
Happy reading♡
Sudah lima hari berlalu, akhirnya Ashel bisa pulang dari rumah sakit. Selama lima hari ini juga dia belum bisa bertemu orang banyak. Ketakutannya semakin menjadi jadi saat melihat orang datang menemuinya. Ashel memang mengenal mereka, namun entah kenapa ada dorongan dalam dirinya sehingga Ashel selalu berteriak meminta mereka pergi. Keluarga hanya bisa pasrah dengan keadaan Ashel.
Ashel sudah berada di Jakarta. Ia langsung ke rumahnya. Ia tidak mau ada orang lain selain Kavin. Selama ini juga Kavin tidak bisa pergi kemana mana. Saat ia pergi ke toilet karena kebelet dan tidak bilang pada Ashel, Ashel langsung menangis. Ia memang sangat takut ditinggalkan oleh Kavin.
Pekerjaan Kavin dibawa ke rumah. Ia bekerja dengan Ashel di sampingnya. Wanita itu hanya akrab dengan Kavin dan Dokter Lupita. Dokter Lupita sengaja di datangkan Kavin dari Boston ke Indonesia untuk mengecek keadaan kandungan Ashel. Kandungan Ashel bisa dikatakan cukup kuat, bahkan anak anak yang ada di kandungannya tidak terguncang apapun meskipun keadaan mami mereka bisa dikatakan tidak baik.
Dokter Lupita menyarankan untuk selalu membuat Ashel senang. Ia juga meminta pada Kavin agar memberikan semangat dan dukungan agar istrinya bisa kembali sembuh. Selama beberapa hari ini, Kavin selalu mengajak Ashel menonton video kebersamaan Ashel dengan orang orang terdekatnya. Bahkan Kavin juga menunjukan banyak album foto milik istrinya agar istrinya tidak takut dengan keluarganya.
Saat ini mereka berdua sedang menonton tv. Ashel memeluk lengan Kavin sedangkan Kavin sesekali mengelus elus perut besar istrinya.
"Mau nyemil buah gak? Biar mas siapin," tawar Kavin.
"Nyemil buah? Aku sering makan buah waktu disana. Sama roti tawar aja. Waktu itu aku nangis karena pengen ayam geprek buatan kamu, tapi kamu gak datang. Alhasil aku cuma makan roti tawar aja. Itu pun harus aku pilih pilih," ucap Ashel purau. Ia memang masih belum bisa melupakan kejadian pahit yang baru saja ia alami.
Kavin memejamkan matanya saat mendengar ucapan istrinya ini. Ia hanya mampu memeluknya dan mengecup kepalanya.
"Kalo sekarang aja gimana? Mas buatin kamu ayam geprek. Nanti nyemil buah yang banyak," ucap Kavin.
Ashel menghapus air matanya dan mengangguk.
"Ya udah, tunggu disini ya? Mas masak dulu bentar," ucap Kavin.
"Gak mau. Mau ikut, nanti mereka maksa aku lagi buat mereka peluk. Aku gak suka," ucap Ashel.
"Ya udah, ikut sama mas aja yuk ke dapur," ucap Kavin. Ashel pun mengangguk dan mengikuti suaminya ke dapur.
__ADS_1
Saat sampai di dapur, Ashel duduk di meja makan sedangkan Kavin mulai memasak. Namun sebelum masak, Kavin memberikan buah buahan untuk dimakan oleh istrinya.
Ashel memperhatikan suaminya. Sejak kejadian kemarin, ia sering menangis tanpa sebab. Bahkan tengah malam ia sering terbangun dan menangis histeris tanpa sebab. Kavin selalu menenangkannya. Beruntung urusan di kantornya terkadang di handel oleh papa dan adiknya.
Ashel pun berjalan mendekat ke arah Kavin. Ia berdiri di samping suaminya. "Maunya peluk kamu dari belakang, tapi ada baby's. Jadi gak bisa. Mana mereka makin besar."
Kavin tersenyum dan membawa Ashel sedikit menjauh dari dekat kompor. Takutnya minyak yang sedang menggoreng ayam menyiprat pada istrinya.
"Kiss aja, gak usah peluk," ucap Kavin.
"Gak mau, nanti ayamnya gosong," ucap Ashel. Kavin tak kehabisan akal, ia mengangkat ayam yang sudah matang dan meniriskannya kemudian mematikan kompornya.
"Udah kan? Jangan alasan lagi ya mami," ucap Kavin. Ia memangku istrinya untuk duduk di meja dapur yang kosong. Kavin memajukan tubuhnya dan mengecup bibir istrinya. Sudah lama sekali rasanya ia tidak merasakan bibir manis ini. Karena setelah Ashel keluar dari rumah sakit, Kavin tidak bisa melakukannya. Paling paling ia hanya mengecupnya saja, itu pun ketika istrinya tidur.
Ashel mengalungkan kedua tangannya pada leher suaminya. Awalnya hanya ciuman biasa namun semakin lama semakin menuntut. Terdengar suara lenguhan dari bibir istrinya, Kavin tidak menyianyiakan kesempatan itu. Ia mulai memasukan lidahnya ke dalam mulut istrinya. Mereka berdua sudah bertukar saliva. Saling mengecap lidah masing masing.
"Kenapa berhenti?" Tanya Ashel.
"Memangnya kamu sudah mau menerima aku? Aku gak mau melakukan itu kalo kamu masih belum bisa menerima aku. Aku gak mau lihat kamu nangis histeris lagi," ucap Kavin.
"Nanti coba pelan pelan. Aku mau sembuh, tapi dorongan itu terus bikin aku takut," ucap Ashel.
Cupp..
"Okay, nanti kita coba. Lima ronde ya?" Tanya Kavin menggoda.
"Ya enggak gitu juga mas. Kandungan aku udah gede, gak bisa sampe lima ronde," ucap Ashel. Hanya bersama Kavin terkadang sifat dan sikap aslinya kembali meskipun tak lama dari itu Ashel kembali seperti semula. Berdiam dan melamun.
__ADS_1
"Iya cinta ku iya, becanda," ucap Kavin. Ia menurunkan istrinya dan menyuruhnya ke ruang tv lagi. Ayam goreng yang di geprek tanpa sambel dengan nasi putih hangat sudah siap untuk maminya si kembar.
Kavin dengan telaten menyuapi istrinya. Tadi Ashel juga kembali bercerita jika ia sangat merindukan ini saat ditempat itu kemarin. Ia bahkan kembali menangis, namun dengan sabar, Kavin memberikan pengertian padanya.
Ashel makan banyak. Mungkin karena kelaparan akibat ulah Liam si biad*b itu. Kemarin saat istrinya anteng dengan Fello dan Ayu, ia sempat menemui biad*b itu. Kavin melayangkan beberapa tinjuan dan terakhir pijakan kuat pada dada Liam, membuat pria itu terbatuk batuk.
Ardian belum puas menyiksanya. Setelah ia puas makan Liam akan ia serahkan pada polisi. Penyiksaan Ardian sangat sadis. Setiap hari Liam selalu diberi minum obat perangs*ng dengan dosis tinggi. Namun yang melayani nafsu Liam bukan wanita melainkan pria yang belok arah. Ardian juga mencekoki Liam obat halusinasi.
Tidak perlu membayar kematian orang tuanya dengan kematian langsung bukan, cukup membuatnya hidup menderita makan ia akan menginginkan kematiannya sendiri. Anggaplah penyiksaan yang diterima Liam saat ini adalah balasan akibat perilakunya sendiri. Bodyguard Ardian dan bodyguard yang bekerna padanya banyak yang mati sia sia akibat keegoisannya.
"Mas, enak banget ayamnya," ucap Ashel.
"Jadi ayamnya yang enak, bukan karena suapan dari aku?" Tanya Kavin.
"Dua duanya," ucap Ashel menyengir.
"Udah habis, mau nambah?" Tanya Kavin. Ashel menggelengkan kepalanya.
"Ya udah, aku cuci tangan dulu. Cuma sebentar," ucap Kavin.
Ashel mengangguk dan diam menunggu. Setelah Kavin kembali duduk, ia malah memancing nafsu suaminya.
Tbc.
Kalian mau adegan ehem ehem ashel kavin gak?😆
__ADS_1