
SALTO LAGIII 🤸♀️🤸♀️🤸♀️
.
.
.
Happy reading♡
Pagi hari, Ashel sudah bersiap siap untuk pergi ke kampus seperti biasanya. Hanya saja hari ini sedikit berbeda. Jika ia sudah selesai bersiap, ia pasti akan membantu suaminya memakaikan dasi atau yang lainnya tapi hari ini tidak. Ashel hanya menyiapkan bajunya saja.
Ashel mengikat rambutnya. Ia hari ini memakai celana levis panjang dan hoodie. Matanya masih membengkak dan sembab. Untuk itu ia mengambil kaca mata dan masker untuk menutupinya namun belum ia pakai. Ia menyimpannya terlebih dahulu di dalan tote bagnya.
"Bantuin mas pake dasi," ucap Kavin.
"Pake sendiri atau nanti minta dipakein sama selingkuhan kamu. Kemarin kan kalian gak jadi cek in," ucap Ashel tanpa melihat ke arah suaminya.
Sedangkan Kavin menaikan alisnya. Sepertinya istrinya ini sudah berani padanya.
"Status mu masih istri ku, tugas istri adalah patuh pada suaminya," ucap Kavin.
Mau tak mau Ashel menuruti ucapan suaminya. Ia merebut dasi yang ada di tangan suaminya dan dengan cepat memakaikannya.
Rasanya ingin sekali ia mencekik Kavin saat memakaikannya dasi.
Tangan nakal Kavin meraih pinggang Ashel. Setelah Ashel selesai memakaikan dasi padanya, bubu buru Kavin menyambar bibir istrinya. Ashel tak sempat menghindar karena gerakan Kavin cukup cepat.
Ashel memukul mukul dada suaminya agar melepaskannya. Rasanya menjadi jijik karena suaminya sudah berselingkuh dengan wanita itu. Mereka bahkan sudah melakukan lebih dari kissing.
Ashel tahu itu semua dari foto foto yang ia lihat kemarin. Selain mereka berdua pergi ke luar negri, mereka juga sering cek in.
"Jaga batasan. Kita akan segera berpisah," ucap Ashel saat ciumannya terlepas. Ia pun mendorong kuat badan suaminya agar menyingkir.
Diluar dugaan, Ashel mengambil tissue dan mengelap bibirnya tadi yang habis berciuman dengan Kavin. Ia kemudian membuang tissue itu ke dalam wadah sampah kecil yang ada di sebelah meja make up nya.
Ashel tidak lagi melihat ke arah Kavin. Ia langsung keluar dari dalam kamar. Meninggalkan suaminya.
Kavin tentu saja tidak tinggal diam. Ia ikut menyusul istrinya.
Saat sudah turun, Ashel hendak pergi secepatnya ke kampus namun lagi lagi Kavin menarik tangannya dan membawanya ke meja makan.
"Makan. Kalo kamu sakit aku yang repot. Aku gak bisa urus kamu sekarang. Ada Bella yang harus aku urus. Apalagi dengan anak yang sedang ia kandung," ucap Kavin.
__ADS_1
Apa? Anak?!!
Bahkan dulu Kavin rela menunggu Ashel sampai siap untuk hamil. Ternyata semua kata kata yang ia ucapkan hanya bullshit semata.
Ashel melempar gelas yang berisi air putih ke lantai.
"SEKALI BAJING*N TETEP AJA BAJING*N. KENAPA DULU SO SOAN NOLAK NADINE? BUKANNYA MEREKA SAMA SAJA?" Teriak Ashel marah.
"Gak usah marah marah. Aku masih suami kamu kalo kamu lupa. Dan seorang istri tidak seharusnya berkata tinggi seperti itu," ucap Kavin.
"PERSETAN. KAMU BUKAN SUAMI AKU SEMENJAK KAMU SELINGKUH SAMA WANITA JAL*NG ITU," ucap Ashel.
"Lain kali kalo cari selingkuhan yang berkelas dikit. Bahkan bervalue lebih tinggi dari aku. Bukan jal*ng kelas bawahan yang rela mengangk*ng hanya untuk menghancurkan rumah tangga orang lain," ucap Ashel. Ia pun segera pergi dari hadapan Kavin.
Masih pagi sudah dibuat seemosi ini. Ternyata wanita itu sudah mengandung anak Kavin. Ashel masih tidak percaya itu semua.
Ia harap ini hanya mimpi dan ia ingin segera bangun dari mimpi ini.
"Nyonya, biar saya antar anda," ucap Josh.
"Aku tidak membayar mu dan tidak mempekerjakan mu. Tawari saja wanita tuan mu itu," ucap Ashel.
Bersamaan dengan itu, muncul sebuah mobil berwarna merah. Itu adalah Ayu.
Ashel berjalan dan masuk ke dalam mobil. Setelah ia masuk, Ayu langsung melajukan mobilnya.
"Dia pergi dengan siapa?" Tanya Kavin pada Josh. Saat ini ia sudah berada di depan karena tadi ia mengejar Ashel namun terlambat.
"Sepertinya itu nona Ayu, sahabat nyonya," ucap Josh.
"Baiklah. Sekarang kita ke kantor," ucap Kavin.
"Baik tuan," ucap Josh. Ia membukakan pintu mobil untuk Kavin.
"Suruh Jo untuk awasi kegiatan istri ku hari ini. Laporkan setiap dua puluh menit sekali beserta dengan foto," ucap Kavin.
"Baik tuan."
***
Ayu menatap heran ke arah sahabatnya. Tidak biasanya ia seperti ini. Padahal ini masih pagi sekali.
Ayu sebenarnya ingin bertanya, namun ia menahannya. Menunggu situasi dan keadaan sahabatnya membaik baru ia akan bertanya.
__ADS_1
Mata Ashel tak henti hentinya mengeluarkan air mata. Perkataan Kavin tadi terus terngiang ngiang di telinganya.
Membayangkan wanita itu pasrah berada di bawah kukungan suaminya semakin membuat dadanya sesak. Apalagi sekarang mereka akan mempunyai anak.
Ashel benar benar hancur. Ia tidak tahu harus seperti apa lagi menghadapi Kavin. Apalagi Kavin tidak mau bercerai dengannya.
Apa ia tidak berpikir tentang perasaan Ashel? Apa mungkin ia sengaja melakukan ini untuk menyakitinya?
Berlagak baik dan manis pada awal mereka kenal dan setelah menikah Kavin akan menyakitinya seperti ini?
Ashel sangat menyesal karena harus menerima perjodohan yang direncanakan kakek buyutnya. Harusnya waktu itu ia tidak mengiyakannya.
Ashel menghela nafasnya. Ia mengusap air matanya. Ternyata mereka sudah sampai di area parkiran kampus.
Ayu memberikan sebotol air pada sahabatnya ini. Sepertinya ada masalah yang serius yang sedang dihadapi sahabatnya ini.
Ashel menerima botol itu dan meminumnya. Nafasnya tersenggal senggal akibat terlalu lama menangis. Dadanya juga terasa sangat sesak sekali.
Ayu masih belum berani bertanya. Ia hanya menarik Ashel ke dalam pelukannya. Siapa tahu jika di peluk seperti ini sahabatnya ini akan lebih tenang.
Tiba tiba Rafello masuk begitu saja ke dalam mobil Ayu. Ia duduk di jok belakang. Namun ia aneh melihat kakak iparnya yang menangis tersedu sedu di pelukan Ayu.
Rafello melemparkan tatapan bertanya pada Ayu namun Ayu menggelengkan kepalanya karena Ashel memang belum berbicara.
"Shel, lo kenapa? Ada masalah apa?" Tanya Ayu.
Ashel tidak menjawabnya. Ia semakin menangis saat Ayu bertanya padanya.
Biasanya pelukan suaminya yang selalu menguatkannya. Namun saat ini, bukanlah kekuatan yang diberikan oleh Kavin. Hanya ada rasa sakit dan sakit saja.
"Gue hancur Yu, hancur," gumam Ashel namun masih terdengar jelas.
Rafello dan Ayu kembali bertatapan. Mereka bingung dengan maksud ucapan Ashel.
Hancur? Hancur karena apa? Bukannya selama ini pernikahan Ashel dan Kavin terlihat baik baik saja?
"Ada apa Shel? Kok lo ngomong gitu. Apa abang nyakitin lo?" Tanya Rafello yang juga penasaran.
Tbc.
Ramein vote komen y guys. Kalo ada typ maapin
__ADS_1