seneng," ucap Ashel. Ia pun bangun untuk mengisi perutnya yang lapar.
"Yang," ucap Kavin berusaha menahan Ashel. Sepertinya istrinya ini sudah mengetahui persekongkolan dirinya dengan abang sepupunya.
"Gimana dia tahu? Selama ini dia gak pernah cek handphone gue. Yakali dia cenayang," gumam Kavin. Ia mengejar istrinya yang sudah berada di luar kamar.
Sedangkan Ashel sudah sampai di dapur. Ia membuka lemari pendingin dan mengeluarkan beberapa jenis buah buahan yang ia minta pada bi Sati untuk membelinya beberapa waktu yang lalu.
__ADS_1
Tengah malam seperti ini Ashel memang sering kelaparan. Jadi ia selalu menyetok buah buahan untuk ia makan.
Perlahan ia mengeluarkan buah buahan yang ingin ia makan. Hampir semua jenis buah sampai penuh satu nampan. Buah buahan ini sudah dicuci bersih jadi Ashel bisa langsung memakannya.
Ia juga mengambil sekaleng susu dan membawanya pergi ke ruang tengah. Ia ingin menonton saja, rasa kantuknya tiba tiba hilang.
"Hobi banget ninggalin aku kamu," ucap Kavin. Ia merebahkan dirinya dan menjadikan paha Ashel sebagai bantalan.
"Gak dingin pake celana sependek ini?" Tanya Kavin.
Ashel menggelengkan kepalanya. Matanya fokus pada tv yang ada di depannya. Ia sedang memilih film.
"Kamu gak pake b*a?" Tanya Kavin.
Lagi lagi Ashel menggelengkan kepalanya sebagai jawaban.
"Film fifthy shades aja yang atau enggak film Massimo sama Laura," ucap Kavin.
"Film rekomendasi kamu pasti gak jauh jauh soal ranjang. Kamu pikir aku gak tahu film film yang kamu sebut itu film apa," ucap Ashel.
Kavin hanya tersenyum saja. Ide akal bulusnya sudah diketahui istri kecilnya ini.
Setelah memilih film yang ia mau, ia menyimpan remote tv itu di sampingnya. Ia kemudian memajukan tubuhnya untuk meraih kaleng susu yang ia bawa. Karena tindakannya itu, wajah Kavin tertimpa dua gunung kenyal miliknya.
"Punya kamu kena wajah aku yang," ucap Kavin speechless.
"Salah siapa kamu tiduran disana," ucap Ashel.
"Minta susunya yang," ucap Kavin.
Ashel pun memberikan kaleng susu yang baru ia minum pada suaminya namun Kavin menggeleng.
Ashel mengernyit namun tindakan Kavin selanjutnya membuat ia menjatuhkan kaleng susu yang ia pegang.
...Potret wajah Kapin saat mukanya ketiba anu...
Tbc.
Kl ada typ maap y
__ADS_1