
Happy reading♡
Setelah meluapkan emosinya, Nadine langsung pergi dari rumahnya. Ia masih emosi dan ia harus meluapkan emosinya saat ini juga.
Mungkin mencari sumber masalahnya.
Nadine sudah melakukan semua cara agar Kavin mau menerimanya. Bahkan ia rela menjadi istri kedua Kavin. Namun apa? Kavin tetap saja tidak mau menerimanya.
Padahal apa kurangnya Nadine? Ia cantik, berpendidikan, dan juga memiliki beberapa bisnis di bidang fashion. Namun itu semua tetap tak membuat Kavin tertarik.
Nadine melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Ia bahkan menerobos lampu merah begitu saja membuat pengendara lain hampir kecelakaan.
Nadine tidak peduli. Ia harus bertemu dengan Kavin atau mungkin dengan wanita sialan yang sudah merebut Kavin darinya. Dan parahnya lagi, ia membuat Kavin tidak menerima cintanya.
"Gue gak bakalan biarin hidup lo bahagia Ashel. Gue muak sama lo. Apa apa kenapa selalu lo yang menang?" Ucap Nadine.
"Bahkan tentang tanah yang bakalan gue jadiin tempat buat bangun bisnis gue kenapa harus lo yang beli dan lo yang menangin itu tanah? Apa lo gak bisa sekali aja gak rebut apa yang gue mau? Lo emang bener bener gila, dasar cewek serakah," umpat Nadine.
***
Setelah menunggu beberapa menit lagi akhirnya Liam selesai dengan clientnya. Setelah clientnya pergi, Liam langsung berjalan mendekat ke arah meja Ashel dan Ayu.
"Lama lo njir. Lumutan gue nunggunya," ucap Ayu saat Liam sudah duduk di depan mereka.
"Sorry, itu client penting. Gue gak bisa lepas dia gitu aja," ucap Liam.
"Kok kalian gak pesen makan? Kan udah gue suruh kalian pesen duluan," sambungnya.
"Gak perlu, lagian kita gak lapar," ucap Ashel.
"Yaudah. Tapi serius gak mesen makan?" Tanya Liam sekali lagi untuk memastikan.
__ADS_1
"Enggak Yam. Gak usah. Lagian banyak pertanyaan yang mau kita tanyain sama lo, terutama Ashel. Mungkin," ucap Ayu.
Liam mengangguk paham. Ia sudah menduga hal ini. Sebenarnya hampir beberapa kali ia akan ketahuan keberadaanya oleh Ashel. Mengingat keluarga Ashel berkecimpung di dunia bisnis. Namun Liam selalu beruntung untuk menghindar. Tentu saja tidak ketahuan oleh Ashel.
"Jadi kalian mau nanyain apa? Tapi sebelum nanya ke gue, gue mau jelasin sesuatu dulu sama kalian," ucap Liam. Ashel dan Ayu saling pandang kemudian melihat ke arah Liam.
"Dulu setelah gue di tabrak, gue langsung pergi buat berobat karena waktu itu gue terluka cukup parah. Gue hampir kena geger otak kalo gak langsung dibawa ke rumah sakit. Beruntung orang orang yang bawa gue ke rumah sakit gerak cepat jadi nyawa gue terselamatkan," jelas Liam membuat keduanya terdiam.
Ashel menahan tangan Ayu saat melihat gerak gerik anak itu akan bertanya pada Liam. Ia menggelengkan kepalanya agar Ayu tetap diam mendengarkan cerita Liam.
"Yang nabrak gue papanya Dona. Dia rival keluarga gue di dunia bisnis. Gue udah tahu itu dari lama, mungkin dari semenjak kakak perempuan gue meninggal karena dibunuh sama orang suruhan papa Dona. Itu sebabnya gue gak nerima dia waktu dia bilang dia suka sama gue," ucap Liam.
"Gue harap kalian ngerti kalo gue pergi bukan mau lupain kalian atau nempatin kalian dalam masalah. Gue pergi karena terpaksa. Kalo gue tetep disini, mungkin gue udah mati," ucap Liam.
"Lo emang udah nempatin sahabat gue dalam masalah. Lo tahu, dia juga hampir meninggal gara gara si Madonat itu," ucap Ayu menggebu gebu. Ia sangat kesal pada Liam, ternyata Liam pergi untuk kepentingannya sendiri.
"Apa?! Maksud lo?" Tanya Liam.
"Dona sengaja melakukan itu sebab dia dendam sama gue karena yang dia tahu gue yang bunuh lo. Makanya gue mohon sama lo, lo ikut gue temuin Dona dan jelasin semuanya kalo lo masih hidup dan yang buat lo kecelakaan itu bokapnya dia," pinta Ashel.
"Aku pasti bantuin kamu Shel. Tinggal kamu atur jadwalnya aja," ucap Liam.
"Ya udah, nanti kita bicara lagi. Ini udah mau malem juga. Ini nomor gue, hubungin gue kalo lo ada waktu luang," ucap Ashel.
"Kita duluan Yam," ucap Ayu. Mereka berdua pun pergi dari sana meninggalkan Liam.
***
Sementara itu Kavin sudah putus asa mencari keberadaan istrinya. Sudah berjam jam berlalu namun ia belum menemukan keberadaan Ashel. Ia ingin menyerah namun tidak bisa.
Salahnya juga yang menempatkan bodyguard tanpa sepengetahuan istrinya. Mungkin istrinya marah saat ini padanya.
__ADS_1
Ia sudah menghubungi Rafello namun Rafello juga tidak tahu dimana keberadaan Ashel. Kavin bahkan sudah mencoba mencari ke tempat tinggal Ayu namun disana kosong.
Kavin berjalan lesu keluar dari dalam mobilnya. Ia duduk di depan terlas yang berada di depan rumahnya. Josh yang melihatnya pun sedikit iba dengan tuannya.
Seumur umur ia tidak pernah melihat tuannya seperti ini.
"Tuan, disini dingin hari juga hampir malam. Lebih baik anda menunggu di dalam. Nyonya muda pasti akan pulang sebentar lagi," ucap Josh.
"Jika kau tahu ini sudah malam kenapa kau hanya diam saja? Cepat cari keberadaan istri ku," ucap Kavin.
"Baik tuan," ucap Josh. Ia pun kembali masuk ke dalam mobil untuk mencari keberadaan nyonya muda.
Sedangkan Kavin menekuk kakinya. Rintik hujan mulai turun namun tidak ada tanda tanda jika Kavin akan masuk ke dalam rumah.
Tiba tiba, sebuah mobil masuk ke area penthousenya. Ia langsung berdiri dan tersenyum sumringah. Ia rasa yang datang itu adalah istrinya.
Namun saat melihat siapa yang keluar dari dalam mobil, senyum Kavin surut. Ia kembali duduk diatas terlas rumahnya.
"Kavin kenapa kamu disini? Apa istri mu tidak membiarkan mu masuk? Jahat sekali dia. Memangnya secantik dan sehebat apa dia sampai sampai menelantarkan kamu disini," ucap Nadine. Ia berjalan mendekat ke arah Kavin. Sedangkan Kavin langsung begeser untuk menjauh.
"Kav, lebih baik kamu ikut ke apartement ku. Aku akan memanjakan mu disana dari pada kamu disini. Apalagi sebentar lagi sepertinya akan hujan," ucap Nadine.
"Lepas. Gak usah pegang pegang. Lo bukan istri gue, jadi lo gak pernah berhak buat sentuh gue," ucap Kavin ketus.
"Kan tadi papi udah temuin kamu. Aku masih mau kok buat jadi istri kedua kamu. Gak papa aku tetep terima hal itu kok yang penting suami aku itu kamu," ucap Nadine dengan bangganya.
"Lo cewek harusnya lo punya martabat dikit kek. Harga diri lo udah lo jual ya sampe sampe lo gak malu bilang hal hina kayak gitu," ucap Kavin.
"Mulut kamu pedes juga ya," ucap Nadine. Ia terus saja mepet untuk mendekat ke arah Kavin. Lama lama Kavin kesal dan akhirnya diam. Pikirannya sedang kalut karena istrinya belum juga pulang.
Tbc.
__ADS_1
Semoga kalian suka sama ceritanya. makasih juga atas supportnya. Tanpa kalian mungkin aku gak akan ada di tahap ini. Makasi banget❤️