
"Andini?"
Kenzo menoleh ke arah Vanes. "Iya. Andini."
"Jangan-jangan, kamu sama Andini, ngapa-ngapain semalam?" Tuduh Vanes yang langsung mengenai sasaran.
Kenzo menghela nafas. "Iya. Jujur. Aku kemarin malam habis main sama Andini dalam kondisi aku mabuk. Maafkan aku."
Vanes membekap mulutnya karena terkejut. Tak habis pikir dengan jalan pikiran suaminya. "Aku nggak tahu harus bilang apalagi sama kamu, Kak!"
"Vanessa..Tolong..Maafkan aku. Aku waktu itu mabuk."
Vanes menggeleng. "Enggak, Kak. Aku nggak bisa maafin kamu. Udah dua kali kamu giniin aku. Aku mau pindah dari rumah ini."
Kemudian, Vanes berdiri dari tempat tidurnya. Mengambil koper dan beberapa bajunya. Kenzo mencegahnya.
"Vanessa. Jangan pergi dari rumah ini."
"Aku nggak bisa gini terus, kak. Aku bukan perempuan lemah yang harga dirinya di injak-injak." Jawab Vanes.
Kenzo menarik Vanes ke dalam pelukannya. "Maafkan aku, Vanes. Aku tidak akan mengulangi kesalahan ini. Maafkan aku. Kasih aku kesempatan."
Vanes menangis di pelukan Kenzo seraya memukul dada Kenzo. "Aku bukan orang lemah, Kak. Bohong jika kamu mengatakan tidak akan mengulangi kesalahanmu. Kebanyakan lelaki memang imannya rendah! AKU BENCI KAMU!"
Tak terasa, air mata Kenzo ikut jatuh. "Benci aku. Pukul aku sesuka hatimu. Aku juga membenci diriku sendiri yang gampang tergoda."
Vanes melepaskan pelukannya dari Kenzo. "Aku memberimu kesempatan untuk memperbaikinya. Jika kamu menyalahgunakan kesempatan ini, kita bercerai saja."
"Jangan katakan itu." Sahut Kenzo lirih.
Vanes menghela nafas. Hatinya tak tega jika sudah melihat Kenzo seperti itu. Inilah titik kelemahannya. Tangan kanannya digunakan untuk meraih tangan Kenzo, mengarahkannya kepada perutnya.
Kenzo mendongak. Matanya terbuka lebar. Vanes mengangguk kepada Kenzo.
"Jika kamu menyakitiku, kamu juga menyakitinya, Kak. Anak kita." Kata Vanes.
Kenzo menganga. "Ba-Bagaiman bisa?"
"Bisa. Dia kembar. Yang aku jatuh dari tangga itu adalah kembarannya. Yang meninggal maksudku."
Tangis haru Kenzo kembali merani. Sujud syukur membuat Vanes ikut menangis haru. Dia bertekad untuk memperbaiki rumah tangganya yang sempat kacau.
Sebenarnya, aku ini istri yang bagaimana? Apa aku terlalu mencintainya? Sehingga aku bisa memaafkan dia segampang itu. Mana ada istri yang mau di selingkuhi? -Vanessa Angelica
***
"Andini!" Panggil Vanes ketika berada di sebuah club. Sengaja Vanes datang ke club untuk menemui Andini.
Andini yang sedang bersama teman-temannya menoleh. "Vanessa?"
"Aku boleh bicara berdua denganmu?" Vanes melihat sekililingnya.
Andini menatap Vanes penuh curiga. "Bo-Boleh. Ayo."
__ADS_1
Andini mengajak Vanes duduk ke salah satu meja yang kosong. Vanes menarik nafasnya dalam-dalam.
"Apa yang mau kamu omongin sama aku?" Tanya Andini.
"Jauhi suamiku, Andini!" Tegas Vanes.
"Suamimu? Kenzo? Aku tidak akan pernah menjauhi mangsaku, Vanes. Mereka yang datang dan mencariku bukan aku yang mencari mereka." Jawab Vanes.
"Dia itu suamiku! Kak Kenzo tidak akan tergoda jika tidak yang menggoda! Jadi, jangan menggoda suamiku." Balas Vanes kemudian keluar dari club.
Vanes tak menyangka jika teman SMPnya menjadi seperti itu. Dia harus mengawasi Kenzo. Jika lengah sedikit saja, bisa-bisa Kenzo jatuh lagi ke lubang yang sama.
***
Vanes masuk ke dalam kamar. Jam menunjukkan pukul sepuluh malam. Di lihatnya, Kenzo sudah tidur. Senyumnya mengembang. Wajah Kenzo makin tampan jika saat tidur.
Tiba-tiba, rasa mual menyerangnya. Segera dia masuk ke toilet. Memuntahkan semua isi perutnya.
"Hoek..Hoek."
Tubuhnya lemas seketika. Seperti tak ada daya. Kenzo datang sambil mengelus punggungnya.
"Kamu kenapa?" Tanya Kenzo dengan suara khas baru bangun tidur.
Vanes menggeleng lemas. "Nggak pa-pa kok. Kamu tidur aja ya? Besok kamu kan harus kerja."
Kenzo mengangkat tubuh Vanes. Membawanya ke tempat tidur. Kenzo menggenggam erat tangan Vanes.
"Badan kamu lemas. Kamu makan ya?"
"Baiklah." Jawab Kenzo. Dia menyelimuti Vanes.
Vanes menatap lekat sang suami.
"Kenapa? Aku ganteng?" Tanya Kenzo sambil memainkan kedua alisnya.
Vanes memutar kedua bola matanya. "Apa saja lah."
"Bilang aja lah kalau aku ganteng." Kenzo masih tak mau kalah.
Vanes mencubit lengan Kenzo. "Pede banget sih."
"Aww...Sakit sayang. Kalau aku nggak ganteng, mana mungkin kamu mau sama aku." Jawab Kenzo membuat Vanes tersenyum malu.
"Apa sih? Nggak jelas banget!" Tukasnya sambil menyembunyikan rona merah di wajahnya.
"Suka banget liat kamu blushing gitu." Kenzo tertawa. "Pada dasarnya emang aku ganteng ya?"
"Terserah."
"Zo apa yang bikin Vanes suka blushing?" Tanya Kenzo. "Kenzo. Hahaha." Kenzo tertawa.
Vanes tergelak melihat suaminya memberikan pertanyaan yang tidak jelas namun di jawab oleh dirinya sendiri. "Kak Kenzo kenapa sih? Aku mau tidur aja deh."
__ADS_1
***
09. 47
0815673814450
Last seen 09. 45
Bisa ketemu di Cafe Grata? Aku mau bicara!
Kedua alis Kenzo terangkat. Di cek profilnya yang ternyata pengirimnya adalah Juna. Hal apa yang harus di bicarakan oleh Juna?
"Gan. Gani! Aku mau keluar sebentar. Titip kantor ya." Ucap Kenzo kepada Gani yang berdiri di pintu ruang kerjanya.
"Iya." Jawab Gani.
Kenzo keluar dari kantornya menuju parkiran. Segera dia melajukan mobilnya menuju Cafe yang di minta oleh Juna. Apa yang sebenarnya ingin di bicarakan oleh Juna.
Sesampainya di Cafe, Kenzo segera berjalan menghampiri meja Juna.
"Ada apa?" Tanya Kenzo to the point.
Juna melirik Kenzo. "Ini masalah Vanes."
"Kau masih mau mengejar Vanessa?" Kenzo curiga.
Juna tertawa sumbang. "Jika ada kesempatan, aku akan mengejarnya."
"Brengsek! Kau itu sudah punya istri, Jun! Ingat istrimu. Selena!" Balas Kenzo.
"Aku dan Selena mau bercerai, Ken. Vanessa masih menjadi incaranku. Kau itu musuhku. Jika kau lengah dalam menjaga Vanessa, dengan mudah aku masuk untuk merebut Vanessa darimu."
"Jika saja ini adalah lapangan, kau sudah habis di tanganku!" Desis Kenzo.
"Ancamanmu itu hanya lagu bagiku. Tak ada gunanya mengancamku. Aku bisa saja kembali seperti dulu. Merebut Vanessa adalah motto hidupku."
Kenzo menggelengkan kepalanya heran. "Jangan merebut istri orang. Masih banyak di luar sana perempuan yang single. Vanessa adalah istriku, Jun."
Juna mengangkat bahunya acuh. "Apa aku nampak peduli? Aku tidak peduli, Ken. Selagipun dia adalah istrimu, jika kau melepaskannya, aku akan maju untuk menangkapnya."
"Jangan banyak bicara. Sebaiknya, urusi saja Selena istrimu itu."
"Selena bisa menjaga dirinya." Seru Juna.
"Kau kira Vanessa tidak bisa menjaga dirinya?" Tantang Kenzo.
"Aku tidak bilang seperti itu, Ken."
Kenzo diam.
"Aku harap, kamu bisa menjaga Vanes agar Vanes tidak jatuh ke tanganku. Selain itu, kamu juga harus menjaga rumah tanggamu agar aku tidak bisa masuk ke dalam rumah tanggamu."
_____
__ADS_1
Cerita ini GJ? Ya udah, nggak usah di baca. Buat yang suka, thanks udah baca, komen, vote dan like♥️
Maaf kalau jelek ceritanya..