
"Sakit hati itu wajar, sayang. Tapi, jangan ubah pribadimu itu." Kata Kenzo penuh dengan kesabaran.
Vanes masih diam saja. Menatap orang yang berlalu lalang. Kepalanya masih setia bertengger di dada Kenzo. Pelukan kehangatan Kenzo lah yang di butuhkan oleh Vanes.
"Vanessa, kamu dengar kan?" Tanya Kenzo.
"Iya. Aku dengar, Kak. Tapi, aku sangat benci dengan Hana. Dia penyebabnya, Kak." Jawab Vanes.
"Hilangkan rasa benci itu. Murnikan hatimu. Belajar ikhlas. Anggap aja ini cobaan buat kamu. Suatu hari nanti, ada masanya kamu berada di atas." Kata Kenzo lagi sambil mengajak Vanes berjalan.
Vanes berjalan sambil menggenggam erat tangan Kenzo. Yang di ucapkan Kenzo ada benarnya juga. Lagi pula, ini adalah bulan madunya dengan Kenzo, dia tidak boleh sedih. Ini adalah hari bahagianya.
"Iya, Kak. Aku coba buat ikhlas." Balas Vanes membuat senyum Kenzo terukir.
***
Dua minggu berlalu dengan cepat. Hari ini, waktunya pulang. Meninggalkan Paris. Tak terhitung mereka berdua melakukan percintaan. Keinginan Kenzo untuk segera punya anak begitu besar. Begitu pula dengan Vanes. Dia juga ingin segera memiliki buah hati.
"Sudah di cek semua kan? Tidak ada yang ketinggalan, kan?" Tanya Kenzo memastikan.
Vanes mengangguk. "Tidak ada, Kak. Semuanya sudah ada di tas."
Kemudian panggilan pesawat dengan tujuan Indonesia terdengar. Mereka berdua masuk ke dalam pesawat. Vanes dengan berat hati naik ke pesawat. Sebenarnya, dia tidak ingin meninggalkan Paris.
Kenangan indah dengan Kenzo banyak sekali disini. Senyum Kenzo terlihat sambil mengangguk. Kemudian mereka berdua masuk ke dalam pesawat.
***
Menginjak tanah Indonesia, hati Vanes terasa lega. Akhirnya, dia sudah kembali ke tanah kelahirannya. Kenzo yang di sebelahnya, tak henti-hentinya mengucapkan syukur karena pulang dengan selamat.
Para pelayan menyambut kedatangan sang Tuan dan Nyonya mereka. Wajah keduanya tampak berseri. Begitu juga dengan para pelayan karena senang kedatangan Tuan dan Nyonya mereka.
"Selamat datang ke rumah, Tuan dan Nyonya Atranendra."
Vanes tersenyum seraya mengangguk. Dia rindu sekali dengan suasana rumah ini. Apalagi dengan kamarnya. Sangat amat rindu.
Segera saja Vanes di angkat oleh Kenzo. Vanes dibawa ke kamar yang sudah rapi dan wangi. Kenzo menurunkan Vanes di kasur. Kemudian Kenzo mengelus perut Vanes.
"Papa dan Mama akan selalu menunggu kehadiranmu." Kata Kenzo.
"Suamiku, jangan lakukan aku layaknya orang hamil. Kita berdoa saja supaya kita cepat-cepat punya anak ya?" Kata Vanes sambil memainkan rambut Kenzo.
"Pastinya." Singkat Kenzo sambil tidur di paha Vanes.
***
Juna bermain dengan Ketie. Anak perempuannya. Wajah Ketie sangat kontras dengan Selena. Sifat Juna menurun ke Ketie.
__ADS_1
"Ini warna apa, Ketie?" Tanya Juna sambil menunjuk rumput.
Ketie yang duduk di pangkuan Juna tampak sok berfikir layaknya orang dewasa. "Walna ijau, Pa."
"Pintar." Kata Juna sambil mencium kedua pipi gembul Ketie. "Kalau yang di atas warna apa?" Tanya Juna.
Ketie mendongak. Menatap langit dan awan. "Ada dua walna, Pa. Yang putih itu awan. Yang bilu itu langit."
"Pintar. Bagus, Ketie. Kamu harus jadi anak yang pintar!" Kata Juna.
Selena yang melihatnya dari kejauhan tersenyum. Baru kali ini Juna mau meluangkan waktunya untuk Ketie. Selebihnya, Juna lebih memintangkan pekerjaannya dari pada keluarga.
Selena menghampiri mereka. "Ketie, sini sama Mama, sayang." Tangan Selena telujur untuk mengambil alih Ketie yang duduk di pangkuan Juna.
Bertepatan dengan itu, telepon Juna berdering. Juna segera berdiri ketika Ketie sudah berada di gendongan Selena. Dia menjauh dari keduanya untuk mengangkat telefon tersebut.
"Halo? Apa ada kabar?"
'Mereka berdua baru saja dari Paris. Honeymoon.'
Mata Juna terbelalak. Dia langsung melemparkan handphonenya ke sembarang arah. Tangannya terkepal. Wajahnya memerah. Amarahnya sudah naik ke atas.
Selena langsung menghampiri Juna saat melihat suaminya itu melemparkan handphone hingga pecah bergelimang.
"Ada apa, Jun?"
***
Rumah Kenzo jadi tongkrongan Vanes, Nesya dan Jihan. Ketiga sahabat ini tengah tertawa lepas di ruang tamu. Di temani dengan beberapa makanan ringan dan Jus anggur.
Ketiganya sudah lama tak bertemu. Sekalinya bertemu langsung menggosip ria. Apalagi Nesya, dia yang paling semangat membuka acara pergosipan. Dia sudah lupa dengan masa lalunya. Dan sekarang, Nesya sudah menjadi dirinya sendiri.
Jihan beda. Sekarang dia lebih menutup dirinya dengan baju panjang dan hijab yang selaku melekat di kepalanya. Wajah Jihan selalu berseri.
"Kangen kalian berdua!" Pekik Vanes yang bahagia sekali kedua temannya datang.
"Kita berdua sama." Pekik Nesya tak kalah kencang.
Mereka bertiga langsung duduk di sofa berwarna coklat. Ketiganya juga tampak bahagia.
"Ada gosip tentang Edgar nih." Kata Nesya antusias.
"Gosip apa?" Tanya Jihan sambil memasukan kripiki ke dalam mulutnya.
"Dia di terima di universitas london. Pintar ya?" Kata Nesya.
"London?" Ulang Vanes.
__ADS_1
"Iya."
"Pengen dong aku." Celetuk Jihan.
"Emang kamu nggak daftar kuliah?" Tanya Vanes sambil meminum jus anggur.
Jihan menggeleng. "Nunda selama setahun. Rehat lah."
"Lah? Kok sama?" Kata Nesya dan Vanes bebarengan. Kemudian mereka bertiga tertawa.
"Aku sih tahu kenapa Vanes nunda kuliah." Kata Jihan usil.
"Diem deh."
"Cie yang habis bulan madu di Paris." Goda Nesya.
Vanes tersenyum malu. "Apaan sih?" Tukasnya. "Eh, di Paris, aku ketemu sama Mama, Papa dan orang asing itu."
"Hana maksudmu?" Tanya Jihan.
Vanes mengangguk. "Iya. Makin benci aku sama Hana itu."
"Aku yang cuma denger cerita mu aja ikut emosi." Sahut Nesya.
"Sabar aja. Sabar di sayang sama Allah dan juga..Kak Kenzo hahaha." Tawa Jihan seketika meledak.
Vanes melemparkan bantal sofa ke arah Jihan yang sedang tertawa terbahak-bahak. Begitu juga dengan Nesya yang ikut tertawa.
Kenzo yang melihatnya dari atas ikut tersenyum. Vanes bahagia, Kenzo juga ikut bahagia. Senyum istrinya adalah penyemangatnya. Kemudian Kenzo kembali masuk ke dalam kamar.
Vanes juga bahagia bisa bersatu dengan kedua sahabatnya. Dia sadar jika kedua sahabatnya ini adalah orang setia. Walaupun mereka sempat terpecah karena ulah Juna, nyatanya ikatan itu terlalu kuat hingga mereka kembali bersatu.
***
Di temani dengan Sari dan dua bodyguard yang menunggu di depan pintu minimarket, Vanes belanja keperluan rumahnya.
Sari bagian mengurusi keperluan dapur sedangkan Vanes sibuk memilih makanan ringan dan beberapa roti.
Tanpa sengaja, dia menabrak seorang laki-laki. Vanes terperangah ketika laki-laki itu menoleh ke arahnya.
"Hai. Vanessa." Sapa laki-laki itu.
Vanes menggelengkan kepalanya. Ini tidak mungkin. Ini pasti hanya mimpi. Yang di lihatnya pasti bukan bagian dari masa lalunya.
"Apa kamu lupa dengan namaku? Arjuna Rakatya Pradita."
"Apa yang kamu lakukan disini, Jun?" Tanya Vanes sambil melangkah mundur.
__ADS_1
"Lupakan hal itu. Selama ini, aku sudah memberimu kesempatan untuk kabur dariku. Tapi nyatanya, kamu masih di sini. Aku tak akan membiarkan hidupmu tenang."