My Little Wife

My Little Wife
33. Hati yang kau sakiti


__ADS_3

Sebuah gantungan bermotif dua burung merpati dari perak yang di berikan oleh Juna tergantung indah di jendela. Kenzo yang memasangnya di dekat jendela.


"Bagus ya?" Celetuk Kenzo.


Vanes memegang tangan Kenzo. "Iya."


Kenzo melepaskan genggaman tangan Vanes. Dia kemudian naik ke kasur. Vanes menyusulnya. Dia lebih dulu menutup matanya sambil membalikkan tubuhnya menghadap Kenzo.


"Kak Kenzo?" Panggil Vanes.


Kenzo menoleh kemudian tersenyum sambil membelai rambut Vanes. Setelah itu dia berdiri dari duduknya.


"Kakak mau kemana?" Tanya Vanes.


Kenzo hanya diam sambil memakai jaket bewarna biru tua kemudian dia keluar dari kamar. Vanes mengernyitkan dahinya. Kenapa lagi dengan Kenzo? Dia tidak boleh tinggal diam.


Vanes ikut berdiri. Namun, perutnya terasa sakit. Dia kembali terduduk di pinggiran ranjang sambil memegangi perutnya.


Tekadnya yang terlalu tinggi, Vanes kembali berdiri. Masih dengan memegangi perutnya. Tangan putihnya menyambar kunci mobil kemudian dia sedikit berlari ke garasi.


"Nyonya? Anda mau kemana?" Tanya beberapa pelayan.


Vanes tidak mengacuhkan ucapan para pelayannya. Walaupun perutnya masih terasa sakit, Vanes tidak mau menjadi perempuan yang mudah pasrah dan hanya diam melihat jika suami pergi secara tiba-tiba tanpa pamit.


Mobil demon srt keluar dari pekarangan rumah kemudian langsung menembus jalanan dengan kecepatan tinggi. Menyusul mobil Kenzo yang belum terlalu jauh.


Entah kenapa, Vanes tiba-tiba menangis. Perutnya sudah tidak terasa sakit lagi. Dia tidak ingin rumah tangga yang sudah berjalan lebih dari tiga tahun ini hancur. Vanes merasa yang dimiliki hanyalah Kenzo.


Mobil Kenzo berhenti di sebuah cafe. Vanes memakirkan mobilnya tak jauh dari tempat tersebut. Dia keluar dari mobil sambil berjalan mengendap-endap.


Kenzo masuk ke dalam cafe tersebut. Begitu juga dengan Vanes. Mata Vanes terbelalak ketika melihat siapa yang di temui oleh Kenzo. Seorang perempuan. Buru-buru Vanes mengambil duduk yang tidak terlalu jauh agar bisa mendengar ucapan Kenzo dan perempuan tersebut yang tak jelas wajahnya.


"Bagaimana dengan keadaanmu, Andini?" Tanya Kenzo yang memulai percakapan.


Vanes mecatat dalam benaknya bahwa perempuan tersebut bernama Andini.


"Hasilnya positif."


DEG!


Apa yang dimaksud positif oleh perempuan yang bernama Andini?


Vanes dapat mendengar Kenzo menghela nafas.


"Ini hanya sebuah kesalahan. Kau yang menjebakku." Kata Kenzo.


Vanes juga dapat mendengar Andini tertawa. "Waktu itu, Aku datang lalu bapak memintaku untuk menemani bapak saat malam itu."


Vanes tak menduga hal ini terjadi. Tangisnya langsung pecah. Hatinya hancur. Tekadnya yang tinggi, Vanes langsung menghampiri meja itu.


Lebih mengejutkan lagi adalah Andini yang berbicara dengan Kenzo adalah Andini teman SMPnya dulu. Pantas saja mukanya tidak asing.

__ADS_1


"Vanessa?" Kaget mereka berdua.


"Brengsek! Sialan kalian berdua."


**PLAK!


PLAK**!


Vanes menampar keduanya setelah itu dia pergi dari cafe tersebut.


***


"Vanessa! Tolong dengar ceritaku dulu!" Bujuk Kenzo di hadapan Vanes yang sedang menangis.


Vanes menggeleng. "Nggak, kak. Ceraikan aku! Nikahi Andini!"


"Aku nggak cinta sama dia, Vanes. Aku hanya cinta sama kamu." Kata Kenzo penuh penekanan.


Vanes berdiri sambil menyeka air matanya. Dia harus tegas. "Kalau kakak cinta sama aku, kakak nggak mungkin berbuat macam-macam sama Andini, kak."


"Waktu itu aku mabuk!" Nada Kenzo mulai meninggi.


"Kak! Andini sedang hamil kan? Dan yang di kandung Andini adalah anakmu kan? Tolong, jangan berbuat seperti yang di lakukan Juna seperti tiga tahun yang lalu. Pikir! Jika aku digitukan."


Kenzo tetap menggeleng. "Aku nggak mau nikah sama Andini. Kehamilan Andini hanya sebuah kesalahan fatal, Vanes."


"KAK KENZO!" Bentak Vanes. "Hamil adalah anugrah dari Tuhan, kak! Jangan sebut kehamilan Andini sebuah kesalahan, karena yang di kandung Andini adalah anakmu juga!"


"Kamu adalah istriku, Vanes. Aku mana mungkin mau menikah. Menduakan kamu. Nggak akan pernah, Vanes." Kenzo kian makin lembut.


"Akkh.." Rintihnya kesakitan.


Kenzo langsung menghampiri Vanes. "Sayang? Ada apa sama perutmu?"


"Sa-sakit.."


"Aku bawa kamu ke rumah sakit."


***


"Kandungan ibu Vanes lemah. Saya sudah menyarankan jika ibu tidak boleh terlalu banyak aktivitas apalagi memikirkan hal yang terlalu berat." Kata dokter Mita. Yang selalu menangani Vanes.


Kenzo hanya mampu menganggukan kepalanya sambil menatap Vanes yang terbaring lemah.


"Saya permisi."


Kenzo kembali mengangguk. Banyak sekali masalah yang di hadapinya saat ini. Andini. Vanes. Masing-masing membuatnya stres karena masalah ini terlalu tinggi.


Kenzo tidak mau Vanes mengalami keguguran. Kehamilan ini sudah di tunggu-tunggu olehnya sejak lama. Ini adalah kehamilan Vanes yang pertama. Namun, Vanes harus ikut tertimpa masalahnya. Ini semua kesalahannya.


"Aku merasa tidak berguna bagimu, Vanessa."

__ADS_1


***


"Bangun, sayang. Sarapan."


Vanes sudah boleh pulang. Namun, sudah tak ada tanda-tanda keceriaan di wajahnya yang masih pucat.


"Tak ada senyum di pagi secerah ini?" Tanya Kenzo.


Vanes hanya melirik Kenzo.


"Aku tahu itu adalah kesalahanku, sayang. Tolong, maafkan aku. Ini salahku karena aku mabuk waktu itu." Kata Kenzo.


Vanes juga masih diam.


"Vanessa, tolong bicaralah kepadaku. Aku tidak bisa jika harus begini terus denganmu. Tolong! Maafkan aku." Kenzo memohon hingga berlutut di kaki Vanes.


Vanes terbelalak. Dia langsung menyuruh Kenzo untuk tidak berlutut lagi. Jika seperti ini, rasanya berat untuk pergi meninggalkan Kenzo.


"Jangan seperti itu, kak. Aku memaafkanmu." Putus Vanes.


Kenzo langsung memeluk tubuh Vanes. Hati Vanes langsung berdesir. Dia dapat merasakan keseriusan di hati Kenzo. Bagaimana pun juga, Kenzo itu adalah suaminya. Manusia tidak selalu benar. Wajar jika Kenzo membuat berbuat kesalahan. Dan Vanes sebagai orang yang di sakiti, harus bisa memaafkan. Jika Tuhan maha pemaaf, kenapa dia tidak?


"Tolong, selesaikan urusanmu sama Andini."


***


Di supermarket, Vanes tanpa sengaja bertemu dengan Selena. Selena memang cantik dan arogan, pantas jika Juna bersanding dengannya.


"Ei. Bocah." Panggil Selena.


Vanes menatapnya datar. "Aku bukan bocah."


"Whatever. Kebetulan bertemu denganmu disini. Aku hanya ingin mengingatkanmu jika jangan terlalu sering menggoda Juna suamiku." Kata Selena.


Tak terima dengan ucapan Selena, Vanes menjawab. "Aku bukan perempuan penggoda sepertimu! Juna lah yang selalu memintaku untuk bertemu."


"Beraninya kau!" Geram Selena. "Dengar bocah! Kau itu selalu membuat Juna lupa dengan keluargnya. Dengan aku dan anak kita berdua, Ketie."


Vanes tidak menahu tentang kehidupan Juna. Jika selama ini Selena dan Ketie merasa tak dihiraukan oleh Juna, itu bukan kesalahannya.


"Itu bukan kesalahanku! Bersikaplah tegas kepada suamimu Juna. Permisi!" Pamit Vanes. Dia tidak ingin marah-marah mengingat jika dia sedang hamil. Terlalu beresiko jika marah-marah.


Kak Kenzo. Aku begitu mencintaimu. Kamu memang selalu berada di sisiku selama ini. Sikap lembutmu juga selalu mengiringi sikap dewasamu. Tapi, kenapa sekarang berbeda. Kenapa ini terjadi kepadaku, kak. Hatiku sakit. Aku berharap, kita bisa hidup seperti dulu. Selalu bahagia. -Vanessa Angelica


***


Cast Kenzo dan Vanes.


•Kenzo Atranendra


__ADS_1


•Vanessa Angelica.



__ADS_2