My Little Wife

My Little Wife
43. Rumit


__ADS_3

"Bebaskan Hana sekarang juga, Jun." Ucap Vanes penuh penekanan.


"Secepat ini?" Juna memastikan.


"Iya. Jika kamu tidak membebaskannya, kamu bisa masuk penjara. Aku tidak mau hal itu terjadi padamu." Jawab Vanes penuh penekanan.


"Baiklah. Aku akan membebaskannya."


"Good."


***


Dylan dan Tasya memilih untuk lebih lama menginap di rumah Kenzo. Saat Vanes masuk ke dalam rumah, dia melihat Tasya sedang membaca majalah di temani dengan secangkir teh.


Alis Vanes saling bertaut.


"Mama?"


Tasya mendongak. "Dari mana kamu?"


"Cafe. Ada urusan sama teman."


Tasya menutup majalahnya. "Kamu bukan remaja lagi yang sering nongkrong di cafe, Vanes."


Vanes menghela nafas. "Aku tahu itu, Ma."


"Iya. Ta-"


"Dimana Kak Kenzo sama Papa?" Sela Vanes cepat. Simpel. Alasannya hanya tidak mau berdebat.


"Mencari keberadaan Hana." Jawab Tasya.


Dada Vanes rasanya nyeri. Hana yang sekarang di utamakan. Hal yang paling tak di sukainya adalah suaminya ikut mencari keberadaan perempuan yang di bencinya.


"Kamu pasti lelah kan? Kamu istirahat ya, Vanessa. Nggak baik kalau hamil itu kelelahan."


"Iya, Ma. Aku ke atas. Ke kamar Vanes ya."


"Iya, Nak."


***


Dylan menggerang frustasi. Sudah setengah hari dia dan menantunya, Kenzo mencari keberadaan anak angkatnya itu.

__ADS_1


Sinar matahari begitu terik. Membuat mereka berdua gampang lelah dan gerah. Keringat bercucuran. Nafas mereka tersenggal-senggal.


"Kita harus mencari dimana lagi, Pa?" Tanya Kenzo sambil mengelap keringat di dahinya dengan tisu.


Dylan menggeleng. "Papa juga nggak tahu jarus mencari dimana. Kita sudah mencari dimana-mana tapi tidak ada hasilnya, Ken."


"Apa lebih baik kita pulang saja?"


"Iya." Jawab Dylan mantap. "Kita pulang saja. Kamu pasti lelah kan? Sama papa juga lelah."


***


"Jadi, kalian berdua tidak menemukan Hana?"


Kenzo menggelengkan kepalanya. Sementara Dylan hanya bisa menghembuskan nafasnya berkali-kali. Mata Tasya tampak berkaca-kaca karena tak ada kabar baik. Berbeda dengan Vanes. Gadis itu nampak tidak peduli dengan kabar itu. Dengan santainya dia makan buah di hadapan televisi.


Perutnya yang sudah agak menonjol itu membuat Kenzo gemas untuk mengelus ataupun menciumnya. Keadaan di rumah ini memang cukup rumit. Kadang ada persetruan antara anak dan kedua orang tuanya.


"Kalau emang nggak ketemu, nggak usah di paksa di cari. Buang-buang tenaga aja. Lagian, kalian berdua jadi rugi waktu." Cetus Vanes yang bicara tanpa memalingkan mukanya dari TV.


Dylan menarik nafasnya. "Papa memang tidak bisa ngomong lagi, Nak. Jika memang kamu benci sekali dengan Hana silakan. Tapi, tolong jangan hina Hana di hadapan Papa."


Mendengar hal itu, emosi Vanes langsung datang. "Aku tidak menghina Hana! Aku hanya mengingatkan kalian untuk tidak buang-buang waktu dan tenaga saja." Dia berdiri.


"Pa." Tasya menyekal pergelangan tangan Dylan. "Jangan emosi disini. Vanessa sedang hamil, Pa, jangan di buat stres."


"Maaf."


Vanessa lebih memilih pergi ke kamarnya. Entahlah. Kedua orang tuanya memang datang di rumah dan berkumpul dengannya. Tapi, Vanes tidak merasakan jika keluarganya itu ada. Kebahagiaan juga datang sekejap saja.


Kenzo mengikutinya di belakang. Perasaan khawatir menyerangnya. "Vanessa..Kamu tidur saja ya? Istirahat yang banyak."


"Iya." Vanes mengangguk lesu.


"Aku tahu bagaimana rasanya, sayang. Ku mohon, jangan pikirkan kejadian tadi. Aku tidak mau calon anak kita kenapa-kenapa. Aku takut kehilangan lagi."


"Iya. Aku mencoba lupa dengan kejadian tadi."


***


"Siapa kau?" Teriak Hana.


Juna tersenyum. "Kau tidak perlu tahu siapa aku."

__ADS_1


"LEPASKAN AKU!" Hana meronta-ronta.


Juna menggeleng. "Tidak semudah itu. Ada syaratnya jika kau ingin bebas dari sini."


Hana menatap Juna dengan penuh kebencian. "Apa? Akan kulaksanakan!"


"Kau harus mati di tanganku. Bagaimana?"


"ITU BUKAN SYARAT!" Bentak Hana. "LEPASKAN AKU!"


"Aku akan melepaskanmu dan kau tidak perlu bicara kepada siapapun jika aku yang menculikmu."


"Iya." Hana mengangguk. "Aku akan menuruti ucapanmu."


Juna mendekat ke arah Hana. Melepaskan segala ikatan yang melilit di tubuhnya. Namun, Juna menjambak rambut Hana.


"Aku ingatkan sekali lagi! Jangan bilang kepada siapapun jika aku yang menculikmu. Jangan sakiti Vanessa. Kau yang membuat Vanessa keguguran! Dan seharusnya, nyawa harus di balas dengan nyawa kan?"


Hana menggeleng kesakitan. "Jangan bunuh aku...A..ku tida..k akan menganggu Vanessa lagi. Ku mohon lepaskan aku."


Juna menghempaskan Hana begitu saja hingga Hana tersungkur dan kepalanya membentur tembok. Darah mengalir dari dahinya. Kepalanya langsung sakit.


"Pergilah! Sebelum aku berubah pikiran untuk membunuhmu."


***


Suara heels menggema di koridor kantor Kenzo. Seorang perempuan dengan baju terusan berwarna biru dongker. Panjangnya diatas lutut. Ranbutnya di biarkan tergerai begitu saja. Parasnya cantik jelita dengan lipstick berwarna merah muda yang mewarnai bibirnya.


"Permisi, saya mencari Tuan Kenzo. Dimana ruangannya?" Tanyanya.


"Maaf, Apa sebelumnya sudah membuat janji dengan Tuan Kenzo?"


Perempuan itu tersenyum bohong. "Iya sudah. Bisa tolong beri tahu."


"Saya akan mengantarkan anda." Jawab resepsionis tersebut.


Mereka berdua berjalan beriringan. Menaiki lift menuju lantai sembilan. Perempuan itu tak henti-hentinya menunjukkan senyum manisnya.


Sesampainya di depan ruangan Kenzo, Perempuan itu mengetuk pintunya.


"Masuk!" Perintah Kenzo dari dalam ruangan.


Pintu terbuka. Kenzo tercengang ketika melihat siapa yang membuka pintu.

__ADS_1


"Apa kabar, Kenzo. Sudah lama kita tak berjumpa."


__ADS_2