
"Hati-hati dengan orang yang selalu bersama kita. Kesetian bisa saja jatuh kapan saja, Vanessa."
Vanes berhenti melangkah. Badannya di putar. Dia dapat melihat Juna yang berdiri di belakangnya.
"Apa maksudmu?" Tanya Vanes.
Juna mengangkat bahunya acuh. "Tidak ada."
Vanes menatap Juna. Juna juga melakukan hal yang sama. Hati Vanes kembali merasakan debaran.
"Aku merindukanmu." Kata Juna.
Sepertinya aku juga, Jun.
"Aku harus pergi." Vanes melangkahkan kakinya dengan cepat meninggalkan lorong tersebut. Dia ingin cepat-cepat ke kelas. Apalagi setelah ini pelajaran seni. Yang artinya Kenzo akan mengajar.
Di kelas yang ramai, Vanes duduk dengan diam. Dia masih terbayang dengan wajah Juna. Ucapan Juna. Dan, masa lalunya dengan Juna.
Vanes kembali merasakan debaran cinta dengan Juna. Masa lalunya dengan Juna selalu terbayang. Sejak pernikahan Juna dan Selena, Vanes selalu seperti ini. Dia juga tidak boleh egois tentang perasaan. Ada Kenzo suaminya.
"Vanessa!" Sapa Jihan dan Nesya bersamaan sambil menghampirinya.
Vanes mendongak kemudian tersenyum. Untuk Nesya, dia tidak jadi di keluarkan dari sekolah. Dia juga sempat menjadi bahan bully an. Jihan, dia juga sudah memaafkan kelakuan Nesya. Sekarang Vanes, Jihan dan Nesya kembali bersama. Kembali menjadi sahabat yang utuh.
"Udah ngerjain PR Seni belum?" Tanya Nesya.
"Sudah dong." Jawab Vanes mantap.
Jihan menjawil pinggang Vanes. "Kan suaminya guru seni. Ya di kerjain PRnya."
Vanes tertawa ringan. "Apa sajalah."
"Enak ya. Mungkin PRnya di kerjain sama Pak Kenzo." Timpal Nesya.
"Eh sst sstt. Ada Pak Kenzo." Kata Dani sambil berlari ke dalam kelas.
Vanes langsung mengubah posisi duduknya setenang mungkin. Jihan langsung duduk di sebelah Vanes. Nesya menghadap ke depan. Duduk sendiri. Tepat setelahnya ada Kenzo masuk ke dalam kelas.
"Selamat Pagi, Anak-anak. Keluarkan tugas yang saya berikan."
Suasana kelas menjadi hening. Mereka semua mengeluarkan bukunya masing-masing. Namun, satu suara yang membuat kelas tercengang. Dan suara itu berasal dari...
"VANESSA ANGELICA! PUTRI SEKOLAH! YANG DULU SEKRETARIS! KOK KAMU NGGAK BILANG KALAU JADIAN SAMA EDGAR SIH--EH." Celaka. Suara Tirta menggema dan Kenzo menangkap jelas teriakan Tirta.
"Eh Eh Eh. Ada Pak Kenzo yang ganteng always." Tirta tersenyum kikuk sambil menyalami punggung tangan Kenzo.
"Kamu sudah mengerjakan tugas dari saya?" Tanya Kenzo.
"Sudah kok, Pak."
"Ya sudah, kamu duduk sana. Untung kamu mengerjakan tugas."
"Hehe iya, Pak."
__ADS_1
Seisi kelas tertawa kecuali Vanes. Dia terdiam. Jadian? Dengan Edgar? Gosip dari mana ini. Apalagi melihat raut wajah Kenzo yang dingin. Walaupun itu tidak benar, tapi tetap saja Vanes takut. Bagaiman jika Kenzo percaya dengan mulut empang itu?
***
"Shit!"
Jihan menoleh. "Kenapa?"
"Ada sesuatu yang ku tinggal di rumahku." Jawab Vanes.
"Sesuatu? Di rumah lama?" Tanya Nesya.
"Iya."
"Mau ku antar mengambil?" Tawar Jihan.
"Nggak usah. Mungkin barang itu penting saat SMA nanti."
"Oh.."
"Hai kalian bertiga!" Seru seseorang.
Ketiganya kompak menoleh ke asal suara. Juna berdiri tak jauh dari mereka. Nesya syok. Mungkin dia masih trauma. Jihan beda lagi. Dia seperti sudah siap jika di berikan hal yang tidak-tidak. Siap untuk melawan.
"Ada apa, Jun?" Tanya Vanes ketus.
"Jadi kalian sudah akur ya? Hahaha. Tinggal salah satu di antara kalian bertiga yang akan menderita karena ulahku." Kata Juna enteng.
"Selalu saja seperti itu." Tukas Jihan.
"Jangan mendekat!" Ultimatum Nesya. "Jangan dekati aku! Pergi!"
"Oh. Kamu trauma ya? Sabar ya, Nesya." Juna pura-pura kasihan.
"Han, bawa Nesya keluar ya?" Jihan mengangguk. Dia kemudian mengajak Nesya pergi dari ruang kelas.
"Apa salah kita bertiga terhadap kamu, Jun?" Tanya Vanes lirih.
"Mereka tidak salah. Kamu saja yang salah. Pergi begitu saja." Jawab Juna.
"Jawabamu itu layaknya anak seumuran denganku, Jun. Kamu tidak pantas berucap seperti itu. Ingat umurmu! Kamu juga sudah menikah." Kata Vanes.
Juna menarik nafasnya. "Kamu selalu menjadi milikku."
Vanes diam. Juna juga diam. Suasana hening dan canggung ini melanda. Vanes tidak suka dengan suasana ini.
"Jangan diam, Vanes. Aku selalu terbayang kita yang dulu." Lanjut Juna.
"Sudah! Itu hanya masa lalu, Jun. Mari kita hidup di masa yang sekarang. Lupakan aku! Karena aku sudah melupakanmu. Cintai dan Sayangi istrimu. Anggap aku tidak ada!" Jerit Vanes kemudian berlari keluar dari kelas.
Juna tak bergeming dari tempatnya. Kedua tangannya terkepal. Rahangnya mengeras. Dia tidak terima.
***
__ADS_1
"Hana? Bagaimana sekolahmu, Nak?" Tanya Dylan saat menjemput Hana di SMA Frasadelba.
Hana tersenyum. "Baik, Pa. Semuanya humble ke Hana."
"Syukur."
Sebuah mobil berwarna abu-abu menghadang mobil Dylan. Pemilik mobil abu-abu itu keluar dari dalam mobil. Dylan memicingkan matanya.
"HANA! MENUNDUK!"
DORR!
Satu peluru berhasil membuat kaca mobil Dylan pecah. Hana selamat. Peluru yang di tujukan untuk Hana tidak mengenainya. Orang yang menembak tadi langsung masuk ke dalam mobilnya kemudian kabur.
Dylan tidak melihat ada plat nomor disana. Nafas Hana memburu. Dia terenyak dengan kejadian barusan.
"Hana? Kamu baik-baik saja, kan?" Tanya Dylan khawatir.
"Aku baik-baik aja, Pa. Papa?"
"Papa juga baik-baik saja. Disini mungkin masih bahaya. Kita pulang."
***
Kenzo berfikir keras ketika Vanes sedang diam melamun. Akhir-akhir ini, rumah tangga mereka terasa hambar. Tak ada keceriaan di wajah Vanes seperti biasanya.
"Vanessa? Kamu kenapa?" Tanya Kenzo mendekat ke arah Vanes.
"Sudah ku bilang, Kak, Kalau aku ini nggak kenapa-kenapa. Jangan buat moodku buruk deh, Kak." Tukas Vanes.
"Ceritalah jika ada masalah." Bujuk Kenzo yang masih setia sabar.
"Nggak. Nggak ada masalah yang harus di ceritakan."
"Okay, Sweetheart."
"Kak Kenzo mencintaiku?" Tanya Vanes tiba-tiba.
"Ya. Aku mencintaimu!"
"Tidak akan meninggalkanku?"
"Tidak, Vanessayang. Aku akan selalu disini."
"Janji?"
"Janji."
***
Haiii. Jangan lupa follow, vote, komen dan share ya:)
Buat kalian yang baca ini, kalian bisa cek ig : @blacksew, biar tahu tentang hal terbaru My Little Wife ini.
__ADS_1
Sekian, Terima kasih readers!