My Little Wife

My Little Wife
42. Rasa dengan keluarga


__ADS_3

"Vanessa, kamu tidak boleh seperti itu." Tegur Dylan.


"Aku tidak peduli! Aku tidak mengizinkan Kak Kenzo untuk membantu kalian berdua." Vanes tetap menolak.


"Vanessa.." Suara lembut Kenzo keluar. Jika suara Kenzo sudah keluar, hati Vanes jadi luluh.


"Izin kan Kenzo ya?" Pinta Tasya memohon.


"Emang Hana kemana sih? Pakek acara di cari aja." Sewot Vanes.


Kenzo menggenggam tangan Vanes. "Iya, Ma. Kemana Hana?"


Tasya menggeleng. "Kami berdua nggak tahu, Ken. Waktu itu, dia juga habis di culik. Sekarang, Hana hilang. Entah kemana."


Kenzo menatap Vanes yang acuh. "Aku akan mencoba mencarinya."


"Heran. Sebenarnya anaknya mama sama papa itu Hana atau aku sih. Cuma gara-gara aku nikah dini sama Kak Kenzo aja langsung kayak gini. Kalau gitu caranya, mending aku nggak usah nikah." Vanes langsung berdiri, kemudian berjalan ke arah kamarnya, meninggalkan mereka bertiga di ruang tamu.


"Vanessa.." Panggil Tasya.


"Ma, biar Kenzo aja. Ini kan udah malam. Di luar juga hujan. Mending Mama sama Papa menginap disini ya?"


"Iya deh." Jawab Dylan. "Papa juga capek. Besok papa mau ngomong juga sama Vanes."


***


"Jangan seperti itu di hadapan orang tuamu, Vanessa. Aku tahu kamu emosi. Tapi, jangan sampai kelepasan." Tutur Kenzo.


"Sudahlah..Aku malas bertengkar denganmu." Jawab Vanes.


"Aku tidak mengajakmu bertengkar. Aku hanya ingin menasehatimu karena kamu melakukan kesalahan. Itu adalah tugasku sebagai suamimu." Balas Kenzo.


Vanes menghela nafas. Tak berminat menanggapi ucapan Kenzo. Kepalanya masih panas jika mengingat kejadian tadi.


Kenzo yang semula berdiri, kini duduk di sebelah Vanes. "Aku ingin bertanya satu hal denganmu."


"Apa?" Jawab Vanes cepat.


"Apa kamu menyesal sudah menjadi istriku?" Tanya Kenzo. "Aku jadi kepikiran dengan ucapanmu di bawah tadi."

__ADS_1


Tangis Vanes seketika pecah. "Aku tidak menyesal, kak. Aku bahagia menjadi istrimu. Apa kamu tidak ingat jika aku yang meminta? Kamu melindungiku dari bahaya yang menyerang. Akulah disini yang salah. Memaksamu untuk mencintaiku. Menikahiku. Aku ini egois! Seharusnya aku yang bertanya seperti itu padamu, kak!"


"Aku tidak menyesal menikahimu. Aku bahagia bisa hidup bersamamu. Memang, awalnya aku tidak terfikir untuk menikahimu. Tapi, saat itu, aku tahu artinya ketulusan. Mencintaimu dan membahagiakanmu adalah tugasku sekarang." Kenzo bertekuk di hadapan Vanes.


Isak tangis Vanes semakin menjadi. "Aku merasa tidak pantas untukmu, Kak. Aku merasa, aku telah merebut hakmu."


"Hak apa? Aku malah merasa telah mengambil masa remajamu." Ucap Kenzo.


Di sela-sela ikat tangisnya, Vanes memegang wajah Kenzo dengan kedua tangannya. "Kak Kenzo tidak mengambil masa remaja. Kakak masih ingat? Jika aku yang memintamu untuk menikahiku. Kamu telah melindungiku. Sebagai istri, aku begitu bahagia menjadi istrimu. Kadang, aku berfikir. Apakah aku salah memintamu untuk menikahiku waktu itu. Aku terlalu memaksa. Maafkan aku jika ucapanku tadi membuatmu sakit hati."


Kenzo menatap haru Vanes. "Aku tidak pernah berfikir untuk menikahimu waktu itu. Dulu, setiap harinya kita selalu bersama. Saat aku dekat denganmu, ada rasa yang berbeda. Aku tahu itu perasaan suka, cinta dan sayangku kepadamu. Tapi, aku berfikir. Jika aku ini tidak boleh memilikimu karena aku mau kamu sukses. Namun, saat kamu memintaku untuk menikahimu, disitulah aku di hadapkan dengan rasa dilema.


Dilema harus bagaimana. Akhirnya, aku memilih untuk menikahimu. Aku terima segala konsekuensinya, asalkan aku bisa hidup denganmu, melindungimu, mencintaimu. Maaf jika aku selama ini banyak salah denganmu."


Vanes semakin terisak. Dia memeluk Kenzo. Mendekapnya begitu erat. Kenzo juga melakukan hal yang sama.


"Kita akan menjadi orang tua setelah ini, sayang. Kita harus lebih dewasa dalam menghadapi masalah, mengendalikan emosi. Kita bukan anak kecil lagi." Kenzo mengelus perut Vanes. "Disini, anak kita berkembang. Kamu tidak boleh banyak pikiran agar dia tidak terganggu. Kamu memang masih remaja. Wajar jika kamu masih kayak anak kecil. Tapi, kamu ingat jika kamu akan menjadi seorang ibu."


Vanes mengangguk. "Tapi, aku tetap dengan pendirianku. Jangan tolong Papa untuk mencari Hana yang menghilang."


***


Ada rasa berbeda disini. Vanes merasa, keluarganya yang hilang kini kembali. Tangannya di usap ke perutnya. Bahagia. Berkumpul dengan keluarga. Morning sick yang jarang dialaminya. Memiliki suami yang baik dan lembut.


"Vanessa? Kamu kenapa melamun?" Suara Tasya membuyarkan lamunannya.


Vanes tersenyum seraya menggeleng. "Tidak, Ma."


"Sayang, kamu makan ya?" Kenzo mengambil piring untuk Vanes.


Vanes mengambil alih piring yang ada di tangan Kenzo. "Iya. Aku makan."


Dalam sarapan kali ini, banyak canda tawa yang pastinya di lontarkan oleh Dylan dan Kenzo. Dari tadi, Vanes terus tertawa. Tasya yang melihatnya bersyukur karena dapat melihat anaknya tertawa lepas. Sudah lama Tasya tidak melihat tawa anaknya itu.


Walaupun di rumah ada Hana, Tasya tetap saja selalu rindu dengan Vanes. Namun, Hana jugalah yang selama ini dapat menghibur Tasya jika sedih. Sekarang, Hana hilang. Tentu saja Tasya khawatir.


"Ular kalau makan kamu bagaimana?" Tanya Dylan ke Vanes.


Vanes cemberut. "Ular nggak mungkin muat untuk makan aku."

__ADS_1


"Muat aja. Kamu kan kecil." Imbuh Tasya sambil tertawa.


Semuanya langsung tertawa kecuali Vanes yang jadi bahan ejekan. Tapi, di dalam lubuk hatinya, dia bahagia keluarganya berkumpul.


"Emm. Vanessa, Kenzo." Dylan mulai serius.


"Iya, Pa?" Jawab Kenzo dan Vanes bersamaan.


"Papa sama Mama nggak sengaja dengar perbincangan kalian berdua di kamar. Maaf jika lancang. Vanessa, sebegitukah kamu benci dengan Hana?" Tanya Dylan.


"Sangat amat benci jika kalian perlu tahu." Jawab Vanes.


Dylan mengangguk.


"Aku akan berusaha membantu walau sedikit, Pa."


"Terima kasih, Kenzo."


Vanes menghela nafas. "Aku tahu Hana bagi kalian seperti apa. Hana adalah penggantiku disana. Menemani Mama agar tidak kesepian. Membanggakan Papa dengan bersekolah tinggi. Yah. Ku kira seperti itulah Hana."


Tasya memegang tangan anaknya. "Bukan seperti itu, sayang. Kamu tetap anak kami dan selamanya akan seperti itu. Posisi Hana hampir sama memang yang seperti kamu ucapkan tadi. Mama menganggap Hana adalah kamu. Jika melihat Hana, kami berdua seperti melihat kamu."


"Selama ini, kami berdua selalu rindu denganmu, sayang. Bagaimana pun posisi Hana di rumah, kamu tetap menang di hati kita. Untuk masalah mencari Hana, kami butuh Kenzo untuk mencarinya. Selama ini, Hana adalah tanggung jawab Mama dan Papa. Jika Hana sampai kenapa-kenapa Papa bisa saja berdosa karena tidak becus dalam bertanggung jawab."


"Dan itu juga berlaku padaku, sayang." Kenzo bersuara. "Kamu adalah istriku. Dan tanggung jawabnya sekarang ada padaku. Jika kamu kenapa-kenapa berarti aku tidak bisa menjalankan tanggung jawab. Sama halnya seperti Papa."


Dylan membenarkan ucapan Kenzo. "Tuh di dengerin kalau suaminya bicara."


Dengan berat hati, Vanes mengangguk. "Aku perbolehkan Kak Kenzo untuk menolong kalian."


"Terima kasih, sayang." Ucap Tasya. "Ngomong-ngomong, kalian berdua akan menjadi orang tua lagi ya?"


Kenzo tertawa sambil mengelus perut Vanes. "Iya, Ma. Doakan kehamilan Vanessa sehat terus ya."


"Amin." Jawab Dylan dan Tasya.


Bagi Dylan dan Tasya, kabar jika anaknya itu hamil adalah kabar paling bahagia yang di dengarnya. Menimang cucu dari anaknya adalah kebahagian tersendiri.


Vanes menatap ketiga keluarganya.

__ADS_1


Kalian pasti tidak tahu jika aku dan Juna lah yang menculik anak angkat kalian. Aku terpaksa harus melakukan ini. Maaf. Aku terlalu egois hingga aku melakukan ini. Aku menyanyangi kalian.


__ADS_2